SELAMAT DATANG HERRY AMALINDO !


Sumatera Selatan adalah propinsi yang memiliki ruas jalan yang sangat panjang dan vital, selain itu banyak juga jembatan yang telah berusia tua. Perlu keseriusan untuk menangani permasalahan ini agar tidak terus berlarut.

Dinas PU Bina marga Sumsel adalah instansi yang bertanggung jawab dalam mengelola pembangunan dan pemeliharaan ruas-ruas jalanndan jembatan disini. Namun selama ini kinerja lembaga tersebut masih belum optimal. Disana-sini masih banyak kita temukan jalan yang rusak dan berlubang. Kasus jembatan ambruk juga kerap kita dengar dalam beberapa tahun terakhir.
Pengangkatan Herry Amalindo menjadi Kepala Dinas PU Bina Marga Sumsel merupakan angin segar atas besarnya harapan adanya perbaikan kinerja PU Bina Marga Sumsel sehingga pembangunan, pemeliharaan dan perawatan ruas jalan yang ada di Sumsel benar-benar maksimal. Tak ada lagi kondisi jalan yang parah dan sulit dilalui kendaraan. Tak perlu terjadi lagi diskriminasi pembangunan jalan yang mengakibatkan adanya jalan yang sama sekali tak tersentuh perbaikan.
Proyek-proyek pembangunan jalan yang selama ini hanya dijadikan ladang untuk mengeruk keuntungan pribadi, diharapkan tidak terjadi lagi.
Herry Amalindo memang sosok yang sangat tepat untuk menduduki jabatan yang strategis tersebut. Ia punya pengalaman bagus selama menjabat Kepala Dinas PU Bina Marga Muba di Sekayu. Kinerjanya yang serba cepat menjadikan ia sebagai pejabat yang diandalkan Gubernur Alex Noerdin untuk mengurusi masalah jalan dan jembatan di sumsel yang selama ini tidak pernah tuntas.
Ada satu hal yang sangat disayangkan terjadi dan menimpa Kepala Dinas yang terbilang masih muda ini. Di hari pelantikannya, yang mestinya menjadi hari istimewa dalam hidupnya, ternyata ia mesti menerima perlakuan pahit dan menyakitkan. Ia dipukul oleh seorang stafnya tanpa tahu pasti apa alasannya.
Seharusnya, hari pelantikan adalah yang berkesan dan menyenangkan bagi seorang pegawai negeri. Dengan pelantikan berarti kenaikan pangkat dan jabatan yang sekaligus juga kenaikan penghasilan. Yang lebih membanggakan lagi, karena pelantikan identik dengan kepercayaan dari atasan terhadap kinerja seorang PNS, maka pelantikan biasanya menjadi peristiwa yang luar biasa. Ucapan selamat dan jabat tangan mengalir dari keluarga, sahabat dan para kolega.
Namun hal itu tak dirasakan sepenuhnya oleh Ir.Hery Amalindo, mantan Kepala Dinas PU Musibanyuasin yang diboyong Gubernur Alex Noerdin dari Sekayu ke pemprop Sumsel untuk mengisi jabatan Kepala Dinas PU Bina Marga Sumsel menggantikan Ir.Eddy Hermanto. Padahal Eddy Hermanto pun baru beberapa bulan menggantikan Dharna Dahlan yang menghabiskan “hidupnya” di Dinas yang paling “basah” ini menjadi “Mesin Pencari Uang” Syahrial Oesman.
Justru peristiwa pahit yang menyakitkan yang diterima Hery Amalindo sebagai ucapan Selamat Datang di Pemprop Sumsel terutama di Bina Marga Propinsi. Ucapan selamat dimaksud bukanlah kiriman karangan bunga atau kartu ucapan selamat, melainkan sebuah pukulan telak dan keras diwajah Hery dari seorang PNS yang bakal menjadi “anak buahnya” di PU Bina Marga Sumsel.
Tak urung, pukulan Ir.Sulkani,MSC, staf Dinas PU Bina Marga tersebut, membuat bibir Kepala Dinas baru itu sedikit pecah berdarah. Hery pun sempat terjengkang ke dinding ketika pukulan satu kali itu mendarat.
Pemukulan yang terjadi seusai keduanya menghadap Wagub Sumsel itu merupakan peristiwa yang tak mungkin terlupakan dalam ingatan Kepala Dinas itu. Hery pun memilih memenjarakan Sulkani ke Polda Sumsel karena merasa belum puas terhadap tindakan Sulkani, walaupun usai pemukulan itu Sulkani pun sempat beberapa kali kena pukulan keras Rudi, ajudan Hery Amalindo yang saat itu ikut bersama bosnya.
