SMA NEGERI 1 PALEMBANG ADAKAN STUDY LAPANGAN KE ITB


Dalam rangka pelaksanaan pembelajaran secara langsung di lapangan, SMA Negeri 1 Palembang mengadakan study lapangan ke kita Bandung dan Jakarta. Sebanyak 400 an peserta mengikuti kegiatan tersebut, yang kesemuanya merupakan siswa kelas X.
Kepala Sekolah SMA 1 Palembang, Drs. Nasrul Bani, M.Pd kepada Sumselnews Online mengatakan jika kegiatan ini merupakan program sekolah sesuai dengan kurikulum. Selain itu kegiatan study lapangan juga mengagendakan kunjungan ke Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung.
Peserta study lapangan yang berangkat dari Palembang menggunakan jalur udara untuk perjalanan selama 3 hari di bandung dan jakarta.
Salah seorang siswa dari kelas X IPA 4 yang tidak bersedia ditulis namanya mengaku sangat senang dengan kegiatan ini. Selain menambah ilmu dan wawasan, kegiatan ini juga jadi ajang liburan menjelang libur hari raya Imlek.
Kegiatan Study lapangan diawali dengan kunjungan ke kampus UI Depok. Selanjutnya rombongan melanjutkan kegiatan ke kampus ITB di Bandung.
Budi Mulyadi, Kasubdit Humas dan Publikasi ITB dalam seremonial penyambutan di Aula Timur ITB mengatakan bangga dengan siswa SMA 1 Palembang yang alumninya yang diterima di ITB setiap tahunnya cukup banyak.
“Mereka berprstasi dan luar biasa”, ungkapnya.
Selain itu rombongan berkunjung ke Taman Bunga Nusantara di kawasan Puncak Cianjur.
Kegiatan ditutup dengan shopping di kawasan Thamrin City Jakarta sebelum bertolak kembali ke Palembang pada hari minggu sore.

Pembangunan LRT Harus Kelar Dalam 2 Tahun


o_1a74aeau21spdihs145f6cundhc

Mulai tahun ini jalur jalan utama di Palembang dari kawasan Bandara SMB II hingga kawasan Jakabaring di seberang Ulu akan di sesaki kemacetan akibat proses kegiatan pembangunan lintasan Light Rail Transit (LRT), kereta sejenis monorel yang harus sudah selesai dan bisa beroperasi pada tahun 2018 mendatang.

Hal tersebut sebagaimana yang disampaikan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan saat meninjau kegiatan proyek tersebut beberapa waktu lalu. Jonan meyakini tidak akan ada kendala yang berarti yang bisa mengganggu kelancaran pekerjaan proyek LRT di Palembang ini.

images.j2pg
Pembangunan light rail transit (LRT) di Kota Palembang yang menelan dana anggaran pendapatan dan belanja negara sedikitnya Rp 7,2 triliun ini akan membelah Kota Palembang sepanjang 22,5 km dilengkapi dengan 13 stasiun.
PT Waskita Karya (Persero) Tbk. sebagai kontraktor pelaksana menyanggupi konstruksi fisik selesai pada Januari 2018, enam bulan lebih cepat dari deadline yang ditentukan dalam Peraturan Presiden Nomor 116 Tahun 2015, yakni Juni 2018.
Gubernur Sumsel Alex Noerdin pun menyatakan sangat optimis LRT akan selesai pada januari 2018 sehingga bisa digunakan untuk penunjang transportasi pada saat Asian Games 2018 mendatang.
“Insya Allah kita yakin sekali bisa selesai tepat waktu”, ungkap Gubernur yang berkepala plontos ini.
Menurut beberapa warga kepada Sumsel News Online pun mengaku yakin jika proyek ini akan kelar pada 2018 nanti, walau mereka memprediksi pekerjaan pada jalur diatas sungai musi jembatan Ampera akan lebih sulit dan lama pengerjaannya.
“Palembang jelas berbeda dengan kota lain seperti Jakarta karena kendalanya disini ada Sungai Musi yang sangat lebar dan kondisi di sekitar jembatan Ampera arus sungainya sangat deras dan cukup dalam.”
Jadi dipastikan tidak akan mudah, tambah Aswari seorang warga Palembang menuturkan.
Proyek Rawan Korupsi
Seperti halnya proyek-proyek besar lainnya yang ada di Sumsel, proyek LRT adalah termasuk salah satu yang rawan korupsi. Permainan kelas atas untuk berbagi untung memang sudah bukan hal yang baru terjadi di daerah ini. Walau KPK sendiri masih jadi macan ompong ketika harus berurusan dengan pemegang kekuasaan dan uang.
Pada pembuatan Dinding penutup lokasi proyek pembangunan LRT disepanjang ruas jalan yang dilalui, misalnya. Lebih dari 20 ribu unit dinding penutup yang terbuat dari bahan atap alumunium dengan tulangan besi holo dibuat dengan dana puluhan milyar rupiah dipasang untuk menutup lokasi pekerjaan. Proyek pembuatan diniding penutup ini diduga rawan penyimpangan. Penggunaan besi holo untuk tulangannya diduga terjadi pengurangan volume dan spesifikasi alumunium yang terlalu tipis sehingga dikhawatirkan dinding penutup ini tidak akan mampu bertahan lama, bisa keburu rusak hancur sebelum tahun 2018 saat usainya pekerjaan proyek LRT tersebut.
Bahkan ketika terjadi angin kencang, dinding penutup ini akan mudah roboh dan rusak.

