Edy Santana Merana, Uang Kalender Dipangkas Yansuri


Sejatinya diakhir tahun 2007 ini Pemerintah Kota Palembang menganggarkan dana sekitar Rp.700 Juta untuk pembuatan Kalender. Namun usulan pemasukan anggaran tersebut dalam ABT (Anggaran Belanja Tambahan) Tahun 2006 diganjal DPRD yang dengan tegas menolak usulan tersebut karena tidak jelas manfaatnya.

1.jpg 2.jpg

Eddy Santana yang dalam dua tahun terakhir ini memproduksi Kalender besar-besaran nampaknya masih belum puas melihat poto-potonya di kalender “promosi” yang sudah ada. Ia masih tetap berminat untuk membuat baru, gambarnya masih tak jauh beranjak dari gambar Eddy Santana yang mendadak jadi model dadakan. Ia ingin gambarnya lebih banyak ditempel di rumah-rumah warga.

Walaupun alasannya sosialisasi pembangunan, kalender-kalender tersebut lebih pas dikatakan sebagai sarana kampanye calon walikota ketimbang sebagai sarana sosialisasi pembangunan.

Pihak yang paling keras mengganjal impian Eddy Santana adalah Yansuri, Ketua DPRD Kota Palembang. Yansuri dengan tegas menolak anggaran sebesar itu sekedar untuk kepentingan politik Eddy Santana. Alasan Yansuri sangat tepat: Pembuatan Kalender Tidak Jelas Manfaatnya!

Alhasil dengan penolakan tersebut Eddy Santana menjadi merana. Setidaknya ia harus mencoba mencari cara lain untuk membuat kalendernya agar tak perlu merogoh kocek pribadinya.

Upaya gemilang Yansuri menjegal salah satu program kampanye Eddy Santana mendapat dukungan banyak pihak. Bahkan tak sedikit warga yang berharap agar DPRD juga berani melakukan tindakan serupa terhadap pos-pos anggaran yang tidak terlalu penting dari APBD.

“Uang pos bantuan sosial justru digunakan Eddy Santana untuk bagi-bagi setiap ia kunjungan untuk memperoleh dukungan. Kan tidak boleh uang rakyat digunakan untuk kepentingan politik”, ujar Hakim seorang warga Palembang.

Selain anggaran Kalender Politik Edy Santana yang dijegal DPRD, ada anggaran lainnya juga yang turut dipangkas habis. Yaitu anggaran untuk insentif RT yang jumlahnya Milyaran rupiah.

Munculnya ide Eddy Santana mengalokasikan dana insentif bagi para Ketua RT se kota Palembang adalah saat ia hadir dalam pertemuan Forum Ketua RT Kota Palembang. Dalam kesempatan itu Eddy berjanji akan memberikan insentif kepada seluruh Ketua RT.

Karena itulah Eddy Sentana nekad mencantumkan anggaran tersebut dalam ABT 2007 walaupun dalam anggaran iduk APBD 2007 sama sekali belum ada. Otomatis pihak DPRD yang dimotori Yansuri secara tegas menolak dengan alasan belum ada aturan tentang insentif kepada RT. Selain itu anggaran yang belum ada dalam APBD induk tidak boleh dianggarkan dalam ABT.

“Ya namanya juga Anggaran Tambahan, ya mestinya digunakan untuk menambah kekurangan bagi anggaran yang sudah dialokasikan dalam APBD induk”, ujar Yansuri.

Buntutnya, para Ketua RT dimobilisasi untuk mendemo DPRD agar dana tersebut disetujui. Namun DPRD tetap pada pendiriannya dan para ketua RT urung mendapat insentif Rp.300 Ribu perbulan.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s