Konflik PTPN Cinta Manis Masih Akan Panjang
Konflik PTPN VII Cinta manis dengan masyarakat sekitar di kabupaten Ogan ilir Sumatera Selatan nampaknya masih akan berlangsung lama. Hal ini dikarenakan sikap keras dari perusahaan pemasok gula itu untuk tidak akan memberi peluang kepada warga yang menuntut pengembalian lahan yang telah diambil perusahaan itu sejak tahun 1982 lalu. Warga mengklaim jika hingga saat ini tanahnya tidak pernah diganti rugi oleh perusahaan itu, sedangkan PTPN bersikukuh mengaku telah mengganti rugi dengan bukti-bukti yang dimiliki.
Konflik yang telah berlangsung selama bertahun-tahun itu puncaknya terjadi pada beberapa pekan lalu. Ribuan warga dari beberapa desa mengepung pabrik gula tersebut dan meminta perusahaan mengabulkan tuntutannya. Puluhan hektar kebun tebu dibakar massa dan beberapa alat berat yang ada ikut dibakar.
Atas kejadian yang berbuntut bentrok massa dengan aparat itu berlanjut dengan upaya penangkapan beberapa warga yang dinilai penyebab terjadinya amuk massa tersebut.
Atas kejadian itu nampaknya perusahaan lebih memilih menggunakan kekuatan aparat bersenjata ketimbang melakukan dialog yang memberi opsi mengabulkan tuntutan warga.
Dalam press realese yang dimuat dibeberapa surat kabar lokal pihak manajemen PTPN akan tetap dengan keputusannya semula untuk tidak mengabulkan tuntutan warga yang meminta pengembalian lahan.
Sekretaris perusahaan yang mengatasnamakan manajemen perusahaan, dalam pernyataannya menyatakan jika perusahaan tersebut telah melakukan semua prosedur yang benar dalam pembangunan perkebunan di wilayah ini. Ia juga mengaku telah membayar semua lahan yang dipermasalahkan warga tersebut.
Sikap keras perusahaan yang tidak melayani kemauan warga bisa saja akan menambah panjang jalan menuju upaya damai antara warga dengan perusahaan. Bahkan penangkapan dan sikap refresif aparat keamanan bisa menimbulkan sentimen yang semakin tajam di masa mendatang.
“Penangkapan warga oleh kepolisian hanya akan menambah panjang dendam warga terhadap perusahaan”, ujar Mashudin Warga Lubuk Keliat saat dimintai komentarnya.
Warga akan terus melakukan perjuangannya hingga perusahaan mau mengabulkan. Seharusnya pemerintah tidak tinggal diam dan tidak berpihak kepada perusahaan saja, melainkan mencari jalan keluar yang adil dan memperjuangkan nasib rakyat yang sudah puluhan tahun didzolimi oleh perusahaan itu, tambahnya lagi.
Kini suasana disekitar perusahaan mulai berlangsung kondusif pasca kerusuhan yang banyak memakan korban itu. Warga memilih diam dan pihak kepolisian semakin aktif melakukan penegakkan hukum.
Hanya saja upaya penegakkan hukum yang dilakukan hanyalah akan menjadi penambah luka baru dihati warga, dan tidak mustahil kerusuhan yang lebih besar akan terjadi lagi dimasa mendatang.
GALI LAGI, GALI LAGI !
Aksi gali menggali di sepanjang jalan di kota Palembang seperti tak pernah berhenti. Baru beberapa waktu lalu digali untuk pasang kabel listrik, pasang pipa gas, atau pipa PDAM, eh kini sudah digali lagi. Entah untuk apalagi.
Akibatnya jalan yang belum lama diperbaiki sudah jebol dan rusak lagi. Disana-sini tumpukan tanah bekas galian dibiarkan menumpuk di pinggir jalan. Jalanan tambah kotor ketika hujan datang. Bekas galian tidak tutup lagi seperti semula. Jalan yang berantakan dibiarkan begitu saja.
Inilah kenyataan yang kita jumpai di kota ini, entah sampai kapan akan terus terjadi. Pembangunan jalan atau trotoar yang menghabiskan uang rakyat tak sedikit akhirnya mubazir percuma. Inilah kerja para pemimpin kita yang tidak mengerti bekerja profesional.
Untuk menggali tanah pada pemasangan pipa atau kabel bawah tanah di kota Palembang sebenarnya tidak bisa sembarangan dilakukan. Mesti ada izin dari penanggungjawab infrastruktur kota. Biasanya Dinas PU yang punya kewenangan ini. Pihak manapun yang telah mengantongi izin untuk memasang pipa atau kabel galian mesti menyiapkan anggaran sendiri untuk perbaikannya. Yang biasa terjadi saat ini di kota ini adalah pihak Dinas PU yang menerima dana untuk menutup kembali bekas galian seperti semula tidak melaksanakan kewajibannya, namun tetap membiarkannya sedangkan untuk perbaikan akan dibebankan pada anggaran negara yang akan dianggarkan tahun depan. Sedangkan uang yang diminta dari pihak pemilik pekerjaan galian tidak ketahuan lagi kemana raibnya. Alhasil, galian-galian di sepanjang jalan merupakan keuntungan bagi mereka karena uangnya bisa masuk ke kantong pribadi. Begitulah selalu yang terjadi.
