Apa sih Enaknya Jadi Gubernur, Walikota atau Bupati ?


Tiap kegiatan pemilihan kepala daerah selalu saja diramaikan oleh bermacam-macam polah para calon yang demikian ambisi untuk merebut kekuasaan. Ada yang berani mengorbankan harta sebanyak-banyaknya. Ada yang tahan kasak-kusuk ke daerah untuk mengemis minta dukungan rakyat. Bahkan tak sedikit calon yang sampai mau rusak akidah karena kesana-sini cari dukun ampuh sebagai pendukung di bidang supranaturalnya. Jadi timbulah pertanyaan Apa enaknya jadi seorang Gubernur, Bupati atau Walikota itu? Kok sampai begitu habis-habisan untuk mengejarnya?

Jadi pejabat daerah, terutama Gubernur, Walikota atau Bupati, memang menjadi impian setiap orang yang haus akan jabatan dan kekuasaan. Apapun akan dilakukan, yang penting jabatan itu bisa didapat.

Tak banyak orang yang tahu apa yang sebenarnya diinginkan orang dari jabatan tersebut. Paling orang cuma tahu jika jabatan Gubernur Bupati dan walikota itu enak, terhormat, banyak duit dan hebat. Namun tak banyak yang tahu persis dibagian mana enaknya jabatan tersebut.

Orang yang tahu dimana letak enaknya jadi Bupati, Gubernur atau Walikota adalah orang-orang yang biasa berhubungan langsung dengan mereka. Para kepala Dinas, para anggota DPRD dan para pejabat lainnya memang tahu betapa jabatan tersebut sangat empuk dan menggiurkan. Makanya tak jarang seorang kepala dinas akan berupaya mati-matian untuk ikut pemilihan agar jagi kepala daerah.

Lihat saja, Syahrial Oesman yang jadi Gubernur, Edy santana dan Rahman Djalili yang Walikota, Alex Noerdin, kalamudin, AmiruddinInoed, Ishak Meki, Edy Yusuf yang Bupati. Mereka semua berlatar belakang dari PNS atau pejabat pemerintah. Mereka paling tahu betul jika jabatan-jabatan itu sangat enak, makanya mereka ikut bersaing mengejar kursi jabatan, dan berhasil.

Jika saja seluruh rakyat, baik pegawai, pengusaha, dan yang lainnya tahu betul apa enaknya jadi kepala daerah, maka dipastikan pada setiap pilkada mereka semua akan ikut bersaing. Bukan seperti saat ini, yang bersaing cuma mantan pejabat dan orang-orang politik saja.

Dimanakah letak enaknya?

Menjadi Gubernur, Bupati atau Walikota selain mendapat jabatan terhormat, bergengsi dan tercatat dalam sejarah, juga sangat bergelimang kesenangan dan kemewahan. Semua hidupnya difasilitasi uang rakyat yang melimpah. Ia juga bisa mengeruk uang lalu mengumpulkannya untuk membangun dinasty baru. Benarkah?

Seorang Gubernur, Bupati atau Walikota memang memperoleh segala kenikmatan yang luar biasa. Ia juga memiliki bawahan yang tinggal menunggu perintah. Ia bisa melakukan apa saja dan bebas pergi kemana saja.

“Bupati, Gubernur atau Walikota itu tidurnya saja dibayar”, ujar Ahmad Yassin seorang pengurus LSM di Palembang.

Ia tinggal di rumah dinas yang sama dengan istana. Segala fasilitas dibayar oleh uang negara. Mulai dari air minum, makan, beras, sayur, sandal sepatu, baju, tempat tidur, obat nyamuk, bahkan mungkin hingga kondom pun, semua dibayar dengan uang negara. Tukang cuci, pembantu, tukang kebun, keamanan, tukang listrik, hingga tukang pijat dan tukang sihirnyapun dibayari dengan uang negara. Beli rokok, beli bensin, beli korek kuping hingga beli softex pun memakai uang rakyat. Semua dibiayai dengan uang rakyat dan itu semua diluar gaji dan tunjangan-tunjangan resmi lainnya. Ini baru menggunakan dana dari mata anggaran biaya rumah tangga saja.

