Sriwijaya

Mengais Jejak Kebesaran Sriwijaya “JIKA Sriwijaya merupakan kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara, kenapa tidak meninggalkan bekas- bekas kemegahan yang dapat diamati hingga kini?” tanya seorang mahasiswa.

PERTANYAAN itu segera mengundang berbagai pertanyaan dari para mahasiswa sejarah se-Sumatera yang cenderung meragukan kebesaran Sriwijaya, sebagaimana diajarkan di buku sejarah. Forum Ilmiah Mahasiswa Sejarah se-Sumatera di Museum Balaputra Dewa di Palembang, Sumatera Selatan, pertengahan Desember 2004 lalu serentak menjadi diskusi yang hangat.

Perbincangan tentang Sriwijaya selalu memancing diskusi berkepanjangan, mengingat keterangan tertulis ataupun dalam bentuk peninggalan arkeologis yang mengungkapkan kejayaan kerajaan maritim terbesar di Nusantara itu memang masih terbatas.

Sejumlah manuskrip dan prasasti tentang kerajaan yang berkembang abad ke-7 sampai dengan 13 Masehi di wilayah Sumatera itu banyak yang telah rusak, hilang, atau masih terkubur dalam tanah. Sejarah Sriwijaya justru banyak disusun berdasarkan berita-berita dari pengelana asing, seperti dari China, India, atau Arab.

Data arkeologis tentang Sriwijaya yang mula-mula muncul adalah prasasti Kota Kapur yang ditemukan JK van der Meulen di dekat Sungai Mendo, Dusun Kota Kapur, Desa Pernagan, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Desember 1892. Prasasti di atas tunggul batu itu berisi kutukan bagi mereka yang tidaktaat kepada Raja Sriwijaya.

Nama Sriwijaya mulai dikenal sebagai kerajaan sejak G Coedes menerbitkan artikel berjudul Le Royaume de Crivijaya tahun 1918. Sejak itu, Kerajaan Sriwijaya semakin menarik perhatian para peneliti dari Indonesia dan asing. Jejak-jejak Sriwijaya terus digali, dan temuan-temuan baru pun bermunculan.

Pada 17 November 1920 ditemukan prasasti Talangtuo di Desa Gandus, Palembang. Prasasti berisi tulisan huruf pallawa berbahasa Melayu kuno bertarikh 684 Masehi itu menyebutkan tentang pembangunan Taman Sriksetra oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Pada akhir Desember 1920, ditemukan prasasti Kedukan Bukit di tepi Sungai Kedukan Bukit, Palembang. Prasasti bertarikh 682 Masehi yang dipahat di batu kali itu menceritakan perjalanan Dapunta Hyang bersama balatentaranya untuk mendirikan wanua (tempat tinggal) Sriwijaya.

Prasasti Telaga Batu ditemukan di daerah Telaga Batu, Sabokingking, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang, tahun 1918. Prasasti yang diperkirakan berasal dari abad ke-7 Masehi ini berbentuk unik, yaitu lempengan batu selebar 1,4 meter yang bagian atasnya dihiasi tujuh kepala ular kobra. Bagian bawah lempengan dilengkapi cerat untuk mengalirkan air saat berlangsung upacara. Selain berisi kutukan, prasasti ini mencantumkan perangkat birokrasi Kerajaan Sriwijaya secara lengkap.

Prasasti lain yang juga berisi kutukan adalah prasasti Boom Baru yang ditemukan di daerah Boom Baru, Palembang, pada tahun 1992. Ada juga prasasti dari daerah lain, seperti prasasti Palas Pasemah dan prasasti Bungkuk dari Lampung. Selain itu, ditemukan potongan-potongan prasasti, arca, manik- manik, mata uang, struktur bangunan, potongan kapal, dan lebih dari 16 situs di Palembang.

Empat situs di antaranya memiliki penanggalan pasti sekitar abad ke-7 sampai dengan abad ke-8 Masehi, yaitu situs Candi Angsoka, prasasti Kedukan Bukit, situs Kolam Pinishi, dan Situs Tanjung Rawa. Peninggalan Sriwijaya juga ditemukan di Riau, Jambi, dan Thailand.

BUKU Panduan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya menyebutkan, berbagai prasasti dan peninggalan itu menggambarkan Sriwijaya telah berkembang sebagai kerajaan maritim yang besar, yang melakukan ekspansi hingga menguasai wilayah Malayu, Pulau Bangka, dan Lampung. Dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan di sekitarnya, Sriwijaya dapat menguasai jalur perdagangan internasional, serta pelayaran dari India ke China dan sebaliknya.

