MODUS BARU KORUPSI PARA PEJABAT DI KABUPATEN OKI


kantor bupati oki

Berlaku sejak tahun anggaran 2016 ini sistem per-korupsi-an yang berlaku di lingkungan pemerintah kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan dilakukan perubahan. Para kontraktor pemenang proyek terlebih dahulu wajib membayar setoran di muka, sebelum pekerjaan dimulai. Dan jumlah setorannya pun sudah dipatok 20 persen dari nilai proyek.

Padahal pada tahun-tahun lalu, pembayaran setoran uang jatah proyek dari kontraktor untuk Bupati yang dibayarkan melalui Kepala SKPD baru dibayarkan setelah pekerjaan tuntas, atau setidaknya setelah kontraktor menerima pembayaran per-termin. Kini kontraktor harus terlebih dahulu menyetor sebelum ia menerima uang muka bahkan ada yang sebelum tanda tangan kontrak. Hal ini berlaku di setiap SKPD di lingkungan Pemkab OKI.

Bagi kontraktor yang tidak sanggup membayar setoran 20 persen dimuka jangan harap akan kebagian paket proyek.
Kondisi pemberlakuan modus korupsi seperti ini jelas semakin menjadikan posisi kabupaten OKI sebagai kabupaten terdepan dalam bidang Korupsi di Sumatera Selatan.

Menurut seorang kontraktor yang menyampaikan masalah ini kepada Sumsel News Online, ia diminta menyetor senilai 20 persen dari nilai kontrak proyek jika ia ingin mendapatkan pekerjaan di pemkab OKI. Ia terpaksa cari pinjaman untuk menutup setoran tersebut.

“Tahun lalu masih bisa setor setelah proyek berjalan, tapi tahun ini tak bisa lagi, mesti cash langsung terlebih dahulu, baru kerja”, ujar sang Kontraktor yang tak bersedia ditulis namanya ini.

Ia menduga, aturan baru ini diterapkan semenjak adanya MoU antara SKPD-SKPD lingkungan Pemkab OKI dengan Kejaksaan Negeri. “Uang 20 persen itu katanya akan langsung dibagi-bagi sehingga ketika proyek berjalan tidak akan ada lagi pihak yang mengganggu mengusiknya”, tambahnya.

Istilah uang setoran proyek memang bukanlah hal yang baru berlaku di kabupaten ini, bahkan di Sumsel umumnya terjadi yang demikian. Keberanian para Kepala SKPD mematok setoran 20 persen didasari oleh nilai proyek yang angkanya sudah digelembungkan terlebih dahulu saat penganggaran.

“Walau kontraktor mesti setor 20 persen tapi dijamin kontraktor itu masih akan untung, tidak akan rugi”, ujar seorang staf di kantor Disnakertrans saat dipancing-pancing oleh wartawan. “Uang 20 persen merupakan uang jatah Bupati yang sengaja disisipkan dalam nilai proyek, jadi bukan ngambil uang proyek”, tambahnya lagi.

Perang Terhadap Korupsi Hanya Jadi Slogan Belaka
Perubahan sistem setoran baru menjadi pembayaran dimuka pada setiap paket proyek adalah jelas dan nyata jika praktek korupsi di kabupaten ini tiap tahun bukan menurun, melainkan semakin meningkat, semakin canggih, semakin terstruktur dan masip. Pejabat pemerintah daerah yang semestinya berdiri paling depan dalam perang terhadap korupsi justru ia paling duluan melakukan dan mengembangkan korupsi. Oleh karena itu Perang Terhadap Korupsi hanyalah jadi slogan belaka. Korupsi semakin merajalela.

Kejaksaan Negeri yang semestinya menjadi pilar utama pemberantasan korupsi justru tidak berdaya setelah diikat oleh jerat MoU. Para koruptor akan semakin leluasa mengeruk uang rakyat. Bahkan info terakhir yang beredar dipedesaan, para kepala desa pun terpaksa harus menyisihkan sebagian uang dari Dana Desa yang diterima setahun sekali, untuk setoran tak resmi kepada pejabat di Pemkab OKI. Konon dari uang setoran itulah disisihkan juga jatah pengamanan agar tak tersandung kasus korupsi kelak.
Ironis sekali.

Iklan

2 comments on “MODUS BARU KORUPSI PARA PEJABAT DI KABUPATEN OKI

  1. Opininya bagus dan mungkin ini bukan rahasia umum lagi.
    Saya jadi teringat istilah orang atheis “2 tangan yang berkerja lebih baik dari pada 1000 tangan yang berdoa”.
    Apa hubungannya dengan istilah orang atheis tersebut ?
    Artinya, daripada hanya membuat tulisan di wordpress lebih baik anda menginvestigasi secara langsung dan membuktikan. Kumpulkan semua bukti dan kirim ke KPK. Mungkin opini anda ini bisa menjadi fakta. Kalau tidak ada bukti tulisan anda ini hanya sebatas OPINI.

    Please think out the box, jangan hanya menjadi wartawan secara umum saja. Umumnya wartawan hanya mengungkap opini saja jika hanya melalui karya tulis di wordpress atau blog. Dari sinipun terlihat kredibilitas anda.

    Dan anehnya lagi, juga bukan rahasia umum lagi. LSM, wartawan dll. Jika diberi secercah rupiah oleh pihak yang bersangkutan makan opini atau fakta itupun lenyap seketika.
    Don’t judge the book by its cover. Look inside who you are on deep inside a mirror.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s