Tiga hari sudah Stasiun Kereta Api khusus untuk transportasi Mahasiswa Unsri diresmikan. Namun suasana hiruk pikuk mahasiswa yang pulang pergi naik kereta dengan ongkos subsidi Pemprop Sumsel tersebut tak nampak mencolok. Mahasiswa yang memilih menggunakan sarana transfortasi massal itu terbilang sedikit. Kereta nampak kosong hilir mudik Palembang – Inderalaya.

asa

Kurang antusiasnya mahasiswa menggunakan Kereta Api bantuan itu diduga terkait akses jalan penghubung dari kampus ke lokasi stasiun yang cukup jauh dan kurang bagus. Mahasiswa enggan menuju stasiun karena tak ada transportasi khusus ke sana dan akses jalan khusus yang lebih cepat tak ada. Sedangkan jika mereka menggunakan bus mahasiswa yang ada, mereka cukup naik dari dalam kampus langsung karena bus-bus tersebut masuk ke lingkungan kampus. Demikian juga angkot.Kendaraan itu siap mengantar mahasiswa hingga ke lokasi asrama mahasiswa yang letaknya paling dalam sekalipun. Sedangkan jika naik kereta, uh repotnya.

Untuk menyediakan akses Kereta Api bagi mahasiswa ini bukanlah merupakan pekerjaan yang serampangan. Sekurang-kurangnya pemerintah pusat melalui APBN menganggarkan dana Rp.60 Milyar untuk membuat jalur kereta api khusus menuju kampus Unsri Inderalaya. Sedangkan pemerintah propinsi Sumatera Selatan sendiri mengeluarkan dana sekitar Rp.18 Milyar untuk membangun Stasiun yang megah dengan berbagai fasilitasnya serta sebuah jembatan penyebrangan yang cukup refresentatif.

Namun yang sama sekali tidak terlibat membantu mahasiswa dalam program Kereta Api ini adalah Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir yang menjadi lokasi kampus Unsri sendiri. Bahkan hingga saat acara peresmian pun Bupati dan Wakil Bupatinya tak menampakan batang hidungnya. Pemkab Ogan Ilir terkesan tidak peduli dengan kondisi mahasiswa Unsri yang selama bertahun-tahun mengeluhkan soal transportasi.

“Pemkab OI memang acuh tak acuh terhadap nasib kami”, ujar Burhanuddin seorang mahasiswa Unsri mengungkapkan.

Menurut Burhan, seharusnya Pemkab OI peduli dan membantu membangunkan akses jalan menuju kampus dari stasiun tersebut. “Pemerintah pusat membantu kami dengan membangunkan jalur kereta api menuju Indralaya. Pemprop Sumsel membangun Stasiun dan jembatan penyebrangan. Sedangkan Ogan Ilir apa?” ujar Burhan balik bertanya.

Oleh karena itu agar fasilitas tang telah dibangun pemerintah pusat dan pemprop Sumsel benar-benar bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh para mahasiswa maka diharapkan pemerintah kabupaten Ogan Ilir sebagai tuan rumah mau membantu juga mengulurkan tangan.

“Ya, tolong bangun jalan akses tersebut, jangan membiarkan kami begini”, ujar mahasiswa tadi.

Sikap diam Pemkab Ogan Ilir yang tak mau mengulurkan tangan berbagi tugas membantu mahasiswa Unsri ini diduga tak terlepas dari kepentingan politik menjelang Pilkada. Bupati Ogan Ilir, Mawardi Yahya, yang juga Ketua DPD Golkar setempat tidak mendukung program tersebut karena kesuksesan program tersebut dinilai hanya akan menguntungkan kekuatan lawan politiknya.

“Ia takut sama Alex Noerdin pak”, ungkap seorang mahasiswa asal Indralaya.

Terlepas masalah ada tidaknya muatan politik dibalik pembangunan fasilitas Kereta Api mahasiswa ini yang jelas saat ini mahasiswa membutuhkan sarana angkutan tersebut. Dan ternyata kebutuhan tersebut masih belum selesai sampai disitu karena akses jalan dari dalam kampus menuju stasiun belum ada alternatif yang lebih baik. Pemerintah diharapkan membangun akses jalan tersebut secepatnya. Dan pemkab Ogan Ilir sebagai daerah pribumi mestinya memikirkan masalah tersebut dan melupakan urusan politik dulu dalam sejenak. Kepentingan mahasiswa harus didahulukan.

Benar ‘kan?

Advertisements