images.j1 pg images.3jpg

Banyak Proyek Tahun 2015 Belum Kelar


Kendati tahun anggaran 2015 sudah dinyatakan tutup buku, namun tak sedikit pekerjaan proyek-proyek di tahun itu yang hingga kini masih belum kelar, bahkan ada diantaranya yang masih jauh dari 100 persen.

Pada proyek jalan dan jembatan yang dibiayai dana APBN misalnya, ada pekerjaan proyek penguatan jembatan Sungai Lilin dan jembatan bayung lincir yang hingga kini masih belum kelar juga, padahal diduga dana proyek tersebut sudah dicairkan semuanya.

Demikian juga pada proyek pembangunan bandara kota Pagar Alam yang didanai APBD Kota Pagaralam puluhan milyar, hingga tutup buku tahun 2015 lalu hingga kini masih belum selesai. Sedangkan anggarannya sudah dikeluarkan dan administrasinya sudah dinyatakan 100 persen tuntas.

Pada proyek dengan dana APBD propinsi pun masih ada pekerjaan yang terlambat penyelesaian, sedangkan keuangannya dan laporannya sudah 100 persen.

Alasan keterlambatan pekerjaan memang bisa beragam, dan sebagian diantaranya bisa dimaklumi. Namun jika pembayaran keuangannya sudah dinyatakan 100 persen berdasarkan laporan kemajuan fisik yang sudah dinyatakan 100 persen, maka hal tersebut adalah merupakan pelanggaran dan penyimpangan yang tidak bisa dianggap wajar. Laporan seperti itu dapat dikatagorikan sebagai manipulasi atau laporan fiktif.

HELMY YAHYA TELAN KEKALAHAN LAGI


Popularitas seseorang ternyata tidak menjadi jaminan untuk bisa memenangkan suatu pemilihan. Justru popularitas terkadang bisa menjadi kendala bagi seseorang untuk bisa terpilih.

Hal ini seperti yang terjadi pada sosok Helmy Yahya, seorang entertainer yang sangat terkenal namun mesti kembali kalah dalam suatu pemilihan Bupati di tanah kelahirannya sendiri. Helmy Yahya yang sebelumnya sudah sangat yakin akan menang terpaksa mesti kecewa karena mesti menerima kekalahan. Dan ini merupakan kekalahan yang kedua yang dirasakan Helmi dalam ajang pemilihan seperti ini. Sebelumnya ia kalah dalam pemilihan Gubernur Sumsel tahun 2008 saat ia tampil menjadi calon wakil gubernur mendampingi calon kuat incumbent Syahrial Oesman. Kini ia coba tampil menjadi calon Bupati Ogan Ilir berpasangan dengan anak sulung wakil Gubernur Ishak Mekki sebagai calon wakilnya. Sayang, dalam pemilihan ini Helmi kembali menelan pil pahit kekalahan.

