Sumsel Lumbung Energi Gagal ?


Empat tahun sudah usia pemerintahan Gubernur Sumsel, Ir.Syahrial Oesman, memimpin propinsi terkaya ke lima di Indonesia ini. Tinggal satu tahun lagi kesempatan bagi mantan Bupati OKU itu untuk mewujudkan janji-janji dan program yang ia gembor-gemborkan dulu.

Di awal masa pemerintahannya, Syahrial Oesman langsung dihadapkan dengan tugas yang cukup berat. Pelaksanaan PON XVI Tahun 2004. Kendati pekerjaan Syahrial mensukseskan PON XVI tersebut tak terlalu berat lagi, karena hal-hal yang sulit dan beratnya telah dikerjakan oleh Gubernur terdahulu, Rosihan Arsyad, namun bagi Syahrial yang baru saja memulai jabatannya, pekerjaan itu terlalu besar dan hampir menyita seluruh waktunya. Alhamdulillah, PON XVI berlangsung sukses walau kerja mereka hanya mampu menguras uang rakyat saja, mereka sama sekali tak punya kemampuan merekrut iklan sebagaimana umumnya yang biasa terjadi pada even-even olah raga sekalibar nasional.

Lepas dari kegiatan PON XVI, Syahrial Oesman nampak belum punya inspirasi yang inovatif untuk mendukung kepemimpinannya. Baru pada tahun 2005 ia mendapat ide untuk melontarkan wacana : Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional.

Wacana menjadikan Sumsel sebagai Lumbung Energi Nasional terus bergulir ibarat bola salju. Masyarakat Sumsel semakin ramai dan latah mengucapkan dukungan atas program luar biasa tersebut. Dan puncaknya, benar Presiden SBY mencanangkan Sumsel Sebagai Lumbung Energi Nasional.

Segala upaya untuk mewujudkan Sumsel Sebagai Lumbung Energi Nasional terus dilakukan. Jalan-jalan Gubernur ke Luar Negeri menjadi kebiasaan baru Syahrial. Alasannya adalah dalam rangka menarik investor untuk mau menanamkan modalnya di sektor energi di Sumatera Selatan.

Satu persatu orang asing datang. Kedatangan mereka dari Erofa, China, India, Korea, Jepang, Kanada, Bulgaria dan lain-lain tersebut bermacam-macam keperluan. Ada yang sekedar penandatanganan MoU, Survey, maupun jalan-jalan saja. Dari sekian banyak calon “investor” tersebut nampaknya yang bisa benar-benar terbukti berinvestasi hanya sedikit sekali jumlahnya, bisa dihitung dengan jari sebelah tangan saja. Umumnya mereka cuma sebatas penandatanganan MoU lalu tak pernah ada kabarnya lagi.

Kampanye penggunaan batubara bagi kebutuhan rumah tangga juga dimulai dari Sumsel. Pak SBY sangat getol melakukan sosialisasi. Namun hasilnya, batubara sama sekali tidak mampu menarik minat masyarakat untuk memakainya. Kampanye batubara untuk kebutuhan sehari-hari nampaknya gagal total. Bahkan pabrik briket batubara di Tanjung Enim saat ini sudah sangat mengkhawatirkan. Ribuan karyawan terancam PHK karena perusahaan tempat mereka bekerja berpeluang besar untuk bubar. Hal ini dikarenakan briket batubara hasil olahan pabrik tersebut tidak laku.

Di bidang kelistrikan, dalam program Sumsel Lumbung Energi Nasional, Sumsel akan dijadikan sebagai propinsi pemasok energi listrik untuk pulau jawa. Rencananya Sumsel akan segera interkoneksi dengan jawa. Beberapa pembangkit listrik direncanakan akan dibangun dibeberapa mulut tambang. Ada yang terwujud, ada yang belum. Cuma yang baru bisa terwujud baru sebatas dalam kapasitas kecil. Sedangkan yang besarnya masih belum.

Pemerintah pusat yang telah mencanangkan Sumsel sebagai Lumbung Energi nampaknya tidak sungguh-sungguh sepenuh hati untuk menjadikan Sumsel sebagai Lumbung energi nasional. Pemerintah pusat ternyata masih juga melirik propinsi lain sebagai penyumplai energi nasional.

Satu hal yang sempat membuat drop semangat gubernur untuk mewujudkan Sumsel sebagai lumbung energi nasional adalah ketika pemerintah pusat mencanangkan program kelistrikan nasional yang sama sekali tak melibatkan Sumsel. Dari sepuluh pembangkit listrik berskala besar ternyata tak satupun yang berada di Sumatera Selatan. Tetapi ada di Jawa dan Kalimantan.

Memang, sepertinya keputusan pemerintah tersebut seperti kurang tepat. Padahal jika program kelistrikan itu dibangunkan di Sumatera Selatan, niscaya akan mampu mengatasi masalah kelistrikan nasional. Defisit listrik di pulau jawa dan bali pasti bisa diatasi.

Tapi kenyataannya pemerintah pusat tetap pada pendiriannya. Kendati dilakukan berbagai loby, tetap saja Sumsel tak kebagian proyek kelistrikan nasional tersebut.

Mulailah timbul kelesuan di pihak Gubernur maupun warga sumsel yang terlanjur yakin jika Sumsel akan benar-benar dijadikan lumbung energi nasional. Lambat laun, gembar-gembor Syahrial Oesman mulai melempem. Apalagi kenyataanya listri di Sumsel sendiri masih banyak kendala. Warga sering kecewa karena listrik di daerahnya sering mati. Juga kelangkaan minyak tanah sering terjadi. Pantaskah listrik sering mati dan minyak tanah sering langka terjadi di sebuah Lumbung Energi? Lantas manakah lumbung tersebut?

Masyarakatpun mulai tak respon lagi dengan Lumbung energi tersebut. Tahun 2006 gaung Sumsel Lumbung energi kian kendor, dan di tahun 2007 ini malahan sama sekali tak terdengar lagi. Gubernur tak berani lagi menggemborkan hal tersebut karen program tersebut bisa dibilang gagal.

Di Tahun 2007 ini, ketika Syahrial Oesman kembali harus mampu meraih simpati rakyat jika ia ingin terpilih kembali, kampanye lumbung energi tak lagi laku. Tanjung api-api juga tak bisa di jadikan daya tarik lagi. Paling-paling masalah Fly Over yang tidak rampung-rampung karena dikerjakan dengan tidak profesional.

Nah… kita tinggal lihat lagi… produk apakah yang masih bisa ditawarkan oleh Syahrial kepada rakyat calon pemilihnya ? Yang pasti kalau Lumbung Energi Nasional tak akan laku lagi pak….

Iklan

One comment on “Sumsel Lumbung Energi Gagal ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s