Kekuasaan kerap kali membuat seseorang terlena dan terjebak dalam tindakan menghalalkan segala macam cara. Apalagi jika untuk mendapatkan kekuasaan tersebut sebelumnya harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, maka alasan pengembalian modal menjadi salah satu trik jitu untuk mengeruk keuntungan untuk kepentingan pribadi.

Proyek Besar
Proyek Jalan Talang Keramat yang dikerjakan oleh kroni kekuasaan.

Hal ini memang lumrah dan telah menjadi sesuatu yang biasa terjadi dalam praktek kekuasaan di negeri ini. Bahkan ketika seorang penguasa yang adil dan bijaksanapun bisa saja rusak oleh mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk mencari keuntungan. Mereka para kroni yang bisa berbuat lebih keji dan tak bermoral.

Tanda-tanda kearah sana sudah sangat terlihat terjadi dalam lingkaran kekuasaan di Sumatera Selatan. Gubernur Sumsel H.Alex Noerdin yang selama ini dikenal sebagai sosok yang santun, bijaksana dan berpihak kepada rakyat, kini mulai dirusak citranya oleh mereka para kroni kekuasaan yang banyak bermain untuk mencari keuntungan. Para kroni ini banyak menguasai pengucuran proyek-proyek pembangunan yang identik dengan uang banyak.

Hal ini sebagaimana yang diakui oleh HR seorang Kontraktor yang biasa menjadi rekanan dibeberapa dinas kepada Wartawan saat ditemui di kantor Asosiasi Pengusaha Kontrusi Indonesia (ASPEKINDO) Sumsel, di jalan Amphibi Sekip Ujung palembang.

Menurut HR, kroni-kroni Gubernur telah membabat habis semua proyek di setiap dinas dan instansi pemerintah di Sumsel. Mereka adalah anak-anak, ipar, saudara dan keluarga Gubernur serta mereka yang mengatasnamakan Tim Sukses ketika Pilgub lalu. Mereka mengkapling proyek-proyek untuk keuntungan pribadi mereka.

“Bahkan kami pun terpaksa harus mengemis dulu kepada mereka jika ingin memperoleh paket pekerjaan. Kalau tidak, maka jangan harap bisa dapat”, ujar kontraktor senior tersebut.

HR menambahkan, seluruh paket proyek PU dibelakangnya ada nama anak-anak dan adik ipar Gubernur. Padahal disana terdapat proyek-proyek dengan nilai rupiah yang sangat besar. Sedangkan di dinas-dinas lain selalu saja ada nama kroni kekuasaan dibalik pengucuran sebuah proyek. Ada dari keluarga, Tim Sukses, pengurus partai berkuasa, hingga organisasi kemasyarakatan yang dekat dengan kekuasaan.

“Bahkan anak gubernur yang perempuan pun banyak ikut bermain dalam berbagai kegiatan yang didanai uang negara”, ujarnya.

Hampir setiap even acara diserahkan kepada Even Organizer (EO) sebagai penyelenggara dan anak gubernur inilah yang menjadi EO nya,” tambah HR lagi.

Jika hal seperti ini terus terjadi ditahun baerikutnya dikhawatirkan citra Gubernur Alex Noerdin akan tercoreng. Padahal selama Alex Noerdin menjadi Bupati Muba dulu, keterlibatan Kroni dalam pengucuran proyek nyaris tidak ada.

“Saya yakin kalau pak Alex Noerdin orangnya bagus. Ia tidak mungkin mau melibatkan kroni dalam kekuasaannya. Tapi ini nampaknya murni inisiatif para kroni yang kerap menjual nama Gubernur untuk mendapatkan keinginannya”, tambahnya. Oleh karena itu demi menjaga nama baiknya seharusnya Gubernur segera memberikan tindakan tegas dan antisifasi agar orang-orang yang ada disekitarnya tidak itut-ikutan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

Nah ggimana pak, semoga ini menjadi masukan yang berharga.

Advertisements