Dibalik Kasus Pengobatan Rohasan


Dalam beberapa hari terakhir ini warga di Sumsel ramai membicarakan kasus Rohasan, pasien RSMH yang diamputasi.

Yang menjadi menarik untuk dibicarakan adalah munculnya trik-trik yang mengiringi pengobatan pasien tersebut yang melibatkan pemkab Muba dengan Pemprop Sumsel, yang notabene dapat dikait-kaitkan dengan Alex Noerdin dan Syahrial Oesman, dua kubu yang kini mulai bersaing keras.

Koran-koran banyak memuat berita tentang kasus ini. Bahkan kesan yang muncul di masyarakat adalah Pemprop Sumsel dan Pemkab Muba berebut mengobati Rohasan. Atau kasus Rohasan jadi komoditas politik.

Tetapi sesungguhnya ini adalah suatu kesan yang keliru. Mungkin penafsiran ini akibat interpretasi media yang berlebihan. Sebab sesungguhnya yang namanya rebutan itu tidak terjadi. Yang ada hanyalah suatu pemerintah yang bertanggung jawab untuk mengobati Rohasan.

Adapun cerita sebenarnya dari permasalahan Rohasan adalah lebih kurangnya sebagai berikut:

Rohasan datang dari Bangka dengan harapan bisa pulang ke Muba untuk memperoleh pengobatan. Yang ia dengar, di kabupaten itu ada fasilitas pengobatan gratis untuk warga.

Sesampainya di sana ia datang berobat ke Puskesmas setempat. Namun ternyata pelayanan yang diharapkan ternyata tak sesuai bayangannya. Hampir dua bulan ia melakukan pengobatan sendiri. Kedua tangan yang patah bisa sembuh dengan pengobatan tradisional. Namun bagian kakinya yang bengkak justru semakin membusuk dan berulat.

Camat setempat menyarankan ia agar berobat ke rumah sakit dan bersedia memberikan pengantar surat keterangan miskin. Namun bagi Rohasan, jangankan untuk biaya rumah sakit, untuk ongkos jalanpun tak ada.

Ada seorang rekan Rohasan di Palembang, Arifin Kalender, menyarankan agar ia dibawa ke Palembang. Untuk ongkos jalan ia diminta Rp.100 Ribu. Dan iapun bisa sampai di Palembang dengan membayar Rp.60 Ribu sisanya Rp.40 Ribu masih ngutang.

Begitu sampai di Rumah sakit Mohamad Husin ternyata ia sudah ada yang menyambutnya. Ternyata LSM yang membantu Rohasan dari Muba mengontak Sekda Pemprop, Musyrif Suardi. Sekda lalu memerintahkan Wakadinas Kesehatan dan staf Humas Pemprop untuk menyambutnya di RSMH.

“Jadi tidak benar jika malam itu Sekda Muba ikut menyambutnya”, ujar Iskandar Staf Humas yang mengaku ikut begadang malam itu.

Rohasan yang datang ditemani paman dan ponakan langsung dirawat. Namun yang membuat perasaan sedih adalah bukan karena mereka tak punya uang untuk biaya pengobatan, melainkan mereka juga tak punya uang sama sekali untuk makanpun. Mereka baru bisa makan setelah menerima uang Rp.100 Ribu dari Iskandar.

Keesokan harinya, mulailah berdatangan dari pemkab Muba. Bahkan Kepala Dinas Kesehatan Muba dan Kabag Keuangan Muba juga hadir.

“Saya lihat sendiri jika Kabag Keuangan tersebut langsung membayar tunai biaya pengobatan Rohasan”, ujar Iskandar.

Hari itu juga dari pihak pemprop Sumsel hadir Kadinas Kesehatan, bahkan Sekda Sumsel untuk melihat kindisi Rohasan. Musyrif menyatakan pihaknya berkewajiban untuk membantu pengobatan Rohasan sampai sembuh.

Pelayanan di Muba?

Sebenarnya permasalahan Rohasan yang sempat dianggap jadi konsumsi politik adalah tidak terlepas dari kelemahan aparat di jajaran bawah di kabupaten Muba. Ketika kondisi Rohasan terkatung-katung, nampaknya perhatian kepadanya sangat kurang sehingga sakit Rohasan semakin parah. Padahal seharusnya Rohasan bisa diatasi secepatnya ketika masih di Muba.

“Semestinya Rohasan ditangani RSUD Muba dan jika tak sanggup langsung dirujuk ke RSMH dengan diantar ambulan dari Muba. Bukan malah dibiarkan saja menjadi semakin parah dan berangkat sendiri ke Palembang”, ujar seorang warga palembang mengomentari masalah Rohasan.

Ketika diketahui Rohasan sudah berangkat ke Palembang untuk berobat, apalagi malah ditangani pihak Pemprop, Pemkab Muba jadi kebakaran jenggot, hampir kecolongan.

” Nampaknya aparat bawah di Muba kena marah semua. Barulah mereka bergerak cepat ke Palembang”, ujar warga tadi. Kasus ini membuktikan bahwa program Sehat di Muba itu ternyata memang ada kendala di bawah. Kalau dari atasnya sudah sangat baik. Namun pelaksana di lapangan masih lamban dan kurang serius. Dan itu memang sudah etos kerja aparat kita, ujarnya.

Iklan

3 comments on “Dibalik Kasus Pengobatan Rohasan

  1. Memang aku lah ngeraso ado yang dak beres dengan MUBA tuh. Madaki segalonyo gratis. Bukannyo murah berobat tuh apo lagi amen penyakitnyo berat. Dari mano duit Pemkab MUBA tuh cak banyak nian sampe dak katak seri nyo lagi? Duit korupsi dari mano lah itu??

  2. Ass.wr.Wb.
    Aku heran ngapo alex itu selalu diomongin jahat.Oi ayu kau tau dak dulu sekayu tuh cak mano nian.tapi sejak alex jadi bupati sekayu tuh berubah nian.alex tuh bukan nabi yang dak pernah lalai. Apo kau pikir syahrial tuh hebat nian. di Univ PGRI masih ngutang.di Mesjid daerah perumnas masih ngutang. Di Parbumulih masih ngutang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s