Proyek Pengerukan Sungai Musi Menyimpang?


musi2.jpg kapa.jpg

Setiap tahun pemerintah mengganggarkan dana yang cukup besar untuk mengantisipasi masalah pendangkalan Sungai Musi yang sangat parah. Menurut pihak Adpel Palembang, pendangkalan sungai Musi akibat sedimentasi lumpur mencapai 40 cm perbulan. Jika tidak dilakukan pengerukan maka akan menghambat jalur pelayaran kapal yang keluar masuk Sungai Musi.

Sayangnya setiap tahun pengerukan Sungai Musi lebih terkesan dijadikan proyek ketimbang mengejar sasaran. Proyek pengerukan selalu tidak maksimal, bermasalah dan sarat akan kepentingan pribadi.

Tahun 2003 pengerukan sungai Musi dibiayai dana konsinyasi dari beberapa perusahaan BUMN yang selama ini sangat tergantung dengan kondisi kedalaman Sungai Musi. Mereka patungan untuk membiayai pengerukan tersebut. Kendati dana tidak terlalu besar namun pengerukn tersebut cukup efektif. Kontraktornya adalah PT.Rukindo yang menggunakan kapal keruk Kalimantan I dan Kalimantan II.

Pada tahun 2004 pengerukan sungai Musi menjadi proyek rebutan antara pemerintah pusat dengan pemerintah propinsi. Saat itu pemprop Sumsel ngotot agar pimpronya ditunjuk propinsi, sedangkan pusat telah menentukan sendiri. Kondisi hasil pengerukan nampaknya kurang begitu efektif karena proyek pengerukan mulai dijadikan lahan basah.

Tahun 2005 proyek pengerukan Sungai Musi kasusnya sempat mencuat kepermukaan. Laporan BPK menemukan cukup banyak penyimpangan pada pekerjaan senilai Rp.9 Milyar tersebut. Bahkan KPK di Jakarta juga sempat melakukan pemeriksaan, namun tak satupun pejabat yang terseret ke penjara. Hanya Kepala Adpelnya yang dicopot dari Jabatan oleh pihak Dephub.

Hasil pekerjaannya cukup lumayan bagus. Bahkan kapal keruk yang digunakan adalah kapal keruk canggih milik Malaysia yang seluruh awak kapalnya berkebangsaan Rusia. Mereka kerja sangat profesional. Kontraktornya adalah sebuah perusahaan swasta yang serius dibidang pengerukan. Inilah pertama kalinya PT Rukindo, perusahaan BUMN spesialis dibidang pengerukan harus mengalami kekalahan tender di Sumsel.

Tahun 2006 lalu proyek pengerukan Sungai Musi juga mengalami banyak masalah. Anggaran sebesar Rp.15 Milyar lebih tak bisa digunakan dengan optimal sehingga sebagian besar dana tersebut harus kembali ke kas pemerintah pusat. Kontraktor pemenang tender bukanlah kontraktor profesional dan tidak memiliki kapal keruk dan kesulitan mencari sewaan kapal keruk sesuai spesifikasi proyek. Pekerjaan pengerukan jadi terlambat karena kapal keruk yang ditunggu-tunggu datangnya terlambat. Selain itu masalah administrasipun banyak kendala.

Menurut pihak pelaksana saat itu, proyek pengerukan tahun 2006 hanya rampung sekitar 37,5 persen, padahal kenyataanya itu tak tercapai karena dalam waktu yang sangat singkat dan kapasitas kapal keruk yang kurang memadai, jumlah lumpur yang dikeruk hanya sedikit sekali, tidak akan sampai 20 persen.

Nah, di tahun 2007 ini nampaknya maslah proyek pengerukan Sungai Musi akan mengalami nasib yang tak jauh berbeda dari tahun tahun sebelumnya. Hasilnya pun tak akan jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Tahun ini memang anggaran pengerukan lebih kecil jumlahnya dibanding tahun 2006 lalu, cuma sekitar Rp.13,2 Milyar. Hanya saja kendala yang dialami juga tak jauh berbeda dari tahun sebelumnya.

Pekerjaan proyek pengerukan yang semestinya dimulai sejak bulan Juli 2007 terpaksa molor hingga bulan Agustus. Pihak kontraktor sendiri baru mulai bekerja pada akhir bulan September 2007. Bahkan menurut seorang sumber mengatakan jika Kapal keruk pertama Benko 5 baru baru tiba dilokasi sekitar tanggal 1 Oktober, sedangkan kapal keruk yang satunya lagi Benko 8 hingga pertengan bulan november 2007 tak juga sampai di lokasi.