Kini Hery telah mencabut tuntutannya dan memilih berdamai. Ini diduga tak lepas dari peran Alex Noerdin yang meminta agar masalah itu tak perlu diperpanjang lagi dan segera diselesaikan secara baik-naik.
Permasalahan pemukulan yang terjadi di ruang staf Wagub ini sebenarnya tak ada hubungan sama sekali dengan Wagub. Keduanya sama-sama PNS di Bina Marga Sumsel yang baru usai menghadap. Hanya kejadiannya saja yang kebetulan terjadi disitu.
Sedangkan pemicu terjadinya kasus tersebut adalah hanya sekedar kesalahpahaman saja.
Hery Amalindo maupun Sulkani adalah sama-sama PNS yang dimasa menjelang Pilkada keduanya sama-sama ikut berjuang memenangkan Alex Noerdin menjadi Gubernur Sumsel. Walaupun berada di Sekayu, Hery adalah salah satu Tokoh Utama dibalik kemenangan Alex Noerdin. Ia bertanggungjawab untuk wilayah kota Palembang.
Sedangkan Sulkani juga termasuk seorang PNS Dinas PU Bina Marga Sumsel yang memilih “melawan arus” mendukung Alex Noerdin dalam Pilkada.
Tak mudah bagi Sulkani memilih sikap tersebut. Resiko tak dapat jabatan pun ia telan sendiri sebagai seorang pembangkang terhadap atasan yang berbeda pilihan politik.
Dinas PU Bina Marga Sumsel di masa Gubernur Syahrial Oesman dijadikan barisan kekuatan pendukung utama untuk kemenangan SOHE. Sama seperti dinas-dinas lainnya waktu itu, semua pejabat dan pegawainya satu kata mendukung dan berjuang untuk memenangkan SOHE. Sedangkan bagi yang berani menentang harus siap untuk tak dapat Job alias bangku panjang.
Di Dinas PU Bina Marga saat itu, orang yang berani menentang arus tidaklah banyak, cuma sekitar 3 orang saja, dan salah satunya adalah Sulkani. Ia memilih bergabung dengan tim Alex Noerdin berjuang semampu dia.
Ketika Alex Noerdin – Eddy Yusuf terpilih dan dinyatakan sebagai pemenang Pilkada, jasa Sulkani digunakan Eddy Yusuf, Wagub terpilih, sebagai orang penghubung antara Eddy Yusuf dengan Alex Noerdin. Selain itu, sebagai PNS yang bekerja di lingkungan pemprop Sumsel, Sulkani tahu betul siapa saja PNS yang sama-sama ikut berjuang untuk Alex dan siapa yang berpihak ke lawan. Sulkani juga banyak memberi masukan tentang kondisi pemprop Sumsel yang telah lama ditinggalkan Alex Noerdin dan Eddy Yusuf.
Kapasitas Sulkani sendiri masih tergolong PNS biasa. Ia termasuk pejabat Eselon III, dan sebelumnya ia pernah menjabat Kabag disana.
Sedangkan Hery Amalindo sendiri walaupun masih tergolong muda, ia termasuk pejabat Eselon II yang sudah tepat menempati jabatan Kepala Dinas. Jadi isu yang menyebutkan pemukulan itu karena rebutan jabatan tidaklah benar, sebab bagaimanapun Sulkani tidak pernah berfikir ke jabatan itu. Sulkani jelas sangat setuju jika yang jadi Kepala Dinasnya adalah Herry Amalindo.
Menurut Sulkani, ia sudah lama kenal Herry Amalindo. bahkan saat berangkat haji beberapa tahun lalu ia sempat tinggal dalam satu kamar pemondokan di Arab Saudi. Sedangkan masalah usia, Sulkani jelas lebih tua dibanding Herry.
Di lingkungan Dinas PU Bina Marga sumsel, nama Sulkani sudah sangat dikenal. Bahkan dikalangan wartawan yang suka meliput di Bina marga, Sulkani dikenal sebagai orang yang supel, loyal dan mudah bergaul dengan siapa saja. Maka ketika ada informasi ia ditahan Polda karena dugaan pemukulan terhadap Kepala Dinasnya, banyak pihak yang kurang percaya.
Harapan Sulkani dengan kemenangan Alex adalah semoga orang-orang yang dulu ikut berjuang mendukung Alex dapat memperoleh tempat yang tepat. Ia ingin 3 orang PNS di Bina Marga yang sama-sama berjuang bisa diajak-ajak. Namun ketika pelantikan Kepala Dinas dan Eselon III, justru tak satupun pihaknya yang masuk, melainkan orang-orang lama yang notabene adalah “orang-orang berlumur dosa” karena mereka murni pendukung SOHE. Karena itulah Sulkani menanyakannya kepada Herry Amalindo.
Sayang, sikap emosional tak bisa dikendalikan Sulkani saat menerima ucapan Herry yang agak arogan, sehingga pemukulan itu terjadi.

