Mahasiswa Mesti Undang Para Calon Gubernur Untuk Menanyakan Jika Program Sekolah Gratis dan Berobat Gratis Bukan Kebohongan Publik


Dua kandidat yang dipastikan bakal ikut dalam pertarungan memperebutkan kursi Gubernur Sumsel periode mendatang, Syahrial Oesman dan Alex Noerdin, kini sama-sama mengusung isu pendidikan gratis dan berobat gratis sebagai komoditas kampanyenya. Bahkan di masyarakat Sumsel kedua hal itu sudah sangat melekat, namun mereka tidak tahu kapan hal itu akan mereka rasakan.

Memberikan fasilitas sekolah gratis dan berobat gratis kepada rakyat merupakan kewajiban pemerintah dan hak masyarakat. Cepat atau labta hak itu harus segera dipenuhi oleh pemerintah. Namun berapa kekuatan keuangan yang dimiliki pemerintah untuk membiayai dua program ini, selayaknya menjadi pengkajian yang sangat dalam.

Sumatera selatan merupakan sebuah propinsi dengan nilai APBD yang tidak terlalu besar dibanding besarnya sumber daya alam yang dimiliki. Sedangkan kondisi sarana dan prasarana infrastruktur untuk kepentingan masyarakatpun masih kurang. Banyak jalan penghubung yang kondisinya masih memprihatinkan. Kondisi ekonomi masyarakatnya pun umumnya masih lemah. Angka pengangguran sangat tinggi dan selalu meningkat setiap tahun.

Dengan kondisi realita ini sedangkan keuangan daerah jumlahnya sangat terbatas, menjadikan program sekolah gratis dan berobat gratis yang banyak digembor-gemborkan akan segera diwujudkan menjadi sebuah keraguan tersendiri. Benarkan Sumsel akan mampu menggratiskan seluruh sekolah dan berobat bagi warganya? Darimana uang yang akan digunakan untuk menutupi biaya operasional sekolah? Dari mana Sumsel bisa membayar biaya rumah sakit, biaya obat dan biaya tenaga profesional dokter? Mungkinkah ?

Oleh karena itu seharusnya, para cendikiawan muda, khusunya para mahasiswa di Sumsel jangan hanya diam diri saja menerima janji-janji dari para calon gubernur tersebut. Sebagai kaum intelek, mahasiswa semestinya secara proaktif berani mempertanyakan kepada calon gubernur benar tidaknya program yang mereka tawarkan itu.

“Bisa-bisa itu hanya sekedar upaya pembohongan publik. Tanya dong, apa alasan program tersebut, dari mana dananya, kapan dilaksanakannya? dan lain-lain”, ujar H. Hasbullah seorang tokoh masyarakat Palembang berkomentar.

Calon gubernur mesti siap untuk melakukan paparan didepan mahasiswa tentang bagaimana sekolah gratis dan berobat gratis itu akan diterapkan.

“Mahasiswa jangan mau dibohongi”, ujarnya lagi.

Gimana, ada keberanian dari mahasiswa? Atau cuma diam saja dan menerima dengan setengah percaya tentang sekolah dan berobat gratis tersebut? Majulah.

Iklan

14 comments on “Mahasiswa Mesti Undang Para Calon Gubernur Untuk Menanyakan Jika Program Sekolah Gratis dan Berobat Gratis Bukan Kebohongan Publik

  1. assww,
    mohon agar jangan dibalik permasalahannya pak.
    yang pertama menggelontorkan masalah sekolah gratis dan pengobatan gratis itu siapa ?? apakah masyarakat pernah menuntut.???
    inikan wacana yang ditawarkan para cagub kita, dan direspon secara dingin oleh masyarakat sumsel, karena setengahnya tidak percaya, masyarakat tak punya kepentingan masalah gratis gratisan itu, yang dipentingkan masyarakat adalah kualitas dari pendidikan itu sendiri dan dengan biaya yang bisa dijangkau, bukannya minta gratis.. jadi kalu mau ngajak itu jangan masyarakat atau mahasiswa yang dipaksa bertanya, sepatutnyalah para cagub yang menjabarkan visi misi masalah biaya gratis ini kemasyarakat, nanti barulah akan mendapat respon dari masyarakat.
    kalau benar gratis pada kenyataannya nanti respon masyarakat akan senang dan tentu akan mendukung terus tetapi kalau tidak benar alias pembohongan publik belaka, ya jangan salahkan kalau selanjutnya masyarakat akan semakin tidak peduli dengan pemda mereka.

