Ganti Saja Menjadi : “Konversi Minyak Tanah ke Kayu Bakar”


dsc00615.jpg    dsc00616.jpg

Pelaksanaan program Konversi Minyak tanah ke gas yang dilakukan pihak pemerintah melalui Pertamina nampaknya lambat sekali realisasinya. Pembangian tabung gas 3 km dan kompor pun seperti ogah-ogahan. Untuk luas Kota Palembang dengan jumlah warga tak seberapa inipun sudah beberapa bulan ternyata belum rampung juga. Masih banyak wilayah yang belum tahu menahu kapan pembagian alat dapur tersebut akan dilakukan.

Begitulah yang namanya nasib sebuah program yang tergolong program kering alias seret tak ada duitnya. Karena tabung dan kompor gas ini mesti sampai kemasarakat dengan gratis, maka perjalanannya hingga ke tangan warga sangat lamban dan tersendat-sendat.

Di lingkungan pertamina sendiri yang dibebani pemerintah untuk melaksanakan konversi ini nampaknya bekerja setengah hati. Pertamina seperti lesu kurang darah menjalankan program ini.

Keuntungan besar dari proyek konversi ini memang cukup besar, namun nampaknya keuntungan tersebut telah lebih dahulu diraup oleh orang-orang yang punya akses dekat dengan penguasa. Konon kontraktor penyuplay tabung dan kompor yang jumlahnya jutaan unit ini adalah rekan dekat Wapres Yusuf Kalla yang mengeruk untuk dari proyek pengadaannya. Sedangkan orang-orang pertamina sendiri hanya kebagian mensosialisasikan dan mendistribusikan ke masyarakat, tanpa bisa menarik ongkos angkut sekalipun.

Karena itulah hingga kini pelaksanaan konversi mitan ke gas di Palembang tak jua tuntas.

Di beberapa tempat warga Palembang yang sebelumnya sudah tergantung dengan minyak tanah mencoba sadar sendiri untuk melakukan konversi secara swadaya. Mereka tak perlu menunggu perintah untuk lepas dari ketergantungan terhadap bahan bakar minyak tanah. Sayangnya konversi yang mereka lakukan adalah konversi dari minyak tanah ke kayu bakar, bukan ke gas.

Memang, dalam beberapa bulan terakhir warga kerap mengeluh sulitnya mendapatkan pasokan minyak tanah. Mereka harus rela antri untuk mendapatkan beberapa liter saja. Karena minyak tanah yang sulit di dapat serta harganyapun mahal, maka banyak warga memilih kembali menggunakan kayubakar sebagai alat masak didapurnya.

“Jaman dulu kami tahunya pakai kayu bakar, tapi sejak ada kompor minyak ya kamipun memakai kompor. Karena sekarang minyak tak ada maka kami kembali memakai kayu bakar. Biarlah, kami memang sudah biasa. Daripada pakai gas, takut meledak”, ujar Juraida warga Talang Jambi Palembang.

Juraida sendiri mendengar rencana pemerintah akan membagi kompor gas, namun ia belum mendapatkannya. “Ada yang lain yang sudah dapat, kami belum”, ujarnya.

Jika mereka harus menggunakan gas sebagai pengganti minyak tanah, beberapa ibu rumah tangga di jalan tanjung api-api ini mengaku berat karena harganya mahal.

“Kami harus beli 3 kilo, sedangkan minyak tanah kami bisa beli seribu perak untuk dua hari”, ujar Salimah, salah satu warga kepada Wartawan. Karena kekhawatiran akan bahaya gas serta mahalnya harga gas, kendati semua warga nantinya mendapat tabung gas dan kompor, mereka memilih untuk kembali memakai kayu bakar saja.

“Ah biar aman dan kayu kan masih banyak di hutan”, ujar Suciwati menambahkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s