Ketika berangkat kerja iapun mulai berhadapan dengan berbagai kenikmatan. Pakaian gagah dengan Cupu disaku kiri. Mobil dinas mewah mengkilap dikawal polisi Foredjer serta rombongan mobil LLAJ, Pol-PP dan pejabat lainnya. Ia juga akan mendapat perlakuan istimewa dari ajudan yang gagah berani dengan pistol di pinggang.

Di kantor ia akan menikmati nyamannya suasana ruangan kelas super VVIF. AC dingin, TV layar lebar, hingga pelayanan cepat dari para staf yang jalan agak membungguk di hadapannya.

Di luar ruangan telah antri para tamu, pengusaha, kontraktor, para anggota DPRD, wartawan hingga LSM di ruang tunggu. Mereka datang dengan dua tujuan, yaitu yang mau kasih uang atau yang mau minta uang. Semuanya sangat mudah mengatasinya.

Orang yang biasa ngasih uang adalah para pengusaha, kontraktor dan rekanan lainnya. Mereka umumnya mengajak berbagai jenis KKN dengan imbalan yang menggiurkan buat sang pejabat. Sedangkan orang yang datang minta uang adalah para anggota dewan, wartawan, LSM, mahasiswa dan orang-orang yang rajin membuat proposal minta bantuan. Untuk kelompok yang minta duit ini tak perlu repot mengatasinya karena telah ada dana taktis yang sengaja disiapkan untuk bagi-bagi rejeki dengan mereka.

Dana taktis jumlahnya banyak dan itu sudah masuk dalam anggaran APBD. Namun tak jarang seorang kepala daerah juga telah menyiapkan dana non budgeter yang disisihkan dari dana suap atau uang fee proyek yang diterima dari kontraktor.

Kerja Gubernur, Bupati atau Walikota di kantor selain menerima tamu adalah menandatangani surat-surat, menyetujui pengucuran dana yang diajukan bawahannya, memanggil dan memarahi para Kepala Dinas, menggelar rapat, membuka suatu acara, dan sedikit ngobrol.

Jika ada acara keluar biasanya berangkat ke luar negeri untuk cari investor, ke Jakarta karena panggilan presiden atau meloby Menteri, Dirjen atau DPR. Dana yang disiapkan untuk sekali berangkat tidaklah kecil. Tiket pesawat termasuk tiket untuk isteri, ajudan dan beberapa pejabat lain yang ikut mendampingi. Belum dana untuk akomodasi hotel mewah, dana transpor disana hingga anggaran untuk oleh-oleh pulang. Semua ada anggarannya.

Ketika ada acara kunjungan di daerah pun seorang Gubernur, Bupati atau Walikota selalu saja menikmati fasilitas menyenangkan. Dana transpor disiapkan. Dana untuk bantuan yang akan diserahkan sudah disiapkan dari pos bantuan APBD. Untuk mengantisipasi jika warga minta ini itu, ia mengajak serta semua kepala dinas terkait. Jika warga minta perbaikan jalan maka ia tinggal menunjuk kepala dinas PU saja. Jika warga bertanya tentang pertanian, tinggal perintahkan kepala dinas pertanian. Demikian juga yang lainnya.

Dari anggaran APBD atau APBN yang masuk, biasanya Gubernur Bupati dan Walikota mendapatkan banyak keuntungan. Tiap proyek, sudah menjadi rahasia umum di lingkungan kontraktor, sedikitnya jatah yang harus disetor untuk pejabat itu adalah 10 persen dari nilai proyek. Bahkan jika proyek empuk dan besar, mintanya bisa lebih dari itu.

“Mintanya bisa sampai 30 persen pak”, Rohimuddin seorang kontraktor di Palembang.

