Kasus Benih Palsu Adalah Puncak Gunung Es Permasalahan Pertanian di Sumsel


petani.jpg petani2.jpg

Sumatera Selatan telah lama dinyatakan sebagai Provinsi Lumbung Pangan. Artinya dibidang pangan, Sumsel sudah menjadi prpovinsi yang swasembada, bahkan telah memiliki ketersediaan cadangan pangan yang aman untuk musim paceklik jangka panjang sekalipun. Sumsel tidak lagi menggantungkan urusan pangannya terhadap pihak lain. Sumsel tidak perlu lagi mendatangkan beras dari propinsi tetangga, apalagi mengimpornya dari luar negeri. Pendek kata, Sumsel sudah mampu mencukupi urusan pangan untuk rakyatnya sendiri tanpa memerlukan bantuan pihak lain. Bahkan Sumsel sudah mampu mensuplay propinsi lain. Sumsel juga bisa ekspor, karena sudah kelebihan pangan.

Kondisi masyarakat Sumsel yang mayoritas bermatapencaharian sebagai petani juga sudah hidup makmur. Mereka sudah tak lagi direpotkan dengan urusan makan. Tak ada lagi warga yang kelaparan. Harga beras murah dan petani sejahtera.

Itulah idealnya kondisi yang terjadi di sebuah propinsi yang berkualifikasi sebagai Provinsi Lumbung Pangan.

Namun apa yang sesungguhnya terjadi di Sumsel setelah dinyatakan sebagai Lumbung Pangan adalah sebaliknya. Sumsel masih dibuat pening oleh harga beras yang memberatkan. Sumsel cuma memiliki cadangan pangan paling lama untuk 3-6 bulan saja. Sumsel masih sangat tergantung pasokan dari daerah lain. Bahkan Sumsel masih mengandalkan impor beras dari luar negeri sekedar untuk mencukupi makan warganya.

Demikian juga dengan nasib petaninya. Sebagai warga mayoritas, petani di Sumsel umumnya masih hidup terbelakang dalam hal ekonomi. Mereka masih dipusingkan dengan masalah makan. Mereka juga tak pernah beranjak dari siklus hidup yang menempatkan mereka sebagai pihak paling lemah, santapan pemilik modal.

Nasib petani selalu menjadi bulan-bulanan pihak yang berupaya mengeruk keuntungan. Proyek-proyek di bidang pertanian tiap tahun dikucurkan bermilyar-milyar. Harapannya adalah pertanian bisa berkembang maju dan kesejahteraan petani meningkat.

Pembangunan-pembangunan sarana pertanian yang dikucurkan nampaknya hanya selalu jadi santapan lezat para Koruptor saja. Proyek pencetakan sawah beribu-ribu hektar kerap kali dipermainkan. Motifnya bisa jadi berupa proyek fiktif, proyek asal jadi atau proyek bagi-bagi rejeki.

Lihat saja dikawasan eks trasmigrasi di daerah perairan kabupaten Banyuasin. Hampir tiap tahun disana dikucurkan proyek perbaikan saluran-saluran pengairan (jalur). Dananya bisa hingga puluhan milyar sekedar untuk mengeruk saluran Primer dan Sekunder disana. Sayangnya, 99 persen pelaksanaanya menyimpang. Proyek-proyek tersebut dijadikan lahan untuk mengeruk keuntungan besar saja. Kenyataannya saluran yang dikeruk hanya bagian tertentu saja, Kedalaman pengerukan tak sesuai ketentuan. Bahkan biasanya, umpama panjang saluran Primer yang harus dikeruk sekitar 2,5 km, maka kontraktor masih akan menyisakan kerjaannya sekitar 500m-1 km. Sedangkan yang mereka kerjakan cuma sekitar 1,5 km sampai 2 km saja. Sisanya itu adalah fiktif.

Proyek-proyek sodetan dan saluran cacing bisa lebih parah lagi. Proyek yang umumnya terletak di daerah terpencil dan tidak ada yang memantau ini semuanya tidak beres. Pasti menyimpang dari ketentuan proyek serta manfaatnya hanya mubazir.

Selain didzalimi oleh proyek-proyek KKN, nasib petani juga masih didzalimi oleh permasalahan-permasalahan lain yang dibuat oleh “orang-orang pintar” di kota.

Masalah pupuk misalnya. Pemerintah pusat sudah berupaya membantu petani dalam mengatasi masalah kebutuhan pupuk. Pupuk PUSRI yang sudah disubsidi uang negara sepertinya menjadi barang langka untuk mereka dapati. Petani selalu terbentur dengan harga pupuk yang tinggi di pasaran.