    jadi berita ajakan ini sendiri adalah suatu pola menjebak masyarakat secara halus agar ada gerakan merespon secara nyata nantinya, terhadap tawaran para cagub.
    TAK USAH YE…KAMI AKAN WAIT AND SAJA PAK. KARENA KASIHAN NANTI KALAU KENYATAAN AKAN MENJADI BEBAN BAGI PEMENANG PILKADA .
    ATAU BOLEH BOLEH SAJA ANDA BILANG BAHWA MASYARAKAT SUDAH APATIS PADA JANJI JANJI PEMERINTAH.

    WASSALAM

  2. assalamu’alaikum ww
    menarik untuk ditambahkan dari penjelasan bung nirwan, bahwa mungkin di sini para cagub bisa menjabarkan masalah sekolah dan pengobatan gratis lewat tvri palembang.

    jadi terlihat di sini bahwa memang ada niatan yang luhur dari para cagub untuk kepentingan masyarakat sumsel. dan bukan dengan cara menggadang gadang masyarakat agar bertanya kepada para cagub, ini artinya usaha memancing agar masyarakat jemput bola.

    tentulah tidak betul itu, karena yang berkepentingan itu siapa ? masyarakat atau cagub ? sepatutnyalah orang yang punya hajatan yang jemput bola, bukannya orang lain yang disuruh bergerak.

    majulah, jabarkan secara rinci baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif, dan secara detail, masalah sumber dana pembiayaan, jaminan pembiayaan, kualitas sarana dan prasarana. dll

    majulah kalau berani..

    wassalam

  3. Program Sekolah Gratis dan Berobat Gratis Bukan Kebohongan Publik”
    bagaimana kita menyikapinya secara bijaksana.
    yang namanya kampanye kita mau mengangkat wacana apa saja silakan., namun yang terpenting bagaimana kita dapat mencontoh suikap moral para pemimpin yang betul dekat dan memikirkan nasib rakyatnya, aku sekedar berilusi, dulu yang namanya Griya Agung sangat sakral dan hal yang sangat susah dimasuki oleh rakyat2 kecil, sekarang masa kepemimpinan Syahrial Oesman hal tersebut hilang, terbuka bebas bagi warga sumsel unutk masuk,bahkan beberapa ragam acara kerap kali diadakan di Griya Agung yang dihadiri dari Rakyat berbagai macam lapisan, mereka bergembira ria bersatu padu dalam memeriahkan acara tersebut . artinya Syahrial telah mampu membina merukunkan dan mempersatukan rakyat dalam wadah keterbukaan, sehingga terjalin rasa saling keterbukaan dan saling bantu membantu dan salang rasakan dengan prinsip kebersamaan, propil pemimpin yang seperti inilah yang dinamakan Merakyat, oleh karenanya jika kedepan Syahrial akan maju kembali dalam pemilihan gubernur sepatutnya kita dukung, agar beliau lebih dapat memahami lagi hati dan keadaan rakyat sumsel dengan segala program pembangunan yang akan ia laksanakan, prinsipnya beliau ini sudah teruji dan sudah banyak bukti kemajuan yang ia pimpin, mari kita dukung Syahrial untuk menuju Sumsel -1 yang ke-2 kalinya. Oke..

  4. Saya termasuk yang apatis soal pendidikan gratis dan berobat gratis, berapa banyak sih APBD kita yang ada dan berapa persen yang akan dialokasikan untuk kedua kebijakan itu.
    Jangan-jangan pendidikan gratis hanya untuk SD Negeri dan SMP Negeri dan berobat gratis hanya untuk di puskesmas, sementara para pensiunan dan non productive person lainnya tetap saja membayar mahal di rumah sakit umum, RSI Siti Khadijah, RSRK Charitas, dan lain-lain.
    Kalaupun memang bisa berobat gratis di rumah sakit mana saja, apakah kata gratis itu memang benar-benar tidak membayar untuk segala penyakit, atau hanya untuk beberapa penyakit saja.
    Apakah untuk pendidikan luar sekolah seperti kursus ketrampilan juga akan di gratiskan.
    Bagaimana dengan anggaran yang lainnya misalnya anggaran untuk pembangunan infrastruktur, pelayanan untuk masyarakat, bantuan hukum, dan lain-lain, apakah tidak akan terganggu dengan besarnya dana yang akan terserap oleh pendidikan dan berobat gratis.

