ADA APA DIBALIK AMBISI SUMSEL JADI TUAN RUMAH ASIAN GAMES 2018 ?


asian games 2
Provinsi Sumatera Selatan kini menjadi satu-satunya provinsi yang paling aktif menguber ambisi besar menjadi tuan rumah pelaksaan Asian Games Tahun 2018 mendatang. Sedangkan DKI Jakarta sendiri saat ini mulai mengendor pasca ditolaknya rencana hibah lahan dari pemerintah pusat kepada pemerintah DKI untuk dibangunkan Wisma Atlet. Bahkan Gubernur DKI, Ahok, telah menyatakan tidak perduli jika Asian Game tidak dilaksanakan di Jakarta.
“Kita tak peduli jika Asian Games batal dilaksanakan di Jakarta”, ungkap Ahok sebagaimana dikutif berbagai media pekan lalu.
Dengan kondisi DKI seperti ini tentu saja semakin memberikan dorongan yang lebih besar bagi Sumsel untuk bisa memusatkan semua kegiatan Asian Game di Palembang, tidak perlu berbagi dengan provinsi lain.
Namun dibalik keinginan yang sangat ambisiaus tersebut beberapa pihak menduga jika hal itu pasti “ada udang di balik batu” nya, tidak sekedar sesederhana yang digembor-gemborkan selama ini.
Kegiatan-kegiatan perlombaan berbagai jenis cabang olah raga yang bersifat akbar, mulai dari PON, Seagames, ISG, hingga sekelas Asian Games tentu saja tidak terlepas dari jumlah uang yang sangat banyak untuk dibelanjakan sebagai biaya pelaksanaan. Uang tersebut tentu saja diperas dari kantong kas negara, baik APBN maupun APBD. Sedangkan uang yang bisa dikumpulkan dari sponsor jumlahnya tidaklah banyak, karena Sumsel sendiri tidak memiliki orang yang mampu mengumpulkan dana dari sponsor secara maksimal. Lihat saja pada pelaksanaan PON XVI tahun 2004 lalu yang tak satupun sponsor sukarela mendukung kegiatan tersebut. Yang ada saat itu hanyalah sponsorship dari perusahaan BUMN dan BUMD yang “ditekan” untuk membantu.
Demikian juga saat Seagames dan Islamic Solidarity Games (ISG) beberapa tahun yang lalu. Sponsor tidak memberi dukungan yang signifikan, sedangkan keuangan utama hanya mengandalkan uang negara.
Tujuan yang sejak pelaksanaan PON 2004 hingga Asian Games yang kini sedang dikejar, tak lain adalah Tiga Sukses. Yaitu Sukses Prestasi, Sukses Pelaksanaan dan Sukses Pemberdayaan Ekonomi masyarakat. Namun kenyataannya tujuan yang dijadikan target tersebut tidaklah tercapai secara nyata. Terutama dalam Sukses Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, tak begitu jelas seperti apa kriteria sukses yang dimaksud dalam bidang tersebut.
Beberapa pihak justru menilai jika even-even olah raga seperti itu diduga dijadikan kesempatan pihak-pihak tertentu untuk mengeruk keuntungan pribadi belaka.
Lihat saja pada kegiatan PON XVI 2004 lalu yang justru menyisakan utang sebesar 30 Milyar dan itu dijejalkan oleh Gubernur menjadi beban APBD Sumsel di tahun selanjutnya sebagai Utang Daerah yang proses dan prosedurnya tidak sesuai dengan aturan main penerapan status Utang Daerah.
Demikian juga pasca ISG tahun 2013 lalu. Hasil pemeriksaan BPK merekomendasikan pihak penyelenggara untuk mengembalikan Uang APBN sekitar Rp.100 Milyar lebih karena dianggap kelebihan. Walau hingga kini belum ada kejelasan mengenai upaya pengembalian uang sebanyak itu, dan siapa yang mesti paling bertanggung jawab dalam masalah itu.
Kini Sumsel kembali berambisi untuk menyelenggarakan even yang lebih besar lagi : Asian Games 2018 ! Dan sudah dapat ditebak apa yang menjadi latar belakang munculnya ambisi besar tersebut. Hal itu tak terlepas dari “Aman”nya pelaksanaan kegiatan-kegiatan besar sebelumnya, yang tidak(belum) dibuat jera oleh KPK karena kasus korupsi.
Asian Games 1
DUKUNGAN MASYARAKAT
Berbagai upaya mulai gencar dilakukan Pemprov Sumsel untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat. Hanya saja respon masyarakat saat ini sangat berbeda saat menjelang PON 2004 atau Sea Games 2011. Kini masyarakat Sumsel lebih banyak yang acuh tak acuh dan perduli ada atau tidak acara Asian Games tersebut. Bahkan tak sedikit yang mulai antipati. Hal ini dikarenakan penilaian masyarakat dari beberapa pengalaman jadi tuan rumah even besar olah raga tidaklah memberi dampak yang berarti bagi kehidupan masyarakat, terutama untuk meningkatkan ekonomi masyarakat secara umum. Kalaupun ada itu hanya dirasakan segelintir orang tertentu saja.
Apalagi bagi daerah kabupaten dan kota di luar Palembang, kegiatan sekelas Asian Games ini hanyalah sekedar memunculkan perasaan ketidak adilan saja, karena segala potensi dan pembangunan yang dibiayai uang negara yang sangat besar ini hanya berpusat di kota Palembang.
“Sepatutnya kegiatan Asian Games ini bukan jadi beban dan pekerjaan Sumatera Selatan, melainkan kegiatan yang sepenuhnya dikelola Kota Palembang saja”, ujar Cik, salah seorang anggota wakil rakyat di kabupaten Muba.
Menurutnya, itu pantasnya urusan Walikota Palembang saja, bukankah kota Palembang mengaku sebagai kota Metropolitan yang berkelas dunia?
Sedangkan jika ini jadi urusan Gubernur dan Pemprov Sumsel, ya seharusnya tak hanya dipusatkan di Palembang, tapi bisa dibagi kepada 17 kabupaten kota yang ada. Tapi mungkinkah itu?
“Jika itu tidak mungkin, ya sudahlah, untuk apa susah payah dan menghabiskan uang rakyat kalau sekedar untuk mengejar gengsi semata”, tambahnya. Apa yang akan didapat oleh masyarakat di luar kota Palembang dari adanya Asian Games ini? “Omong kosong saja!!”

asian games

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s