Berita dari China dan Arab menyebutkan, kapal-kapal Sriwijaya juga berlayar ke China dengan membawa berbagai komoditas perkebunan, seperti cengkeh, pala, lada, timah, rempah-rempah, emas, dan perak. Barang-barang itu dibeli atau ditukar dengan porselin, kain katun, atau kain sutra.

Guru Besar Sejarah dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Fatah Palembang Prof Dr Jalaluddin mengemukakan, Palembang merupakan bandar perdagangan yang strategis dan aktif mengembangkan hubungan dagang ke Persia, China, India, dan Pulau Jawa. Armada kerajaan itu telah melayari jalur perdagangan dari Teluk Parsi di pantai barat, selatan Asia, hingga ke China di pantai timur.

Kekuatan maritim dapat dilacak dari peninggalan kemudi kapal Sriwijaya yang ditemukan di Sungai Buah, Palembang, pada tahun 1960-an. Kemudi yang terbuat dari kayu onglen hitam sepanjang delapan meter tersebut saat ini tersimpan di Museum TPKS. Memperhatikan ukurannya yang besar dan panjang, kemungkinan kemudi itu digunakan untuk mengemudikan kapal besar guna mengarungi samudra.

Sriwijaya juga dikenal sebagai pusat studi agama Buddha dan pengembangan ilmu pengetahuan. Pengembara China, I Tsing, datang ke Sriwijaya dengan menumpang kapal dari Persia pada tahun 672 Masehi.

Dia mencatat, Sriwijaya saat itu telah menjadi kota dagang, kota pelajar, dengan penduduk dan raja beragama Buddha. Sarjana China itu sempat tinggal enam bulan untuk belajar tata bahasa sanskerta. Setelah berkunjung ke India, ia kemudian menetap selama sekitar tujuh tahun di bumi Sriwijaya. Dengan jumlah pendeta lebih dari 1.000 orang, pendeta Buddha yang ingin ke India dianjurkan untuk belajar setahun atau dua tahun terlebih dahulu di Sriwijaya.

Kebesaran Sriwijaya justru terlacak dari peninggalan di India dan Jawa. Prasasti Dewapaladewa dari Nalanda, India, abad ke-9 Masehi menyebutkan, Raja Balaputradewa dari Suwarnadwipa (Sriwijaya) membuat sebuah biara. Prasasti Rajaraja I tahun 1046 Masehi mengisahkan pula, Raja Kataha dan Sriwiyasa Marajayayottunggawarman dari Sriwijaya menghibahkan satu wilayah desa pembangunan biara Cudamaniwarna di kota Nagipattana, India.

Peneliti dari Balai Arkeologi Palembang, Retno Purwanti, mengutip prasasti Karang Tengah menyebutkan, Damudawardani dan Samaratungga (penguasa Sriwijaya) ikut memberikan sumbangan untuk membangun Candi Borobudur di Jawa Tengah, sekitar abad ke-8 Masehi. Ada juga keterangan tertulis yang menyebutkan raja Sriwijaya membangun candi Buddha di Thailand.

“Kalau ingin mencari candi bersama peninggalan Sriwijaya, sebaiknya datanglah ke Borobudur atau Thailand. Candi- candi itu berdiri berkat kebijakan atau bantuan dari Raja Sriwijaya,” papar Retno.

Kenapa Raja Sriwijaya tidak mendirikan candi di wilayahnya sendiri, misalnya di Palembang? Menurut Retno, Sriwijaya merupakan kerajaan maritim yang berada di tepian sungai dan hutan lebat di Sumatera. Karena tidak terdapat gunung berapi yang menyimpan batu, bangunan peribadatan, istana, dan rumah-rumah penduduk dibuat dari kayu atau bahan batu bata. Akibatnya, bangunan cepat rusak hanya dalam hitungan paling lama 200 tahun.

Sebenarnya ada juga struktur bangunan candi yang besar di beberapa situs di Palembang. Namun, sebagian besar struktur bangunan itu telah hancur atau terkubur dalam tanah, dan belum digali lagi hingga sekarang. Di situs Candi Angsoka, ditemukan struktur bangunan bata pada kedalaman dua meter dari permukaan tanah. Stupa beserta struktur bata terdapat pula di areal situs Bukit Siguntang. Situs Gendingsuro juga menyimpan tujuh sisa fondasi bangunan bata dan makara.