Jika anggaran sebuah proyek 1 milyar, maka jatah Gubernur, Bupati atau Walikota itu minimal 100 juta. “Bayangkan jika proyek itu puluhan atau ratusan milyar seperti proyek Multi Years atau proyek Tanjung api-api, berapa yang bisa masuk kantong pribadi”, ujarnya lagi.

Selain dana dari tak resmi seperti itu ada juga dana resmi yang lumayan banyak jumlahnya. Dana Upah Pungut (UP) untuk Gubernur, Bupati atau walikota lumayan besar apalagi jika PAD-nya besar.

Ada lagi uang besar yang masuk mulus ke kantong pejabat tinggi di daerah ini. Misalnya saja dari pos terpadu atau timbangan. Tempat pengumpul uang tiap hari dari para sopir inijuga menjadi ATM besarnya Gubernur, Bupati atau Walikota.

Ada lagi dana dari permainan penerimaan dari periklanan, uang dari perusahaan besar yang melanggar dan mengotori lingkungan, sarta setoran dari penyimpangan retribusi dan pungutan lainnya.

Dana yang sangat besar juga bisa didapat dari upaya mengakali dana Bagi Hasil Migas dari pusat. Dana tersebut hingga kini tidak pernah transparan. Selain pejabat daerah, para pejabat pusat seperti Dirjen Migas, dan menteri Keuangan pun ikut mendapat bagian yang sangat besar. 

Masih ada sumber-sumber lain yang akan memperkaya pejabat daerah dengan cepat, baik yang resmi maupun tidak resmi. Pejabat yang daerahnya kaya akan Migas, pasti akan mendapat uang lebih besar lagi jumlahnya.

Inilah sekilas tentang enaknya jadi Gubernur, Bupati atau Walikota. Semua berkaitan dengan uang, kekuasaan, kehormatan dan kekayaan.

Namun jika mereka tahu jika diakhirat nanti mereka akan dibakar dalam api neraka, maka rasanya tak akan ada orang yang mau jadi Gubernur, Walikota atau Bupati. Biarlah, nikmati saja duniamu. Inilah surgamu. Jangan harap lagi surga diakhirat sana. Biarlah surga disana untuk kami, rakyat kecil yang selalu dibodohi dan didzalimi.

Tks. 

Iklan
By Andang Supriadi Posted in Opini

6 comments on “Apa sih Enaknya Jadi Gubernur, Walikota atau Bupati ?

  1. Memang begitulah kenyataan enaknya jadi Gubernur, Bupati Walikota di Negeri ini, Kalau menang Pemilu Kada hadiahnya 10% Dana APBD tapi bonusnya dibajar di Neraka Jahanam !!!! seharusnya tulisan ini bisa menjadi pembelajaran dan pendewasaan bagi seluruh rakyat apa yang diinginkan para calon pemimpin yang selalu berkedok ingin mensejahterakan masyarakat, bertopeng dekat dengan masyarakat tanpa masyarakat tau berapa uang rakyat yang mereka korupsikan!!! coba hitung kebocoran uang APBD bila dikalikan seluruh propinsi, Kabupaten dan Kota dalam setahun saja?! jawabannya CUKUP UNTUK MENSEJAHTERAKAN RAKYAT NEGERI INI, TANPA TERBEBANI DENGAN MASALAH BBM DAN LISTRIK YANG AKAN SEGERA NAIK. semoga tulisan ini bisa di publikasikan di seluruh Media Massa agar masyrakat tidak terlena dengan janji manis para pemimpin koruptor!! ya allah kapan negeri ini memiliki pemimpin yang benar tulus untuk membangun dan bekerja untuk rakyat!!!

  2. lucu ya, nulis comment tapi kok gak punya etika ? omongan anda saja keliatan kalo anda gak pernah diajar orang tua. berarti anda yg lebih cocok dengan julukan itu. sadar donk, jaga mulut anda!

  3. waduh mas herman koment yang mana nih yang gak punya etika? saya minta maaf kalo ada koment saya diatas yang buat mas tersinggung!!!

  4. daripada jadi gubernur enakan jadi guru ngaji..selamat dunia akhirat…sorgalah tempatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s