Selamat Datang
Terlepas dari kasus pemukulan itu, kejadian ini menjadi cermin yang sesungguhnya tentang Dinas PU Bina Marga Sumsel yang akan menjadi tantangan bagi Herry Amalindo dalam memimpin kedepan.
Dinas PU Bina Marga selama ini dijadikan Gubernur sebagai dapur Gubernur Syahrial Oesman. Proyek-proyek pembangunan yang dikelola disana nilainya sampai ratusan milyar rupiah dan menghasilkan keuntungan besar bagi Gubernur. Dinas PU Bina Marga dikenal sebagai dinas yang paling “basah”.
Karena banyaknya uang disana maka berbagai pihakpun banyak yang coba-coba ikut “bermain”. Preman-preman Palembang telah menjadikan dinas ini sebagai sumber penghasilan tetap mereka. Proyek-proyek dikucurkan selalu tidak terlepas dari keberadaan preman dibelakangnya. Mereka memang telah lama “dipelihara” disana untuk “mengamankan” proyek-proyek yang umumnya bermasalah.
Tekad Alex Noerdin membersihkan lingkungan kerjanya dari preman memang sudah tak bisa ditawar-tawar lagi, dan Dinas PU Bina Marga adalah salah satu yang jadi sasarannya.
Herry Amalindo yang ditugaskan mengurus Dinas tersebut jelas harus memiliki keberanian extra untuk mengatasi masalah tersebut.
Herry Amalindo memang masih terbilang “buta” dengan lingkungannya yang baru ini. Riwayat karir PNS nya, Herry tidak pernah bertugas di Dinas PU Bina Marga Sumsel. Ia murni di Musi Banyuasin. Oleh karena itu ia tidak banyak mengetahui siapa saja orang yang tepat untuk diajak bergabung di dalam timnya. Ia juga tidak mengerti persoalan apa saja yang terjadi dilingkungan ini.
Menurut informasi seorang sumber, penempatan pejabat eselon III pada jabatan strategis di Bina Marga tidak lepas dari peran Darwin, mantan Kepala UPTD Sekayu. Dialah yang diduga memberikan banyak masukan kepada Herry tentang kondisi Bina Marga.
Masih menurut sumber, Darwin sendiri adalah murni pendukung SOHE, sama dengan pejabat sekelas dia lainnya di Bina Marga sumsel.
Cuma di masa Gubernur Mahyudin, ia dimutasi menjadi Kepala UPTD PU di Sekayu. Disanalah ia melakukan pendekatan ke Alex Noerdin.
“Tapi itu baru sekitar 3 bulan sebelum Pilkada”, ujar sumber yang tak bersedia disebut namanya.
Kendati merapat ke Alex Noerdin, sesungguhnya masih tetap pendukung SOHE.
“Ia itu dua kaki, siapa yang menang pasti ikut”, ujar sumber yang mengaku sangat tahu hal itu.
Ketika Alex menang ia langsung terang-terangan mendukung dan menyatakan bahwa ia adalah pendukung Alex yang berjuang dan pernah terbuang ke Sekayu karena perjuangannya.
“Dialah yang memberi masukan pada Hery Amalindo dan Alex Noerdin tentang Dinas PU Bina Marga Sumsel”, tambah sumber tadi.
Ada juga isu yang berkembang jika penempatan para pejabat di lingkungan Dinas PU Bina Marga ini tak lepas dari adanya “politik uang”. Sebuah jabatan, katanya, ada standar harga rupiah yang harus dipenuhi, agar bisa duduk.