“Struktur bata itu kemungkinan merupakan bekas candi atau bangunan lain. Hanya saja, peninggalan itu terkubur dalam tanah dan permukaannya telah menjadi perumahan penduduk. Untuk mengungkap kebesaran Sriwijaya, para peneliti harus menggalinya kembali sambil berpacu dengan pesatnya pembangunan Kota Palembang,” tambah Retno.

KERAJAAN Sriwijaya runtuh pada tahun 1377 setelah muncul Kerajaan Singasari dan kemudian Majapahit di Mojokerto, Jawa Timur. Palembang kemudian dikuasai secara berturut-turut oleh para perompak dari China, Kesultanan Palembang Darussalam, dan pemerintah kolonial Belanda.

Namun, Sriwijaya akan tetap dikenang sebagai kerajaan yang berhasil mengembangkan kekuatan maritim, sosial politik, perdagangan, dan pusat studi agama Buddha yang disegani negara-negara di kawasan Asia Tenggara pada masanya.

“Kebesaran Sriwijaya tidak harus diindetikkan dengan peninggalan fisik yang megah. Tetapi, yang terpenting generasi muda hendaknya tetap mengingat Sriwijaya sebagai kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara,” tutur budayawan Palembang, Djohan Hanafiah. (Ilham Khoiri)

musi

 

29 Tanggapan

  1. Kebesaran Sriwijaya tidak harus diindetikkan dengan peninggalan fisik yang megah. Tetapi, yang terpenting generasi muda hendaknya tetap mengingat Sriwijaya sebagai kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara???
    Inilah salah satu pertanyaan yang sebetulnya kita sebagai warga propinsi sumatera selatan harus mampu melihat, apakah betul kerajaan sriwijaya itu terbesar di asia tenggara??
    karena sebagian besar bukti peninggalan yang sudah tidak ada. mungkin kata-kata terbesar tersebut perlu dipertanyakan lagi maknanya. bagaimana kita bisa bangga, jika sesuatu yang kita banggakan tersebut tidak ada realisnya.
    sebetulnya, jika kita mau serius dan mengkaji kebesaran kerajaan sriwijaya tersebut, tidak usah jauh-jauh. kita harus jeli menyimak perjalanan bukti-bukti kerajaan sriwijaya.
    salah satu contoh, kain songket palembang dan kerajinan pandai besi di daerah ogan ilir. ini lebih realis, ada buktinya. tidak sekedar kutipan dari buku Le Royaume de Crivijaya tahun 1918, ataupun berdasarkan pada nilai-nilai historis, yang saya pikir perlu dikaji kebenarannya.
    kain songket palembang dan kerajinan pandai besi di daerah ogan ilir lebih pantas dikatakan sebagai pondasi utama kerajaan sriwijaya. jika kemudian kedua bukti ini diasumsikan mendapat pengaruh dari daratan cina ataupun ikut kebesaran kerajaan-kerajaan di jawa dengan candi-candinya, maka sangatlah wajar jika kedua jenis bukti ini akan dilupakan, bahkan oleh orang yang mengklaim dirinya sebagai sejarahwan.
    merunut perjalanan kerajaan sriwijaya yang kemudian sampai pada kesultanan palembang, perlu diketahui juga bahwa pada masa kesultanan palembang, bukti-bukti tersebut masih jelas dan ada. sehingga yang paling mudah dan mendekati kebenarannya adalah mengkaji warisan-warisan dari kesultanan palembang, kain songket dan kerajinan pandai besi di ogan ilir.
    kenapa??
    pada waktu terjadi perpecahan dan perang saudara di kesultanan palembang akibat ulah belanda, beberapa keluarga kesultanan palembang mengungsi di daratan ogan ilir (sebelumnya ogan komering ilir). dengan pembagian wilayah sebagai berikut: untuk daerah pemulutan, indralaya, muara penimbung dan sekitarnya dijadikan sebagai basis pertahanan terhadap serangan balik atau mendadak dari pihak belanda. sedangkan untuk daerah ogan ilir, tepatnya desa mandiangin, desa tanjung dayang, dijadikan sebagai tempat tinggal orang-orang kesultanan. dan daerah limbang jaya atau pondok dijadikan sebagai ‘pabrik’ pembuatan senjata untuk keperluan perang para prajurit yang mengungsi. ini bukti yang masih ada sampai saat ini. demikian juga dengan kain songket, yang pada awalnya hanya ada didalam keluarga kesultanan saja, mulai diajarkan kepada penduduk atau warga setempat, yang lambat laun kemudian sangat merakyat didaratan ogan ilir. itulah sebabnya dulu, kenapa terjadi pembatasan dalam menggunakan motif pada kain songket palembang, yang ditentukan oleh titisan atau derajat dan pangkat seseorang dalam masyarakat. sampai saat ini kedua jenis bukti ini masih ada dan berkembang, tinggal menunggu sejarahwan ataupun budayawan yang mau mengkaji secara mendalam, sehingga kita tidak perlu berangan-angan memiliki kerajaan maritim terbesar, sementara kita tidak pernah melihat kebesaran-kebesarannya itu sendiri.
    terkadang nilai sejarah terlalu pada dengan legenda, sedangkan legenda itu sendiri mendekati mitos, dongeng sebelum tidur. kalau pada masyarakat jawa, lebih dekat dengan cerita bualan yang diciptakan oleh pujanggawan, yang lebih banyak nilai emosional dalam mentafsirkan sejarah itu sendiri.
    so, kalau memang ingin membuktikan kerajaan sriwijaya sebagai kerajaan maritim terbesar dan terluas, kaji kain songket dan kerajinan pandai besi secara mendalam dulu, barulah boleh mengklaim lain-lainnya.