    Mungkin para pendukung Bapak Alex Nurdin dan Bapak Syahrial Usman bisa meneruskan pertanyaan ini kepada beliau-beliau tersebut dan bisa menjelaskannya kepada masyarakat umum. Jangan cuma membuat stiker, umbul-umbul dan baliho seantero Sumatera Selatan tanpa berusaha menjelaskannya sama sekali. Mungkin yang terutama harus menjelaskan terlebih dahulu adalah bapak Alex Nurdin, karena dia sudah menambahkan kata ‘Pelopor’ untuk program kebijakan pendidikan dan berobat gratis tersebut.

  5. muhdy.hdr, di/pada Februari 20th, 2008 pada 11:40 p Dikatakan:
    maaf bae, adek2ku mahasiswa, aku dulukan mahasiswa jugo, trapi perjuangan kami Murni….
    nah, aku yakin masih ada adek2ku yang idealismenya tinggi dan Murni, silahkan berjuang menyuarkan pendapat dan kebenaran.
    tapi ingat jika, adek2 menyuarakan sesuatu karena ada pesan sponsor dari sala satu kandidat, tentu bukan suatu suara mahasiswa yang Idealis Murni, apalgi jika pesan sponsornya menyudutkan atau mencari kesalahn orang dengan dalil Reformasi/kebenaran.
    Menurutku : sebaiknya adek2 jangan dulu terlibat Politik….. Lebih baik adek2 Belajar,perbanyak tinggal dan baca buku2 diperpustakaan, belajar dan Belajar Biar Suykses, dan perlu diingat Adek2 ini Calon /Kader Pemimpin dimasa yang akan datang, banyak2 baca buku, aktifkan di Forum diskusi/Telaah Ilmiah, perbanyak /aktipkan diri diorganisasi kemasyarkatan serta belajar berjiwa Mandiri, gali ilmu yang daopat menciptakan lapangan Pekerjaan.

  6. assww sdr. muhdy,,
    maaf yo aku nyeletuk dikit himbauan anda.
    menurut aku kapan kito harus mulai terjun kepolitik itu, yo tergantung pada orangnya dong..kalu ybs punya bakat, punyo keinginan, punyo kemampuan punyo keberanian, pinter , ngapo harus menunda karier politiknyo yang sebagusnyolah dio mulai dari masa perkuliahan ini.

    kalu masalah belajar kapan, bukannyo cuma diperkuliahan saja dio harus banyak belajar, bahkan yang sudah gaekpun masih banyak yg getol belajar. dimana mana bisa kito dapat pembelajaran, cuma kalu di perguruan tinggi itu caronyo lebih sistematis, secara teori, nah alangkah lebih bagus lagi langsung diaplikasikan kelapangan. hanya saja ybs harus disiplin dengan jadwal sebagai mahasiswa

    Yang perlu kito kawatirkan ini, bahwasannya ada mahasiswa yang terjun kepolitik itu cuma mencari kompensasi atas kekacauan kuliah dio, artinyo kuliah dio itu sudah dak bener duluan, jadi dio cuma cari alasan saja, entah itu ke ortunyo atau kepacarnyo atau ketemennyo atau kesiapo bae supayo raso malu bahwa kuliahnyo dak bener itu jadi hilang, memang ini banyak kejadian.

    jadi bagi saya tidak ada korelasi yang kuat antara merintis karier dipolitik dengan terganggunya kuliah, bahkan menurut saya justru akan menambah wawasan dan akhirnya mempermudah dia untuk menyelesaikannya, nah ini kejadian yg kualami.

    kalu mau buku, silahkan saya punya buku apa saja, saya paling hobi membaca, dirumah saya mungkin lebih mirip perpustakaan ketimbang sebagai rumah.

    demikian, salam dari jauh

    wassalam.

  7. benar lur pendapatmu….oke punya.
    yang kumaksud para mahasiswa yang dibayar oleh sponsor/diupah oleh donatur untuk menyuarakan sesuatu yang ada maksud dibalik gerakan yang disuarakan, artinya dibayar, tentunya hal yang seperti kurang sehat dan tidak mendidik.
    menyinggung soal belajar : Definisi agamanya “Iqro’… bacalahhhhhh…bacalahhhhh…
    muali dari lahir kebumi ini hingga kita keliang lahad alias Meninggal Dunia. begitu lur maksudku.

