Pertamina – PWI Gelar Diskusi Konversi Mitan ke Elpiji


Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat bekerjasama dengan PT.Pertamina menggelar Focus Group Discussion Dan Sosialisasi Konversi Minyak Tanah ke Elpiji, Senin (26/11) di Hotel Horison Palembang. Hadir dalam Acara tersebut Ketua PWI Pusat, Ir.Tarman Azam dan Vice Presiden Humas Pertamina, Wisnuntoro yang bertindak sebagai narasumber. Bertindak selaku Moderator adalah Kurnati Abdullah, Ketua PWI Cabang Palembang.

tarman-azam1.jpg

Acara yang mengundang para wartawan anggota PWI Sumsel, para pemimpin Redaksi, LSM, Ormas dan Mahasiswa di Palembang tersebut berlangsung cukup singkat. Diskusi hanya berlangsung sekitar 1,5 jam saja setelah didahului dengan acara makan siang bersama.

Ketua Umum PWI Pusat, Tarman Azam, mengatakan jika konversi minyak tanah ke elpiji yang saat ini telah dicanangkan oleh Wapres Jusuf Kalla adalah suatu program yang sangat baik dan memerlukan dukungan semua pihak. Elpiji selain lebih hemat dari minyak tanah, juga bersih dan ramah lingkungan.

“Untuk itu pemerintah harus benar-benar melakukan sosialisasi secara serius sehingga masalah konversi mita ke elpiji dan dipahami dan disambut baik oleh masyarakat”, ujar tokoh pers asal Bangka Belitung ini.

Menurut Tarman, pers adalah institusi yang paling tepat untuk membantu mensosialisasikan program konversi ini karena pers memiliki akses sampai daerah terpencil sekalipun.

“Masyarakat kita banyak yang masih ragu jika harus menggunakan elpiji. Inilah tugas pers untuk memberitahu”, ujarnya.

Sementara itu Vice Presiden Humas Pertamina, Wisnuntoro, menjelaskan jika program konversi minyak tanah ke elpiji adalah program yang sangat baik. Karena cepat atau lambat kita harus lepas dari ketergantungan kepada minyak tanah sebagai bahan bakar.

Menurut Wisnu, saat ini tinggal Indonesia dan beberapa negara di Afrika saja yang masih menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar sehari-hari.

Selama ini pemerintah harus mengeluarkan anggaran subsidi komponen sekitar Rp.4,2 Trilyun pertahun untuk mengimpor minyak tanah dengan biaya Rp.5,8 Trilyun. Sedangkan jika kebutuhan energi dialihkan ke elpiji maka dengan biaya Rp.5,5 Trilyun pemerintah hanya mensubsidi Rp.3,9 Trilyun saja.

“Dengan demikian setidaknya subsidi yang mesti ditanggung pemerintah akan berkurang sebesar Rp.300 Milyar”, ujar Wisnu.

Beberapa penanya yang sempat memberikan masukan tentang konversi mitan ini banyak menyoroti tentang masalah penarikan minyak tanah sebelum pembagian elpiji selesai, sehingga kerap timbulnya kelangkaan minyak tanah di masyarakat.

Namun karena waktu yang sangat singkat, diskusi tersebut hanya membuka sesi tanya jawab dengan pertanyaan yang kurang memfokus kepada permasalah utamanya.

“Masalah sanksi apa yang akan diterapkan kepada pihak-pihak yang menyelewengkan pembagian elpiji gratis sama sekali tidak dibahas”, ujar Ahmad Subari salah satu Wartawan yang hadir. Ia mengaku agag sedikit kecewa karena tak memiliki kesempatan lagi untuk mengajukan pertanyaan.

“Banyak Ketua RT yang memungut sejumlah uang kepada ibu-ibu untuk mendapatkan elpiji dan kompor gratis, namun siapakah yang harus menindak masalah ini”, ujar seorang wartawan lainnya.

Usai acara selanjutnya Tarman Azam langsung bertolak ke Jakarta bersama Wisnuntoro, sementara para wartawan dan undangan memperoleh bingkisan dari Pertamina.

“Wah dapat amplop juga pak, cuma isinya kecil amat, cuma Rp.50 rebu…ha..ha.ha”, ujar seorang Wartawan yang disambut tawa rekan-rekannya.

Iklan

2 comments on “Pertamina – PWI Gelar Diskusi Konversi Mitan ke Elpiji

  1. saya sangat setuju sekali dengan adanya konversi minyak tanah ke gas. namun sayangnya pengetahuan yang minim membuat masyarakat enggan untuk menimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. selain itu seharusnya pemerintah tidak dengan begitu saja menghilangkan minyak tanah yang sudah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat! setiap segala sesuatunya butuh proses, sesuatu yang instan selalu menimbulkan efek samping! dan itu terbukti dengan sikap masyarakat yang acuh pada peraturan baru! mereka rela mengantri selama berjam-jam hanya demi melestarikan budaya leluhur mereka! selain itu kurangnya kredibilitas dari pemerintah sendiri yang memberikan gas seberat 15Kg secara “asal” dengan bocornya tabung-tabung gas. masyarakat tidak berharap lebih pada pemerintah mereka hanya ingin menjalani hidup dengan seimbang? dan adakah turun tangan dari pemerintah secara continue? negara yang memegang landasan demokrasi berubah menjadi mobokrasi! sungguh ironis

  2. SALAM KENAL.
    Dengan FRONT KOMUNITAS INDONESIA SATU (FKI-1),Ormas Independen. Untuk lebih mengetahui kegiatan dan AD/ART FKI-1 dapat dilihat di Website:www.apindonesia.com. Sekretariat:Gd.Dewan Pers.Lt.5.Jl.Kebon Sirih No:32-34 Jakarta Pusat. Tlp:0213503349, 3864167. Email:satufki@gmail.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s