    jika memang berminat, saya siap menjadi tim peneliti permasalahan tersebut.

    terima kasih.

  2. No Comment…
    Karena aku lagi cari data berkaitan tentang sejarah daerahku,sejarah suku-ku…GUMAY!
    Ada orang TOLOL yang mengarang buku bahwa Sumatera Selatan, Palembang khususnya berawal dari Lautan..
    Ada juga orang yang mengarang buku, berdasarkan hitungan angka tarikh per 25 tahun, kehadiran pendiri suku-ku bertepatan dengan masa – masa keruntuhan Kerajaan Sriwijaya…
    Apakah pendiri suku-ku berdiri sendiri ataukah merupakan sisa dari pelarian orang – orang Kerajaan Sriwijaya?
    Menarik untuk dikaji…Punya ide?Email Me………

  3. menurut saya tetap perlu dicari keberadaan fisiknya apabila masih di dalam batas kemampuan manusia. hal ini penting untuk menyelamatkan peninggalan (jika toh ada) dari eksploitasi orang asing.

    seperti halnya para ahli yang sedang berusaha mengungkap bahtera Nabi Nuh ato misteri Atlantis, kita perlu lah untuk mengungkapnya.

  4. sdr. deny,, masuk akal juga dengan paparan mu itu, sedikit tambahan bahwa dulu sungai komering berhadapan langsung dengan istana keraton yang diperkirakan berada di daerah Pusri dan sekitarnya, terakhir istana dipindahkan ke benteng kuto besak.

    dengan begitu keluarga sultan yang mengungsi ke daerah ogan ilir, tentu juga mudah untuk dijangkau atau diserang pihak belanda dengan menyusuri sungai komering, karena lebih dekat jarak dan waktunya, dengan melewati daerah jejawi-sp padang yang berada dipinggiran sungai komering kemudian memotong jalan melewati rawa dalam jejawi, maka akan tembus langsung ke daerah ogan ilir, inderalaya, muara penimbung dsb..

    oleh karena itu juga di daerah jejawi – sp padang ini oleh pihak kerajaan dijadikan juga daerah pertahanan, dengan menempatkan panglima perang dari mataram yang terkenal dengan nama Raden Mas Bayangan, dan sering disebut oleh masyarakat jejawi dengan buyut panjang. adapun barang peninggalan dari buyut panjang seperti Senjata Parang, Tombak, Keris, serta silsilah keturunan buyut panjang yang tercantum dalam lembaran kulit kayu yang hampir menyerupai kertas karton, dan cap bendera Mataram, yang terbungkus dalam bumbung bambu, tersimpan baik oleh beberapa orang yang masih punya trah dari buyut panjang.

    Selanjutnya memang kalau kita mau membangkitkan semangat SRIWIJAYA kembali, maka betul pertama kali kita harus menggali sejarah kesultanan Palembang. dari situ besar kemungkinan misteri sriwijaya akan lebih banyak lagi yang akan terungkap. jadi semua orang tidak lagi menganalisa sendiri sendiri mengikuti emosional masing masing, semua sejarawan harus kembali kepada data data yang nyata, seperti kain songket, kesenian gending sriwijaya, hiburan lenggang palembang, sejarah berdirinya daerah daerah sekitar palembang serta kalau masih ada peninggalan peninggalan sejarah dikumpulkan semua.

    Saya juga pernah dengar dari beberapa ahli sejarah, bercanda tentang kemana saja bukti peninggalan sriwijaya dan kesultanan palembang, pada hilang tanpa sisa, ada yang menjawab, ya mungkin dibawa oleh pihak musuh waktu perang, mungkin juga semuanya dibuang kesungai Musi. wallahu alam.

