Komentar Bupati OKU, Eddy Yusuf,SH, Tentang Munculnya Banyak Paguyuban : “Jangan Pecah Belah Lagi Bangsa Ini”


Maraknya pemben tukan paguyuban-pagu yuban kedaerahan di Sumatera Selatan dalam beberapa tahun terakhir ini menimbulkan kece masan berbagai kala ngan yang khawatir hal tersebut akan menjadi cikal bakal lahirnya semangat sukuisme yang bisa berdampak terhadap disintegrasi bangsa.

Eddy Yusuf

“Kita ini seperti kembali ke jaman sebelum tahun 1928 dimana kita dikotak-kotakan dalam berbagai kelompok. Ada Jong Java, ada Jong Sumatera, ada Jong Celebes dan lain-lain”, ujar Alex Effendi seorang praktisi hukum di Palembang.
Setelah peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 tidak ada lagi pengkotak-kotakan itu. Yang ada hanya Indonesia, ujarnya. “Tetapi mengapa sekarang kita mulai digiring ke arah pengkotak-kotakan lagi?’, ujarnya seraya bertanya karena heran melihat kondisi yang riskan tersebut.
Menurut Alex, kendatipun paguyuban saat ini tidak bermaksud untuk pengkotakan, tetapi hal ini bisa menimbulkan semacam kecemburuan dari pihak lain yang merasa diabaikan. “Nanti bisa muncul kembali sentimen Putera Daerah dan Bukan Putera Daerah, atau pendatang dengan pribumi”, ujarnya lagi.
Kalau yang menjadi target adalah dalam hal pelestarian budaya, kan tidak harus dibentuk paguyuban juga bisa, ujarnya lagi. Apalagi jika sekedar untuk kepentingan politik sesaat, jangan sampai mengorbankan keutuhan bangsa ini.
Kekhawatiran seperti penuturan diatas juga dirasakan oleh Bupati OKU Eddy Yusuh,SH. Menurut Bupati tersebut diwilayahnya sama sekali tidak dikenal kesukuan. Semua yang tinggal dan hidup di OKU adalah warga Indonesia yang tinggal di OKU.
“Bahkan istilah eks transmigrasipun sudah dihapuskan”, ujarnya.
Menurut Bupati yang juga menjabat sebagai Ketua Ormas MKGR Sumsel ini, paguyuban bisa berpotensi menimbulkan perpecahan. Kita sudah sepakat dalam NKRI. Kita tidak perlu lagi berbicara apa suku asalnya. Kita adalah sama, bangsa Indonesia.
Bersambung ke hal.11
“Kalau masalah budaya, orang jawa mau mentaskan wayang kulit sampai seminggupun boleh asal kuat saja, tidak akan ada yang menghalangi, silahkan saja”, ujarnya. Tetapi tak perlu dikotak-kotak lagi.
Bukan Pengkotakkan
Terbentuknya sejumlah paguyuban bukan merupakan pengkotakan ataupun pembagian kelompok-kelompok, melainkan sebagai wadah untuk menyatukan pola pikir kebersamaan dalam upaya sama-sama menjalankan dan mengisi pembangunan di Sumatera Selatan.
Dengan beraneka ragamnya Paguyuban termasuk beranekanya etnis dan kepercayaan, merupakan suatu kekuatan untuk bersatu dalam membangun suatau daerah, khususnya membangun daerah Sumatera Selatan.
Hal ini dikatakan Gubernur Sumsel, Ir.Syahrial Oesman.MM dihadapan sekitar 5000 warga Pujasuma, ketika menghadiri pelantikan pengurus Paguyuban Masyarakat Jawa Sumatera (Pujasuma) dan pengurus Paguyuban Masyarakat Palembang Bersatu (PMPB) wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Induk di Batumarta I, Kecamatan Lubuk Baru OKUI, beberapa waktu lalu.
Dijelaskan, terjadinya keaneka ragaman suku dan agama termasuk seni dan budayanya di negara kita Indonesia ini merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan memang sudah begitu adanya. Namun walau demikian karena keaneka ragaman itulah melalui kecintaan kita semua pada Bhenika Tunggal Ika sehingga menjadi kekuatan bangsa kita dalam memperjuangkan dan membangun Indonesia termasuk membangun daerah dalam wilayah Sumatera Selatan. Gubernur menyatakan untuk itulah, dengan keberadaan beberapa paguyuban di Sumsel ini perlu kita dukung dan kita jadikan kekuatan bersama untuk membangun Sumsel, Syahrial menambahkan.
Saat ini, tingkat perubahan budaya melalui proses akulturasasi maupun inkulturasi, serta ancaman terhadap kehidupan struktural bangsa sangat tinggi dan berpluktuasi, oleh karena itu peran masyarakat Pujasuma sebagai salah satu organisasi yang mempunyai posisi yang cukup signifgikan, memang sangat diharapkan dan diperlukan.
Sementara turut hadir dalam Kunjungan Kerja Gubernur ke kecamatan pemekaran itu selain Wali Pusat Pujasuma HR.Hariono, juga para Assisten Setda Pemprov. Sumsel, Ir.Budi Raharjo, Drs.H.Indra Rusdi, Ir.H.Eddy Djunaidi serta anggota DPRD Sumsel Dapil V dan para Kepala dinas dan Biro jajaran Pemprov. Sumsel.
Semoga saja. (Darso)

Iklan

6 comments on “Komentar Bupati OKU, Eddy Yusuf,SH, Tentang Munculnya Banyak Paguyuban : “Jangan Pecah Belah Lagi Bangsa Ini”

  1. Kalau Sum-Sel mau AMAN maka pemerintah harus berani membubarkan PMPB (Paguyuban Masyarakat Palembang Bersatu)…PMPB bukan Organisasi Masyarakat tapi Organisasi Preman..!!! Keberadaannya telah meresahkan masyarakat…dan PMPB tlh dijadikan Alat utk kepentingan politik.

  2. Melalui paguyuban asalkan sesuai dengan arti paguyuban itu insya Allah sumsel akan lebih maju. Paguyuban merupakan elemen budaya luhur yang perlu dilestarikan. Dalam budaya luhur terdapat dasar- dasar pendidikan moralitas yang akan mengarahkan pribadi menuju wawasan dan budipekerti luhur. Apabila dalam budaya luhur (paguyuban) hal- hal negatif, tesebut merupakan perilaku manusianya.

  3. Segala sesuatu yang mengakar dalam kehidupan masyarakat seperti budaya dan agama memang merupakan ladang subur bagi politik. Namun uniknya: kekhawatiran terbesar (‘dibesar- besarkan’) terhadap hal ini justru berasal dari pihak- pihak yang berkepentingan politik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s