  8. mahasiswa2 sekalian,,kagek men ado debat aku nak nitip sikok pertanyaan,,men ado nian SEKOLAH samo BEROBAT GRATIS tu, berarti gek anak aku pacak ye sekolah di KUMBANG atau di SMAN 17 ye, trus kalu aku apo anak bini aku sakit kami nak milih berobat di RS. CHARITAS apo di GRAHA SPESIALIS RSUP bae,, na tolong ditanyoke pertanyaan aku sikok itu be oke..
    hidup mahasiswa..
    wass..

  9. gimana jika calon gub nanti ada ikat kontrak Hitam diatas Putih dengan disaksikan oleh DPRD atas biaya2 yang gratis…biar nanti kita bisa tuntut bersama, sanggup ga ? calon2 gub tersebut, biar seru…Setuju Ga?..

  10. http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/03/08/02150923/kepedulian.atas.pendidikan.lahirkan.manusia.unggul

    ANGGARAN PENDIDIKAN
    Kepedulian atas Pendidikan Lahirkan Manusia Unggul
    Sabtu, 8 Maret 2008 | 02:15 WIB

    Berbahagialah Anda yang memiliki pemimpin yang amat peduli dengan pendidikan. Mengapa? Sebab, dari kepedulian itu akan lahir manusia-manusia unggul.

    Adalah Kabupaten Musi Banyuasin yang kini berubah total. Meski sebagai daerah penghasil minyak dan gas cukup besar di Sumatera Selatan, dulu daerah itu merupakan daerah paling tertinggal di Sumsel. Segala ketertinggalan itu kini coba diatasi melalui pendidikan.

    ”Pada tahun 2002 saya menentukan anggaran pendidikan di atas 20 persen sehingga biaya sekolah, mulai SD hingga SMA negeri, swasta, dan madrasah, dapat digratiskan. Buku pelajaran juga gratis. Untuk sekolah gratis, yang harus diperhatikan adalah guru. Penolakan pertama justru datang dari guru karena mereka kehilangan pendapatan sampingan,” tutur Bupati Musi Banyuasin Alex Noerdin yang menjadi bupati sejak 2002.

    Guru, kunci sukses

    Alex menyadari guru adalah kunci sukses pendidikan. Maka, keputusan menggratiskan pendidikan diikuti dengan memberikan kesejahteraan kepada guru berupa uang makan Rp 6.000 per hari. Selain itu, guru juga mendapat seragam dinas, bantuan transportasi sepeda motor atau speedboat. Tidak hanya itu, para guru juga ”diberi masa depan”. Guru honorer harus bisa diangkat menjadi PNS dan mendapat kesempatan meningkatkan kemampuan melalui program Wajib Kuliah. Tahun 2006 300 guru ikut program itu, tahun 2007 sebanyak 1.800 guru, dan tahun 2008 menjadi 3.000 guru. Cita-citanya, tahun 2009 sebanyak 7.200 guru di Musi Banyuasin sudah berijazah S-1.

    ”Untuk membiayai program sekolah gratis, kami harus meningkatkan pendapatan daerah dan mengefisienkan pengeluaran daerah. Kami juga melobi pemerintah pusat agar bagi hasil migas lebih transparan,” kata Alex yang juga Ketua Forum Konsultasi Daerah Penghasil Migas.

    Kepala Dinas Pendidikan Musi Banyuasin Ade Karyana menambahkan, anggaran pendidikan Kabupaten Musi Banyuasin tahun 2007 sebesar 22,79 persen atau Rp 341,93 miliar, sedangkan 2008 naik menjadi 24,23 persen (Rp 390,14 miliar). Peningkatan anggaran pendidikan seiring dengan peningkatan APBD dari Rp 1,5 triliun (2007) menjadi Rp 1,6 triliun (2008).