  5. sriwijaya iut sudah terbentuk lama banyak para ahli mengatakan sriwijaya ada pada beberapa daerah saya juga berasal dari lintang sumatera selatan, sejarah sumatera selatan sendiri sebenarnya lebih lama dari sriwijaya karena adanya peningggalan berupa candi yang di ketemukan di daerah pagar alam memang belum tergali semua tetapi ini menunjukkan betapa besarnya bangsa sriwijaya karena peninggalan ini diperkirakan sebelum masehi jadi alangkah lamanya bangsa ini sudah bediri adapun mengenai kesultanan palembang itu bukan keturunan raja-raja sriwijaya karena mereka berasal dari daerah jawa yaitu sari kerajaan majapahit jadi sangat bertentangan

  6. sriwijaya itu besar pertama kali atas kebesaran dapunta hyang sirijayanasa tetapi sebelum dapunta hyang adapun sebenarnya sudah ada bangsa karena dari peninggalan basemah menunjukkan bahwa bangsa ini sudah ada kerajaan seblum sriwijaya dan bahkan mungkin sriwijayapun memang dipindahkan dari gunung ke dataran rendah,nama sailendrapun menunjukkan nama raja gunung

  7. Anda juga dapat menelusuri sejarah awal kejayaan Kerajaan Palembang Islam, mulai sejarah Sunda Islam, Demak dan Mataram Islam. Selanjutnya kita bahas dalam wadah ini..?!!

    Terima kasih.

  8. hhhhhhhhhmmmmm……………Lumayan

  9. Pusat kerajaan sriwijaya itu sesungguhnya masih diperdebatkan. apakah berpusat di palembang atau di jambi.
    karena jambi ternyata memiliki komplek percandian yang terluas di asia tenggara, yang meliputi 12 km.
    tetapi karena sejarah di Indonesia hanya milik daerah yang merasa dirinya lebih kuat dibanding yang lain maka jadilah palembang mengklaim dirinya sebagai pusat kerajaan sriwijaya.
    komplek percandian muaro jambi yang terletak di kabupaten muaro jambi, tidak hanya wujud dari komplek percandian biasa tetapi juga merupakan perkotaan kuno yang luas pada masa lalu.
    kenapa? karena di muaro jambi dapat kita temui selain candi juga kanal diantara percandian yang memungkinkan perahu melintas.
    hebatnya lagi sesungguhnya komplek muaro jambi tersebut berpotensi luasnya melebihi 12 km, karena ternyata masih sangat banyak candi yang belum ditemukan.potensi tersebut diketahui dari banyaknya gundukan yang ada.
    kalau palembang merasa dirinya sebagai pusat kerajaan sriwijaya kenapa tidak ada komplek percandian yang luas.
    bagaimana mungkin pusat suatu kerajaan besar di nusantara tidak memiliki komplek percandian.
    kalau boleh lebih jujur, jambilah yang layak dikatakan sebagai pusat kerajaan sriwijaya.
    kenapa? karna bukti sejarah yang dimilikinya.
    cuma kendala yang ada proses pemugaran candi belum selesai 100 % karena terkendala dana.
    tetapi tenang saja karena uni eropa siap mengucurkan dana nya untuk membantu pemugaran candi di muaro jambi.
    anda tidak percaya candi muaro jambi sangat luas?
    datang saja ke muaro jambi.
    doakan komplek percandian muaro jambi mendapat status warisan budaya dunia.

  10. Kalo aq baco dari website luar. Mereka itu lebih mengakui kekuasaan Sriwijaya sebagai satu-satunya kerajaan terbesar di Asia Tenggara. Majapahit yang katony menguasai nusantara itu cuma bo’ong (meragukan). Majapahit itu cuma biso menguasai Jawo bae. Kareno dak katek catetan sejarahnyo. Sriwijaya itu malah pas jaya2nyo menguasai seluruh Sumatera, Jawa, Kalimantan, sedikit Sulawesi, Malaysia, dan sedikit Thailand. Candi Borobudur
    itu rasony emang bener yg bangun Sriwijaya kareno sebelumnya Balaputera Dewa itu tinggal di sano. Setelah terjadi perpecahan dan mulai muncul ny kerajaan mataram hindu dio pergi ke tempat kakekny di Palembang.

