Proyek pekerjaan normalisasi sungai-sungai yang ada di areal situs Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS) Karanganyar Gandus Palembang tahun 2014 lalu yang kini telah dianggap 100 pesen selesai ternyata di lapangan masih menyisakan beberapa bagian pekerjaan yang belum tuntas. Di beberapa titik tumpukan tanaman eceng gondok masih menutupi permukaan sungai. Demikian juga dengan tanah hasil pengerukan yang bertumpuk masih belum terangkat sehingga terkesan berantakan.

136

Menurut beberapa warga yang sering lalu lalang di kawasan ini, pengerukan lumpur sungai dan pembersihan eceng gondok yang dilakukan oleh kontraktor sangat jauh dari sempurna. Lumpur yang dikeruk volumenya sangat sedikit dan diyakini tidak akan mencapai jumlah sesuai volume yang ditetapkan dalam RKS dan RAB proyek.

“Lihat saja pak, lumpur yang diambil hanyalah lumpur yang ada di bagian atasnya saja, mereka sekedar mengangkat eceng gondok dan sedikit lumpur dan itupun masih belum bersih”, ungkap Aswar kepada Sumsel News Online.

Kontraktor yang bekerja menggunakan beberapa unit alat berat berupa eksavator jenis longarm itu tidak bekerja full sesuai waktu pelaksanaan di dalam kontrak . Eksavator hanya bekerja beberapa hari saja, sedangkan ponton yang juga harus ada di lapangan hanya muncul beberapa hari saja. “Yang lama cuma proses memindahkan, menurunkan dan menaikan ponton saja yang lama pak”, ujar Aswar.

Di areal pekerjaan normalisasi sungai kawasan TPKS, kontraktor nampaknya sengaja berupaya menutupi kegiatannya agar tak dipantau masyarakat. Sejak awal di lokasi ini kontraktor tidak mau memasangkan papan nama yang merupakan keharusan sesuai aturan agar masyarakat mengetahui dengan jelas tentang detil pekerjaan proyek tersebut.Akibatnya warga tidak tahu siapa kontraktor yang mengerjakan, berapa jumlah dananya, dari mana sumber dananya, lama pekerjaan, hingga instansi mana yang bertanggungjawab atas pelaksanaan pekerjaan tersebut.

Beredar kabar jika pekerjaan normalisasi sungai di kawasan TPKS ini terjadi tumpang tinding pekerjaan. Di duga di lokasi yang sama ini terdapat beberapa paket pekerjaan yang sama dengan sumber dana dan instansi yang berbeda.

“Informasinya proyek disitu ada yang didanai APBD Provinsi dan ada juga yang didanai APBD Kota Palembang, dan dari dana APBD provinsi Sumsel yang dikelola Dinas PU Pengairan pun terdapat beberapa paket disana dan semuanya tidak jelas batas-batasnya. Diduga ada pekerjaan yang fikitif!, ujar salah seorang sumber kepada Sumsel News Online yang mengaku ikut memantau sejak awal pekerjaan.

Advertisements