LSM Pertanyaan Keberadaan Kapal Keruk


Bertahun-tahun alur sungai Musi telah tergantung pada kegiatan pengerukan. Sedimentasi sungai musi menyebabkan dangkalnya alur pelayaran kapal sehingga setiap tahun endapan lumpur tersebut harus dikeruk.

Setiap tahun anggaran pengerukan dikucurkan dalam jumlah besar. Namun kendati demikian selalu saja hasilnya tidak maksimal. Disamping jumlah endapan yang demikian besar, kegagalan upaya pembersihan alur pelayaran dari pendangkalan juga lebih disebabkan karena faktor kinerja pelaksana pengerukan yang tidak profesional dan hanya mencari keuntungan semata.

Penggunaan kapal keruk pada setiap kegiatan pengerukan selalu saja menjadi sorotan. Setiap kontraktor yang melakukan pekerjaan pengerukan selalu terbentur dengan ketidakmampuannya menyediakan kapal keruk yang benar-benar pas sesuai spesifikasi teknis. Kapal keruk yang mereka sewa yang katanya dari luar negeri umumnya hanya berupa kapal sedot lumpur seadanya. Dengan kata lain, kapal keruk untuk pengerukan sungai musi secara terus menerus memang mutlak disediakan.

Ternyata selama ini di Sumsel sendiri bukan tidak ada kapal keruk yang bisa digunakan untuk mengeruk sungai secara rutin. Berdasarkan data kepemilikan alat berat, ternyata di lingkungan Satuan Kerja Balai Wilayah Sungai Sumatera VIII yang berkantor di Palembang tercatat ada satu unit kapal keruk yang digunakan untuk kegiatan-kegiatan pengerukan. Namun hingga kini keberadaan dari kapal keruk dimaksud tidak jelas dimana.

Padahal untuk tahun anggaran 2007 lalu di Satker tersebut terdapat paket Pengadaan dan pemasangan pipa pembuangan Kapal Keruk pada kegiatan Perawatan Alat Besar dengan nilai pagu mencapai Rp.4 Milyar yang dikerjakan oleh pihak rekanan. 

Namun diduga kuat paket pekerjaan tersebut tidak jelas juntrungannya. “Jangankan hasil kerjanya, kapal keruknya saja tidak jelas, ada atau tidak”, ujar Sukirman, salah seorang aktivis LSM di Palembang yang mempertanyaan keberadaan kapal keruk serta realisasi proyek pengadaan dan pemasangan pipa pembuangan untuk kapal tersebut.

“Patut dicurigai jika pekerjaan itu fiktif. Atau paling tidak karena proyek itu tak banyak diketahui publik, bisa saja pr5oyek itu ada tapi asal-asalan, tak sebanding dengan besarnya anggaran”, ujarnya.

Untuk itu Sukirman meminta pihak Kepala Satker untuk menjelaskan secara transparan tentang pelaksanaan proyek milyaran tersebut.

“Saya yakin pak, disitu ada sesuatu yang tidak beres. Makanya perlu diawasi dan diperiksa sejauh mana hasil pekerjaannya”, ujarnya menekankan. 

Iklan
By Andang Supriadi Posted in Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s