    Sriwijaya dianggep hebat nian kareno dio yang jadi cikal bakal kerajaan melayu di seluruh Sumatera, malaya, dan Borneo( kalimantan). Kerajaan Sriwijaya itu berbeda dengan Kerajaan Palembang dan Kerajaan Palembang Darussalam. Klo dari catetan sejarah Pendiri kerajaan Malaka itu Parameswara yang merupakan anak Raja Sam Agi dari Sriwijaya. Dio pergi dari Sriwijaya akibat kekalahan dengan Majapahit (ekpedisi pamalayu-bener dk). Biarpun kalah dan kerajaan ny pindah ke malaka. Tetep be Majapahit dak pernah biso naro adipatinyo di Palembang. Malah palembang jadi pusat bajak laut cino. Sampe2 Rajo dinasti ming ngirim Laksamana Ceng ho untuk menumpas bajak laut itu. Cerito ttg bajak laut ini terkenal nian. dan cengho inilah yang membentuk komunitas cino di palembang. Sebelumnyo Parameswara ke malay dio ke Singapure dulu cuma gara-gara dak sanggup ngadepi serangan kerajaan Siam, dio ke malaysia dan buat kerajaan lagi disano. Kerajaan malaka ini tetep membina hubungan baek dengan cino cak Sriwijaya dulu. Inilah yang ngakibatke wong luar lebih taw Malaka dibandingke Majapahit. Gawe presiden qt wong jawo jadi cerito majaphit itu dilebih-lebihke nian sampe pacak ngusai nusantara.

    Kerajaan Palembang dan Palembang Darussalam itu emang ado hubungannyo dengen jawo. Kerajaan palembang itu didirike oleh Ariodillah pas abad 15, Dio sebenernyo adipati majapahit jadi pas majapahit nk roboh tula baru biso naro adipati di Palembang, gara2 bajak lautny la ditangke Cengho pulo. Dari bininy Putri Campa lahirla Raden Fatah cuma itu bukan anak dio tp anak Rajo terakhir majapahit, Brawijaya V. Setelah majapahit mati kerajaan ini vakum. Trus gara2 ribut2 di Kerajaan demak, Keturunan Pangeran Trenggono (keturunan Radden Fatah jugo) pindah ke Palembang di pimpin Ke Gede Sedo Ing Lautan dan dirike kerajaan Palembang Darusalam neruske kerajaan Palembang yang vakum.

    Setelah di Jawo muncul Kerajaan mataram yang Pangeranny itu jugo masih keturunan Raden Fatah maka hubungan Palembang Darussalam dengan mataram akrab nian. Itu la pacak ado panglima mataram itu Raden Mas Bayangan. Lagian Palembang ngeraso dilindungi jugo samo Mataram akibat dari anceman Kerajaan Banten.
    Akhirnyo Palembang ancur jugo akibat serangan belando bekali-kali. Trus Rajonyo Sultan mahmud Baddaruddin II di asingke ke maluku. Waktu itu belando nawarke jabatan rajo boneka ck yogya dan solo itu, cuma baddaruddin 2 nolak dan menurut dio kerajaan Palembang darussalam itu di hilangke be. Kareno itu dak katek lagi rajo2 setelah belando bekuasa di palembang.

  11. ada satu ajaran peninggalan jaman kerajaan sriwijaya yang sampai saat ini sangat dihargai dan dihormati oleh masyarakat di tibet…

    namanya adalah ajaran transformasi pikiran… di tibet di sebut dengan nama Lojong.

    ajaran untuk mengubah pikiran menjadi penuh kasih sayang pada semua mahluk tanpa pilih kasih…

    orang tibet menyebut orang sumatera jaman sriwijaya dengan sebutan serlingpa…

    dan ada dua guru yang berasal dari sriwijaya yang sampai saat ini sangat dihormati di tibet… karena ajarannya … bahkan Dalai lama pun sangat menghormati guru -guru dari sriwijaya ini…

    nama guru-guru dari sumatera ini yang sekarang bahkan sudah tidak dikenal namanya di tempat asalnya sendiri adalah…

    Dharmakirti dan Dharmaraksita

  12. Aku setuju kalu Sultan Palembang yang sekarang ini bukan keturunan Kerajaan Sriwijaya. Sultan Palembang ini adalah keturunan Kerajaan Palembang Darussalam yang beragama Islam yang ada di kota Palembang pada saat Kerajaan Sriwijaya sudah atau mulai runtuh. Jadi tidak layak kalau orang-orang di dalam susunan kesultanan ini menyebut diri sebagai keturunan Sriwijaya. Tolong jangan di campur adukkan antara kebudayaan Sriwijaya dengan kebudayaan Kesultanan Palembang Darussalam. Terima kasih.