Calon Bupati yang berhasil mempecundangi Helmi adalah seorang anak muda yang tak lain anak kandung Bupati incumbent Ogan Ilir, Mawardi Yahya.

Popularitas Bukan Jaminan

Bagi sebagian besar warga di kabupaten Ogan Ilir sepertinya nama dan sosok Helmi Yahya yang sudah sangat terkenal di Indonesia tidaklah menarik untuk mereka pilih menjadi pemimpin mereka. Bahkan tak sedikit warga yang menilai justru selama ini Helmi yang sudah sukses dan terkenal mereka anggap tidak peduli dengan daerah asalnya. Helmi hanya sibuk mensukseskan dirinya sendiri, namun tak banyak berbuat untuk ra di daerah kelahirannya.

“Dan sekarang ia baru muncul kasak kusuk minta dipilih”, ujar Mustar warga kecamatan Muara Kuang yang mengaku tidak simpatik dengan hadirnya calon bupati Helmi Yahya. “Ya, terlambat dong, sedangkan orang lain sudah berbuat sedaj dahulu”, tambahnya lagi.

Anak Herman Deru juga Kalah

Selain Helmi Yahya yang kalah di Ogan Ilir, salah satu calon Bupati yang ikut kompetisi di kabupaten Ogan Komering Ulu, yaitu anak dari Bupati OKU Timur, Herman Deru, yang juga seorang perempuan anggota DPD RI Utusan daerah Sumatera Selatan pun mengalami kekalahan. Ia yang sangat percaya diri akan menang ternyata menelan kekalahan dari lawannya, calon Bupati Incumbent.

 

 

 

bansos1

BANCAKAN DANA BANSOS SUMSEL 2015 CAIR


Di penghujung tahun 2015 ini Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan melalui Badan Kesbangpol mengucurkan kembali dana Bantuan Sosial (Bansos) bagi ratusan Ormas dan LSM di Sumsel yang sudah lama rame-rame antri menunggu ingin mengambil uang “jatah tahunan” tersebut. Hanya saja nilai bantuan tersebut jumlah untuk masing-masing ormas dan LSM jauh lebih kecil dibandingkan nilai bansos tahun-tahun sebelumnya.

“Nilai bantuan yang paling besar saja LSM hanya sekitar Rp.25 jutaan,” ujar salah seorang Ketua LSM yang memilih tak mengambil bantuan tersebut karena nilainya terlalu kecil dan waktunya terlalu mepet.

“Ini kan anggaran tahun 2015 yang harus dilaksanakan tahun 2015, sedangkan saat ini sudah pertengahan bulan desember, bagaimana saya bisa melaksanakannya jika dana bansos tersebut cairnya di akhir bulan ini”, tambahnya.

Menurut beberapa sumber, pencairan dana bansos di ujung tahun ini akan mendorong para pengurus LSM dan ormas untuk melakukan penyelewengan dana. Bahkan sebagian besar LSM yang akan menerima akan memilih melaksanakan kegiatan fiktif. Apalagi dana yang didapat jauh dari rencana anggaran yang sudah mereka susun. ” Jumlah itu tak kan cukup untuk apa-apa”, katanya.

Yang miris dari pencairan dana bansos tahun ini, seperti yang sudah menjadi rahasia LSM, ada beberapa orang yang mengajukan dana bansos dengan beberapa nama LSM namun orangnya itu-itu juga.

“Satu orang ada yang punya dua-tiga atau lebih LSM dan semuanya dibantu. Apalagi ada satu orang yang mengajukan 9 LSM dan semuanya dibantu rata-rata Rp.25 Juta”, tambah sumber lagi.

Untuk mencegah penyelewengan uang negara dalam proyek bansos ini hendaknya pihak-pihak berwenang betul-betul selektif melakukan pengecekan terhadap dugaan LSM fiktif, satu orang yang mengajukan bantuan dengan beberapa nama LSM dan ada tidaknya pelaksanaan kegiatan yang dibiayai bansos tersebut, serta sesuaikah dengan nilai uang yang dikucurkan.

Semoga dana Bansos tidak menjadi batu sandungan pemerintahan di Sumsel, yang bisa menyeret lebih banyak orang dalam lingkaran korupsi.