Pengamanan Berlebihan
Semenjak resmi menjabat Kepala Dinas PU Bina Marga Sumsel, Herry Amalindo langsung bekerja dan menggelar rapat internal dengan seluruh kasubdin dan pimpro. Nampaknya Herry tidak mau santai-santai mengemban amanah yang dipercayakan Gubernur kepadanya.
Pengalaman mendapat pemukulan saat usai pelantikan lalu menyebabkan ia bersikap hati-hati dan protektif. Untuk pengamanan kantornya ia menempatkan 3 orang pengawal yang berlatar belakang militer. Padahal hal ini tidak dibenarkan aturan. Militer tidak diperbolehkan lagi dilibatkan dalam pengamanan pribadi warga sipil.
Untuk bertemu dengan Kepala Dinas saat ini, tamu akan berurusan dulu dengan ketiga pengawal tersebut yang akan menanyakan apa keperluannya. Jika sekedar silaturahmi, jangan harap bisa masuk. tapi entah jika ternyata kontraktor yang akan bersilaturahmi.
Kini Herry Amalindo telah dilantik dan semestinya semua pihak mendukung sepenuhnya. Kemampuan Herry dibidang ini tidak perlu diragukan lagi. Ia memang sangat tepat memimpin instansi ini. Ruas jalan Sumsel yang sangat banyak memerlukan perhatian ekstra keras, dan Herry memiliki keahlian itu.
Namun, Bina Marga Sumsel tetap saja berbeda dengan Dinas PU Muba. Masalah yang dihadapi pun jelas beda dan lebih komplek. Buktinya, baru disinilah Herry mengalami peristiwa yang sangat menyakitkan itu: Pemukulan!
Herry disamping harus mampu menunjukan kemampuan profesionalnya, ia juga dituntut untuk lebih bersikap arif dan bijaksana. Bekerja bersama orang-orang yang pernah menjadi “musuh” memang agak sulit dan kurang nyaman. Namun itulah kenyataan yang harus ia taklukan.
Herry pasti bisa ! Selamat!

Iklan

3 comments on “SELAMAT DATANG HERRY AMALINDO !

  1. hati2 dalam memimpin jagalah kenyaman dikantor,diharapkan tidak menumpukan pengawal dong,sebab sekarang ini tidak perlu pengawal yang kayak duluh,tinggal pembawaan kita jika kita menghormati orang,pasti kita dihormati,kalau mengunakan pengawal berarti kurang percaya dengan dirinya sendiri.

  2. saya rasa ini sesiuatu yang tidak perlu di postkan karna kita semua sudah dewasa dan saya harap anda bisa lebih dewasa jika anda bukan tuhan maka jangan lah membuat suatu opini anda sendiri dan menyatakan itu benar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s