  13. mengenai Dharmakirti dan Dharmaraksita aq setuju nian,, bahkan duo ikot wong ini terkenal nian.. Sayang nian di palembang la dilupoke

  14. Mengenai bukti klo Sriwijaya yang jadi awal budaya melayu aku tunjukke Sejarah Melayu yang aslinya ditulis sekitar tahun 1511, ditulis kembali dari pelbagai versi, antaranya oleh Abdullah ibn Abdulkadir Munsyi yang menulis kembali teks tahun 1612. Teks yang menceritakan Palembang dari Sejarah Melayu:

    ….. ada sebuah negeri di tanah Andalas, Perlembang namanya, Demang Lebar Daun nama rajanya, asalnya daripada anak-cucu Raja Sulan; Muara Tatang nama sungainya. Adapun negeri Perlembang itu, Palembang yang ada sekarang inilah. Maka Muara Tatang itu ada sebuah sungai, Melayu namanya; di dalam sungai itu ada sebuah bukit Seguntang Mahameru namanya.

  15. Ada yang punya biografi Sultan Mahmud Badarudin II gk?Kalo ada, tolong dishare dong.

  16. Sejarah Sriwijaya memang belum memberikan bukti yang meyakinkan kepada generasi muda bahwa memang Sriwijaya mnerupakan kerajaan maritim terbesar di masa lalu. Untuk itu, perlu buklti berupa peninggalan konkrit yang bisa membuat kita yakin bahwa Sriwijaya memang besar. Bukan sekedar bandara SMB II atau nama-nama yang menggunakan Sriwijaya yang lainnya.

  17. bagus nian cerito ni,,,setuju nian aku mbahas ttg kerajaan sriwijaya,,jd memang kemungkinan kerajaan sriwijaya tu bangunannyo byk terbuat dari kayu dan bata..bukan batu gunung/sungai, seinggo dak tahan lamo…

  18. memang banyak perdebatan mengenai lokasi sriwijaya, tapi coba lihat peninggalan yang ada di keduakn bukit itu banyak sekali jabatan2 mengenai sriwijaya dari anak raja sampai bawahan,menurut perkiraan saya sriwijaya dibangun oleh bangsa sriwijaya sendiri karena banyak peninggalana yang terdapat di pagaralam,kalau mengenai silisilah tentang keturunana orang sriwijaya kami mempunyai sampai atas itu bisa kita lihat bagaimana orang2 siriwijaya yang pergi meninggalkan palembang karena kecewa adanya ekspansi kerajaan majapahit mengenai anak2 anak raja sriwijaya yaitu sang nila utama yang lari ke riau yang beranak pinak keturunannya menjadi raja seperti parameswara raja dari malaka yang menemukan singapura, kemudian sang nila pahlawan yang menjadi raja di minangkabau , sedangkan si bungsu berada disumatera selatan mengenai peninggalannya ada di malaysia berupa pedang sriwijaya sedangkan mahkotanya berada di padang kami kurang tahu siapa yang memegang ingat siriwijaya bukan palembang darussalam karena lain keturunan memang gelar raden itu ada juga di keturunan sriwijaya tepai sangat berbeda dengan yang ada di kerajaan palembang darussalam

  19. mengenai kebesaran kerajaan siriwijaya sudah banyak yang terbukti coba lihat mengenai sejarah malaysia betapa berpengaruhnya kerajaan sriwijaya didalam sejarah mereka bahkan ada seorang pangeran yang lari ke philipina selatan dan baranak pinak sampai sekarang sriwijaya merupakan kerajaan maritim terbesar di nusantara kalau kita baca sejarah banyak daerah2 menjadi daerah basis pertahanan sriwijaya

  20. Bagaimana hubungan antara Kerajaan Sriwijaya yang beragama Budha dengan Candi Hindu yang ditemukan di Desa Bumi Ayu, Kabupaten Muara Enim ? Candi itu terletak di pinggir sungai Lematang yang bermuara ke Sungai Musi di Palembang. Ada yang berpendapat Candi di Desa Bumi Ayu itu sekitar abad 8 atau 9 SM sedangkan Sriwijaya tumbuhnya sekitar abad 10 SM. Mungkinkah kata ” muara tamwan” yang dimaksud dalam salah satu prasasti di Palembang itu menunjukkan kata Muara tempat pertemuan sungai ? yaitu sungai enim dan sungai lematang yang tepatnya adalah di Muaraenim ? Mohon para ahli arkeologi di Sumsel dapat sedikit memberikan penjelasan.Sebab saya beberapa tahun yang lalu dikasih cara membaca gaya huruf ULU oleh salah seorang yang ahli dan hasilnya saya dapat membaca beberapa bagian tulisan yang ada di tanduk kerbau di desa saya. Diantaranya ( maaf, tulisan ini dapat dibaca dalam bahasa daerah saya yaitu Muaraenim): “Raje sakti kecik gilik, jeme kemangahan gale, Raje Sakti beselindang kuning” yang lain lagi: “punjen kuningan Raje titek kayek”. nah tapi sejauh itu saya tidak mengetahui Raje sakti itu adalah Raje yang mana ? Apakah raja Sriwijaya yang sedang melakukan muhibah ke daerah ?.