  11. Muba pacak gratisan karena masyarakatnyo sedikit. itu jugo masih banyak masyarakatnyo yang dak galak sekolah. nah, kalau di daerah yang banya masyarakatnyo, contoh palembang, dan kan biso yang namonyo gratisan. seorang yansuri, ketua/kader golkar dan juga ketua DPRD Sumsel saat debat kandidat yang diadoke pak amzulian ngatoke, palembang dak kan bisa ngadoke yang namonyo gratisan karena pendapatan palembang idakkan sanggup untuk biayainyo. jadi, mbudi galolah apo yang namonyo gratisan tu…

  12. Ada yang menarik soal pemberitaan di Rakyat Merdeka 30 mei 2008
    (I paste-in lagi ya..)
    BAHARUDDIN ARITONANG, ANGGOTA BPK
    “Masih Banyak Yang Dicuekin”

    BADAN Pemeriksa Keuangan (BPK) merasa senang bila hasil auditnya terkait dugaan penyimpangan anggaran di daerah ditindaklanjuti aparat penegak hukum.
    “Kalau benar hasil audit BPK terkait dugaan penyimpangan anggaran di Pemda Musi Banyuasin masuk penyelidikan di KPK, ya tentu kami senang. Tapi terus terang, banyak yang dicuekin aparat hukum mengenai audit BPK,” kata anggota BPK, Baharuddin Aritonang kepada Rakvat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
    Bekas anggota DPR itu menyarankan KPK agar berkoordinasi dengan aparat penegak hukum lainnya. Sebab, biasanya masvarakat itu melaporkan temuan BPK itu ke semua aparat hukum.
    “Sebaiknya koordinasi dengan Polri dan Kejagung supaya tidak tumpang tinddih penanganan suatu kasus,” ujarnya.
    Dikatakan, minimnya tindak lanjut temuan BPK yang berindikasi korupsi di sejumlah daerah akibat kinerja aparat hukum yang lambat. Padahal, pasal 26 ayat (2) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Keuangan Negara dengan tegas menyatakan adanya sanksi pidana dan denda bagi yang tidak menindaklanjuti hasil pemeriksaan BPK.
    Meski ada aturan, lanjutnya, masih banyak hasil audit BPK di seluruh daerah tidak ditindaklanjuti aparat hukum. Misalnya saja, selama tahun 2005 dan 2006.penyelewengan uang negara Rp 33 triliun dari 4.775 kasus. ■ WIS

    JOJOHN PANTAU menemukan fakta berupa data BPK tahun anggaran 2006! Silaken daripadanya untuk mengunduh di BPK-Badan Pemeriksa Keuangan (sssst, klik saja disitu…). Buruan, mumpung belum didelet oleh pihak yang kebakaran jenggot!
    Berikut intisari dari laporan anggaran Musi Banyuasin anggaran 2006 (baru tahun itu saja lho, belum 2001, 2002,2003,2004,2005,2007…)

    Dalam melakukan pemeriksaan keuangan ini, BPK RI mengungkapkan kondisi pengendalian
    intern Pemerintah Daerah Kabupaten Musi Banyuasin yang telah BPK RI muat dalam Laporan
    Hasil Pemeriksaan atas pengendalian intern nomor 91.a.3/S/XIV.2/06/2007 tanggal 13 Juni
    2007.
    Dari pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin Tahun
    Anggaran 2006, ditemukan beberapa hal material sebagai berikut:
    1. Status kepemilikan beberapa aset tanah tidak jelas dan belum dicatat dalam Neraca Daerah
    Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin sehingga penyajian aktiva tetap di Neraca Daerah
    lebih kecil dari yang seharusnya sebesar Rp1.028.146.992,00.
    2. Realisasi Belanja Seketariat Daerah, Badan Pengelola Keuangan Daerah, Belanja Bagi
    Hasil dan Bantuan Keuangan serta Penunjang Operasional Bupati dan Wakil Bupati tidak
    didukung bukti yang lengkap sebesar Rp4.638.928.000,00 sehingga mempengaruhi
    kewajaran Laporan Keuangan Daerah.
    3. Biaya Pengelolaan/Penatausahaan Keuangan Daerah tidak didukung bukti yang lengkap
    dan menyalahi ketentuan sebesar Rp1.028.500.000,00 sehingga mempengaruhi kewajaran
    Laporan Keuangan Daerah.
    4. Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan untuk Instansi Vertikal tidak sesuai ketentuan
    dan tidak didukung bukti yang lengkap sebesar Rp7.951.770.250,00 sehingga
    mempengaruhi kewajaran Laporan Keuangan Daerah.