Lantas kemanakah pupuk bersubsidi itu larinya? Bukan rahasia lagi jika pupuk bersubsidi itu justru jadi makanan empuk para Koruptor bangsa ini. Pupuk bersubsidi banyak diselewengkan dengan cara menjualnya ke industri perkebunan untuk memperoleh untuk yang sebesar-besarnya.

Lihat saja, hampir sebagian besar perusahaan perkebunan yang ada di Sumsel, terutama ketika ia memulai masa penanaman, mempergunakan pupuk bersubsidi yang telah disulap menjadi pupuk untuk industri. Pupuk bersubsidi terlebih dahulu diganti kantung dengan kantung yang tak ada tulisan Pupuk Bersubsidi. Daerah-daerah yang menjadi lokasi penggantian karung pupuk banyak terdapat di sekitar daerah km16 Palembang.

Para Distributor pupuk memang banyak “bermain” . Namun keterlibatan orang dalam Pusri juga tak bisa diabaikan. Mereka semua kompak bekerjasama.

“Pupuk bersubsidi sudah dipermainkan mulai dari tingkatan pabrik, distributor, agen hingga pengecer”, ujar seorang pengamat di Palembang.

Menurutnya, pupuk bersubsidi bisa mandeg di distributor atau agen dan malah berbelok ke industri, bukan ke pengecer lalu ke petani. Inilah penyimpangannya.

“Jika menjual ke petani jelas tidak memberi keuntungan besar. Namun jika dijual ke Industri, maka keuntungan besar sudah di depan mata”, ujarnya. Masalah pupuk bersubsidi nasibnya hampir sama dengan nasib BBM bersubsidi, tambahnya.

pupuk-palsu.jpg petani1.jpg

Selain masalah pupuk bersubsidi, hal lain yang menjadi faktor menderitanya petani sumsel adalah masalah barang-barang palsu. Misalnya pestisida palsu, pupuk palsu hingga yang terakhir heboh adalah benih palsu. Dengan kata lain, petani kita dijejali oleh segala seuatu yang palsu.

Terbukanya kasus benih palsu yang melibatkan pihak Dinas Tanaman Pangan Sumsel merupakan puncak dari permasalahan benih palsu yang sudah merajalela sebelumnya.

“Kasus benih palsu yang kini ditangani Polda ini adalah hanya salah satu kasus saja dari sekian banyak kasus yang sama namun tak pernah terungkap”, ujar seorang aktivis LSM di Palembang yang sangat getol membela nasib petani miskin.

Untuk itu ia meminta agar Polda benar-benar serius menangani kasus ini. Selain itu mestinya Gubernur juga berani menindak tegas Kepala Dinas Tanaman Pangan serta pihak yang terlibat lainnya, karena karena ulah mereka ini Sumsel Lumbung Pangan jadi tercoreng.

“Ironi sekali, di sebuah Lumbung Pangan kok masalahBenih palsu muncul, dan yang berperan adalah mereka yang semestinya bertanggung jawab penuh terhadap berhasil tidaknya program Sumsel Lumbung Pangan”, ujar aktivis tersebut.

Momen Kebangkitan Petani

Dengan berbagai deraan yang menimpa nasib petani secara terus menerus sudah seharusnya memberikan kesadaran kolektif bagi para petani di Sumsel untuk Bangkit.

“Para petani harus bangkit dan bergerak untuk menuntut hak-haknya yang selama ini terabaikan”, ujar sumber tadi.

Petani harus bersatu dan kompak. Mereka harus menuntut setiap upaya pendzaliman terhadap nasib dan masa depan petani harus diberantas dalam bentuk tindakan nyata. Mereka juga harus berani mengawasi proyek-proyek di bidang pertanian agar tidak terus-menerus dijadikan objekan pejabat dan kontraktor belaka.

“Jika perlu petani harus berani menolak proyek-proyek yang bakal tak membawa manfaat nyata bagi mereka”, ujarnya lagi.

Masih menurut sumber, jika saja seluruh petani di Sumsel bersatu, mereka berunjuk rasa menuntut haknya pada pemerintah, maka nasib mereka akan cepat terselamatkan.

Benar pak.

Iklan

One comment on “Kasus Benih Palsu Adalah Puncak Gunung Es Permasalahan Pertanian di Sumsel

  1. memang mental para oknum pejabat yang terkait yang perlu dieperbaiki.
    selalu petani yang dirugikan, selalu petani yang menderita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s