Dana APBD Jangan Dijadikan Biaya Kampanye Pribadi


proyek tahun jamak

Pemilihan Kepala Daerah di Sumatera Selatan akan banyak berlangsung di tahun 2008 mendatang. Sekurangnya ada lima kabupaten / k0ta serta pemilihan Gubernur Sumsel akan berlangsung di tahun itu. Maka tak heran jika di tahun ini segala upaya habis-habisan dilakukan para bupati dan walikota yang masih berambisi untuk menjabat kembali pada periode berikutnya.

Gubernur dan para Bupati serta Walikota yang berencana ikut pencalonan kembali tahun depan tersebut saat ini tengah sibuk-sibuknya berkampanye menggunakan keuangan dan fasilitas negara. Mumpung masih berkuasa mereka tak segan-segan menghamburkan dana APBD untuk membiayai kampanyenya.

Setiap hari mereka melakukan kunjungan ke setiap daerah dengan mengumpulkan massa sebanyak-banyaknya. Mereka juga dengan mudahnya menuruti setiap kemauan rakyat yang mengundangnya. Ketika rakyat meminta dibangunkan jalan, maka cukup dengan satu perintah saja kepada kepala Dinas PU, maka tak lama jadilah jalan. Warga juga boleh meminta apa saja kepada Gubernur atau Bupati/Walikota yang datang berkunjung tersebut. Bantuan-bantuan pun diserahkan.

Sepertinya hal ini memang sangat positif bagi masyarakat. Mereka bisa langsung bertemu dengan pemimpinnya lalu meminta sejumlah kebutuhan yang mereka perlukan untuk daerahnya. Pemimpin menjadi dekat dengan rakyat dan benar-benar bekerja turun langsung ke masyarakat.

Hanya saja, hal seperti itu tidak dapat dilepaskan dari kepentingan dan keinginan Gubernur atau Bupati/Walikota yang ingin mendapat simpati dan ujung-ujungnya minta dipilih kembali pada Pilkada mendatang. Kebaikan yang mendambakan pamrih dibelakangnya.

Mungkinkah jika momennya bukan karena sudah dekat dengan Pilkada para pemimpin ini masih mau repot-repot turun dan kerja ektra seperti itu? Jawabannya sudah pasti tidak.

Kita lihat saja dimasa orde baru dulu saat Gubernur dan Bupati/Walikota tidak dipilih langsung oleh rakyat. Mereka tidak pernah berusaha mendekati rakyatnya. Mereka hanya selalu melakukan pendekatan dengan para anggota DPRD yang bakal memberikan dukungan dan penentu masa depan jabatannya. Kini setelah Gubernur dan Bupati/Walikota dipilih rakyat, maka pendekatan dilakukan langsung dengan rakyat, sedangkan anggota DPRD nyaris luput dari perhatian.

Sebagai orang yang masih berkuasa, peluang untuk bisa terpilih lagi memang lebih besar ketimbang figur calon yang baru muncul. Setidaknya, dengan persediaan uang APBD di tangan, apapun bisa dikabulkan sekedar untuk memanjakan keinginan rakyat. APBD jadi alat dan modal Pilkada.

Perlu biaya besar

Karena ikut Pilkada diperlukan modal besar, selain dengan cara menggerogoti uang APBD, Gubernur dan Bupati/Walikota juga punya strategi mengeruk uang untuk modal Pilkada dari proyek-proyek yang dikucurkan. Terutama di tahun anggaran terakhir menjelang pilkada, Gubernur dan Bupati/Walikota akan memprogramkan proyek-proyek besar, agar fee untuk mereka juga besar. Bahkan dilakukan proyek dengan sistem Tahun Jamak atau Multi years, agar proyek yang dikucurkan dananya bisa melimpah. Proyek-proyek seperti itu bisa puluhan bahkan ratusnya milyar nilai dananya. Sedangkan pembayaran dari APBD atau APBN nanti akan dilakukan secara mencicil beberapa tahun anggaran. Nah dengan uang yang besar tersebut, maka cukuplah sang Gubernur atau Bupati/Walikota untuk mempersiapkan modal bagi pencalonan dirinya. Kalau bukan dari situ, dari manakah biaya yang mereka harus keluarkan dalam Pilkada mendatang?

Tapi yang sangat merugikan, karena proyek-proyek besar tersebut sesungguhnya adalah sekedar proyek mengumpulkan modal untuk Pilkada, maka hasil pekerjaan dari proyek-proyek seperti itu umumnya berantakan. Sebab pada pelaksanaanya, dana proyek tersebut bisa lebih dari separuhnya akan masuk ke kantong Gubernur atau Bupati/Walikota, sedangkan yang benar-benar berwujud untuk proyek hanya sebagian kecil saja setelah dipotong oleh keuntungan perusahaan yang pasti besar dan pajak-pajak.

Inilah yang terjadi saat ini. Bandingkan saja dengan daerah yang Bupatinya tak lagi ambisi ikut Pilkada. Di kabupaten Lahat misalnya. Disana Bupati sangat jarang rame-rame mengumpulkan massa, apalagi mau turun secara maraton ke desa-desa. Bupati Lahat juga tak menganggarkan proyek-proyek tahun jamak yang biasanya dananya sangat besar. Ini karena Bupati Lahat tidak memerlukan modal seperti Gubernur atau Bupati/Walikota yang mau ikut pencalonan kembali. Bupati Lahat tak bisa mencalonkan lagi karena sudah 2 periode ie menjabat.

Nah, gawatnya…. jika kelak sang pemimpin yang kini berkuasa itu ternyata kalah dalam Pilkada, maka tak sedikit dari mereka yang bisa terseret ke dalam penjara karena tuduhan korupsi. Yakinlah itu pasti.

Iklan

One comment on “Dana APBD Jangan Dijadikan Biaya Kampanye Pribadi

  1. saya mencurigai apa yang anda tuliskan di atas sedang terjadi di wilayah sumsel khususnya kotamadya prabumulih, yang mana pada saat ini sedang persiapan pilkadasung yang pertama. hal inidapat dilihat dari anggaran pos bantuan yang meningkat dari tahun sebelumnya (2007=Rp 12 M – 2008=Rp 19 M), yang mana kegunaan dari beberapa pos (organisasi kemasyarakatan,organisasi sosial kemasyarakatan)tidak jelas penggunaaannya dan ada indikasi untuk kampanye karena dana tersebut di berikan kepada para preman yang bersembunyi dibalik payung LSM (catatatan : LSM tersebut tidak jelas kegiatannya).dan beberapa pos lainnya dari tidak ada menjadi ada, yang mana ada indiksi untuk menarik simpati masyarakat. mungkin memang begitu dan sudah menjadi trade mark dari pemerintahan di indonesia. sayang apabila masyarakat menjadi korban untuk kepentingan pribadi ataupun golongan.Apalagi ada indikasi atau mindset “bila semua bisa dibeli dengan uang, jadi ngapain takut, tinggal bayar pake duet apbd, korupsi jalan terus” dan “tenang aja, gue ada masih saudara pejabat teras, jadi aman aja”.ini harus menjadi perhatian khusus bagi pemerintah pusat,

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s