Baliho besar, gambar-gambar, spanduk, dan poster calon walikota yang bertebaran disetiap penjuru Kota Palembang saat ini dalam waktu dekat akan segera sirna. Jika Peraturan Walikota No.58 Tahun 2007 diterapkan maka gambar yang bisa tetap bertahan hanyalah gambar Eddy Santana dengan Gambar Syahrial Oesman saja. Sedangkan gambar calon lain dipastikan sirna secara paksa.

Upaya untuk mencegah persaingan politik melalui pemasangan baliho, gambar-gambar dan spanduk dari calon walikota, terutama yang dianggap saingan Eddy Santana dan Syahrial Oesman nampaknya terus dilakukan.

Dalam Peraturan Walikota tersebut justru diperbolehkan pemasangan iklan layanan masyarakat, iklan sosialisasi pembangunan yang memasang gambar Walikota atau Gubernur sebagai Foto Model-nya. Dengan demikian baliho, spanduk dan gambar-gambar EddySantana atau Syahrial Oesman masih bisa dipertahankan. Walau gambar Eddy Santana yang didampingi Romi Herton tetap harus dibuang.

Yang menjadi perdebatan dari rencana pemberlakuan peraturan tersebut adalah adanya Perda No.8 Tahun 2004 tentang Pembinaan dan Retribusi Penyelenggaraan Reklame. Dalam Perda tersebut sudah ditegaskan jika lokasi Cagar Budaya tidak boleh digunakan untuk pemasangan reklame.

Jembatan Ampera yang sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya justru dihiasi reklame kampanye Eddy Santana dan Syahrial Oesman. Banyak pihak meminta agar baliho yang merusak keindahan itu segera dilepas, namun Walikota bersikeras untuk mempertahankannya.

“Peraturan Walikota tersebut berarti bertentangan dengan Perda, berarti secara hukum harus batal”, ujar seorang pengamat hukum di Palembang.

Nanti, sepuratan kota ini akan hanya ada Gambar Eddy Santana dan Syahrial Oesman saja. Apa masyarakat tidak akan bosen melihat gambar mereka ya?