    Hasil Pemeriksaan atas Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan
    Atas Laporan Keuangan TA 2006 yang disusun oleh Pemerintah Kabupaten Muba serta surat
    dari PT Bank Sumsel Nomor 107/SKY/1/B/2007 kepada Kepala Badan Pengelola Keuangan
    Daerah (BPKD) Kabupaten Muba perihal Konfirmasi Kas Daerah diketahui bahwa per tanggal
    31 Desember 2006, Pemerintah Kabupaten Muba memiliki beberapa rekening di PT Bank
    Sumsel, untuk menampung kas daerah baik berupa rekening umum kas daerah dan beberapa
    rekening khusus dana perimbangan atau rekening khusus lainnya. Rincian rekening yang
    diakui Pemkab Muba per tanggal 31 Desember 2006 sebagai berikut:
    No. Nama Rekening Nomor Rekening Jumlah (Rp)
    1. Kas Daerah Tingkat II (Umum) 149-30-00001 Rp 99.383.033.083,18
    2. DAU 149-30-00002 Rp 6.488.115.014,02
    3. DAK Dana Reboisasi TA 2004 149-30-00008 Rp 40.624.224,00
    4. DAK Bid Infrastruktur 149-30-00011 Rp 0,00
    5. DAK Bid Kesehatan 149-30-00012 Rp 0,00
    6. DAK Bid Perikanan&Kelautan 149-30-00013 Rp 0,00
    7. DAK Bid Pendidikan 149-30-00014 Rp 0,00
    –> LHO KOK KOSONG?? HABIS BUAT SKULLAH GRATISS??
    8. DAK Bid Pertanian 149-30-00015 Rp 0,00
    Jumlah total Rp 105.911.772.321,20

    Hasil konfirmasi dari BPKD diketahui bahwa untuk TA 2006 semua rekening bank
    yang menyimpan kas daerah sebesar Rp105.911.772.321,20 belum ditetapkan dengan Surat
    Keputusan Bupati, namun hanya berupa surat permohonan pembukaan rekening giro kepada
    pihak PT Bank Sumsel yang ditanda tangani oleh Kepala Bagian Keuangan Setda Kabupaten

    Di buku ini juga ditemukan fakta bahwa:
    1. Biaya Penunjang Operasional Bupati dan Wakil Bupati dalam Biaya
    Jasa Lainnya serta Biaya Perawatan dan Pengobatan Tidak Didukung
    Bukti yang Lengkap Sebesar Rp252.500.000,00 (ada di halaman 30)

    2. Biaya Pengelolaan/Penatausahaan Keuangan Daerah Tidak didukung
    Bukti yang Lengkap dan Menyalahi Ketentuan Sebesar
    Rp1.028.500.000,00 (ada di halaman 39)

    3. Pembayaran Pekerjaan Pembangunan Jaringan Listrik Desa Nusa
    Serasan dan Desa Peninggalan Tidak Berdasarkan Kondisi Senyatanya
    dan Harus Dikenakan Denda Keterlambatan Sebesar Rp233.623.950,00 (ada di halaman 50)

    4. Pengeluaran-pengeluaran dari Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan sebesar
    Rp3.185.475.050,00 yang dikeluarkan tidak sesuai peruntukannya diantaranya
    digunakan untuk bantuan kepada pribadi seperti biaya pendidikan, wisuda, biaya umroh
    dan uang sakunya yang merupakan hadiah bupati, transport kepada ketua tim penggerak
    PKK, karangan bunga atas nama bupati, pemberian Tunjangan Hari Raya untuk instansi
    vertikal, peringatan HUT dan nonton bareng final world cup 2006.

    5. Realisasi Belanja Tidak Terduga Menyalahi Ketentuan Sebesar Rp4.295.122.918,00

    6. Pembuatan Website http://www.alexnoerdin.com Rp. 12.500.000,00 (ada di tabel halaman 162 tentang Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan yang Direalisasikan untuk Kegiatan Bupati/Wakil Bupati nomor 192)
    –> coba deh kita klik situsnya, tidak ado!!!! mantap……
    7. SPJ TIDAK ADA BUKTI PENDUKUNG Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan senilai 3.656.446.000,00! (ada di halaman 154) dan Pengeluaran Tidak Sesuai Peruntukan Rp 3.185.475.050,00! (ada di halaman 157) ?????!!!!!?????

    Huhuuy!!!!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s