Menurut pihak Adpel Palembang, kapal kedua masih berada di Selat Bangka karena terhadang masalah gelombang pasang. Padahal menurut beberapa sumber, kapal yang dimaksud memang belum didatangkan dan mungkin baru akan datang pada akhir November.

“Ini nampaknya permainan kontraktor PT Mekar JayaAbadi. Mereka sengaja menyewa kapal keruknya sebentar, biar biaya sewanya tidak mahal”, ujar seorang warga yang mengetahui persis kapan pekerjaan pengerukan itu dimulai.

Selain lambatnya kedatangan kapal keruk, kondisi kapal keruknya pun tidaklah memuaskan. Kapal keruk tersebut hanyalah kapal ponton yang dilengkapi pompa sedot lumpur dengan kapasitas angkut yang sangat kecil.

Setelah muatan kapal keruk penuh oleh lumpur hasil kerukan selanjutnya dilakukan pembuangan. Waktu yang diperlukan untuk hilir mudik dari pengerukan ke tempat pembuangan hingga kembali ke lokasi titik pengerukan cukup lama. Hal ini menyebabkan hasil pengerukan tidak optimal.

Kapal itu kapasitasnya cuma sekitar 1500 meter kubik saja sedangkan untuk sekali pengerukan diperlukan waktu hingga berjam-jam.

Namun kendati kondisi kapal keruknya demikian, pihak Adpel mengklaim jika pekerjaan pengerukan di titik Selat Ajaran sudah selesai dengan jumlah lumpur yang bisa dikeruk sebanyak 188.500 meter kubik.

Kepala TU Adpel Palembang, Sahnan, menjelaskan jika pekerjaan pengerukan di Selat ajaran telah selesai dan kini pindah ke titik lainnya yaitu di Payung Utara lalu ke C2 dan C3. Pengerukan tersebut dilakukan di empat titik yang kedalamannya bervariasi antara 3,8-5 meter. Diharapkan, pascapengerukan nantinya kedalaman di empat titik tersebut menjadi 6,5 meter.

“Ini sangat ironi pak, dalam tempo singkat ternyata kapal dengan kapasitas kecil itu mampu mengeruk 188 ribu meter kubik lebih, padahal menurut seorang awak kapal, mereka mengalami kerusakan kapal selama tiga hari sehingga tidak beroperasi sama sekali”, ujar Sumber tersebut.

Dengan kondisi kapal keruk yang ada diduga kuat pekerjaan tersebut tidak akan maksimal sesuai ketentuan proyek. Apalagi tidak dilakukan Sounding terhadap hasil pekerjaan pengerukan oleh pihak yang independen.

“Ya namanya juga pekerjaan di dalam laut, orang tidak akan ada yang tahu jika sudah dikeruk atau belum. Lagi pula mereka semua sudah kompak”, ujar sumber tadi.

Menurut pengalam tahun-tahun sebelumnya, kendati jalur pelayaran sudah dikeruk ternyata masih saja ada kapal yang kandas karena dangkalnya endapan lumpur. Namun pihak pelaksana dan penanggung jawab pengerukan selalu berkilah jika kandasnya kapal tersebut karena berada diluar jalur pelayaran atau karena lumpur kembali mengendap dengan cepat, walau baru dikeruk sudah banyak lagi lumpurnya yang disebabkan demikian cepatnya endapan lumpur yang dibawa arus sungai atau akibat arus laut yang membawa lumpur dari tempat lain ke jalur pelayaran.

“Lumpr yang dikeruk juga ternyata dibuang disitu-situlah, bukan 2 mil dari tempat pengerukan. Hanya diluar jalur pelayan saja pak”, ujar sember tersebut.

Nah jika kondisi begini, bisa-bisa pengerukan sungai musi hanya akan jadi proyek mubazir saja. Padahal pihak pemerintah pusat sudah menjadikan pengerukan sungai Musi sebagai kegiatan rutin tahunan yang setiap tahun dianggarkan dengan dana APBN yang jumlahnya sangat besar.

“Pengerukan Sungai Musi Bukan lagi proyek, tapi kegiatan rutin di Departemen Perhubungan”, ujar sumber di Adpel Palembang.

Siapa yang mau mengawasi?

Iklan

One comment on “Proyek Pengerukan Sungai Musi Menyimpang?

  1. Kalau sudah begitu susah mau maju sumsel. Itu salah tender salah kontraktor dan pemerintahnya. Proyek proyek itu harus diawasi betul oleh pemerintah. Jangan hanya tidur dan terima setoran.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s