  21. kalau kerajaan sriwijaya, sudah terlalu lama hilang, bekas peninggalannya yang benar2 mewakili keberadaannya di palembangpun sangat susah didapati, kecuali kalau tim sejarah mau membongkar situs situs dipalembang, sperti PUSRI, BENTENG KUTO BESAK, DAERAH 3 ILIR sktrnya, KUTO GAWANG, dan kemungkinan juga pencarian di dasar sungai MUSI, nah apa mungkin terjadi ??

    yang lebih menggelitik hati saya adalah adanya kerajaan THAILAND sekarang ini, kalau dilihat dari sudut budaya, agama, ada kesamaan, nah apakah ini adalah kelanjutan dari kebesaran sriwijaya ???
    kalau pun bukan, lantas kenapa ada ditemukan patung raja balaputradewa disana, bagaimana hubungan keduanya??

    Para ahli sejarah harus bisa mengungkap semua ini dan di publikasikan kemasyarakat Indonesia, sekarang ini ada kesannya ahli sejarah kita sangat pasif dengan usaha untuk menggali informasi ttg keberadaan Sriwijaya, ataukah ilmu sebagai ahli sejarah masih amatiran…

    banyak sumber sumber yg bisa mewakili untuk mendapatkan informasi ttg SRIWIJAYA, bisa dari kerjaan BELANDA, kerjaan Thailand, Burma, LAOS, Kamboja, TURKI, bahkan portugis dan inggris.

  22. mau cari bukti banyak,…………
    gampak kok,
    tinggal gali atau keruk aja disepanjangan sungai musi ,
    kalau masalah dana ya,……..
    dicari solusinya,……

  23. dari banyak cerita kakek n org2dulu.candi2 peninggalan kerajaan sriwijaya ditimbun seperti candi borobudur.kemungkinan candi candi itu ditimbun di bukit mahameru daerah bukit besar.dan di gunung meru/komplek kuburan di plaju.sekarang siapa yg bisa membongkar kedua tempat tsb//

  24. terima kasih yaa

  25. kalau hanya melihat jambi saja coba lihat juga pagaralam karena pagaralam pun juga ditemukan candi karena lebih tua dari daerah jambi candi itu bisa dibuat dimana saja sedangkan kerajaan nya bisa dimana saja bukti sudah bahwa palembang adalah tempat kerajaan sriwijaya bukan di jambi

  26. Sumatera Selatan merupakan salah satu Provinsi Lumbung Energi dan Pangan Nasional. Sekarang ini telah diluncurkan program berobat gratis dan sekolah gratis, ini merupakan upaya pemerintah daerah untuk menyehatkan baik fisik maupun mental seluruh masyarakat Sumatera Selatan, serta menciptakan Sumber Daya Manusia Sumatera Selatan yang lebih berkualitas.

    Salah satu contoh :
    Banyak Putra-putra Daerah SUMSEL yang menggali ilmu baik diluar negeri maupun didalam negeri.
    saya Syarkoni, S.Psi salah satu putra daerah yang sedang menggali ilmu di kota Yogyakarta dan tinggal di Balai Sriwijaya.

    Salam kenal buat rekan-rekan dari SUMSEL.

    Syarkoni.

  27. Mohon diskusi tentang kerajaan sriwijaya dan yang menyangkut seluruh aspek SUMSEL sebaiknya dikupas tuntas..sehingga kita semua dapat mengerti dan paham tentang palembang kito..

  28. ehm…palembang emang kerajaan yang dulunya berjaya. semoga selalu terjaga dari segala godaan yang terkutuk.

  29. sangat sulit memang untuk mengetahui sajarah sriwijaya secara keseluruhan, kalau saja pemerintah mau membiayai para arkeolog untuk secara serius saya rasa bisa, dan dimulai dari situs2 yang sudah ada. bila perlu panggil para supranatural untuk mencari kerajaan maritim tersebut.

Tinggalkan Balasan