Kini kita banyak menemukan galian di sepanjang jalan. Entah berapa bapak uang yang diminta Dinas PU, entah kemana lagi larinya uang itu nanti. Kita sendiri tidak pernah tahu, yang kita tahu jalanan jadi rusak, berlobang dan becek saat musim hujan.
AKHIRNYA ALEX NOERDIN KALAH LAGI
JOKOWI MENANG, SEBAIKNYA FAUZI BOWO MENYERAH SAJA DI PUTARAN KEDUA
Setelah tahun lalu sang anak Dody Reza Alex kalah dalam Pemilihan Bupati kabupaten Musi Banyuasin, kini giliran sang bapak yang juga harus menanggung kekalahan dalam Pilgub DKI yang diikutinya. Saat menanggapi kekalahan anaknya dulu, ia tak begitu saja bisa menerimanya. Ia langsung mengajukan tuntutan ke Mahkamah Konstitusi. Namun pada kekalahan dirinya di Jakarta, justru Alex lebih memilih diam tak melakukan aksi. Hal ini mungkin saja karena kekalahan pada Pilgub ini terlalu telak, suara yang ia peroleh terpaut sangat jauh dengan pemenang 1 dan 2. Alex hanya bertengger di posisi 5 saja. Inilah kenyataan pahit yang harus ia terima.
Kemenangan justru diraih dengan cemerlang oleh pasangan Jokowi-Ahok yang mengantongi suara sekitar 43 persen, jauh dari pesaing terdekatnya Foke-Nara yang cuma memperoleh 34 persen saja.
Kemenangan Jokowi jelas menjadi bukti paling kongkrit jika sesungguhnya warga Jakarta mayoritas menginginkan perubahan pemimpin, dan kepercayaan kepada Fauzi Bowo untuk mengurus ibukota sudah habis. Fauzi Bowo dinilai tidak berhasil dan harus segera diakhiri melalui Pilgub ini.
Kendati Pilgub akan berlanjut ke putaran kedua, namun sangat bisa dipastikan jika hasilnya nanti tidak akan mengubah posisi Jokowi dari pemenang. Justru Foke akan semakin menanggung malu karena suara akan mutlak berpihak pada Jokowi. Upaya apapun yang akan dilakukan Foke untuk meraih suara terbanyak hanya akan jadi sia-sia.
“Sebaiknya Foke-Nara berjiwa bijaksana saja, mereka mesti menyerah dan mempersilahkan Jokowi-Ahok jadi pemenang, tak usah ngotot ke putara kedua karena hanya akan menyusahkan rakyat, menghabiskan biaya besar sedangkan hasilnya pasti masih tetap Jokowi-Ahok juga”, ungkap M. Arifin, warga Karet Tengsin Jakarta Pusat saat diminta komentarnya.
Foke harusnya menyadari jika kepemimpinannya tak diterima lagi oleh warga Jakarta. Sebagai incumbent pada putaran pertama kemarin minimal foke harus mampu mengantongi suara diatas 45 persen. Tapi kenyataannya ia cuma mampu memperoleh 34 persen saja. Ini berarti sebagian besar warga Jakarta sudah tidak suka lagi dengan dirinya. Maka upaya apapun yang ia lakukan untuk memenangkan putaran kedua nanti hanya akan sia-sia saja dan ia akan menanggung malu yang semakin dalam saja, tambahnya lagi.
Sekarang kita tunggu saja keputusan resmi KPUD DKI pada 19 Juli mendatang. Putaran kedua yang akan digelar hanya akan jadi ajang politik yang tidak sehat, pemborosan dan hasilnya tetap tidak akan berubah : Jokowi-Ahok yang akan unggul telak. Lihat saja.
Hasil Quick Count Pilgub DKI Jakarta
PRISMA :
1. Foke-Nara: 34,58 %
2. Hendardji-Riza: 1,73 %
3. Jokowi-Ahok: 42,69 %
4. Hidayat-Didik: 11,57 %
5. Faisal-Biem: 4,89 %
6. Alex-Nono: 4,54 %
————————————–
Jaringan Suara Indonesia (JSI)
1. Foke-Nara: 34,42 %
2. Hendardji-Riza: 1,88 %
3. Jokowi-Ahok: 41,97 %
4. Hidayat-Didik: 11,4 %
5. Faisal-Biem: 5,15 %
6. Alex-Nono: 5,16 %
————————————-
STEKPI
1. Foke-Nara: 34,38 %
2. Hendardji-Riza: 1,98 %
3. Jokowi-Ahok: 40,49 %
4. Hidayat-Didik: 12,58 %
5. Faisal-Biem: 5,11 %
6. Alex-Nono: 5,47 %
————————————-
Lingkaran Survei Indonesia (LSI)
1. Foke-Nara: 34,17 %
2. Hendardji-Riza: 1,82 %
3. Jokowi-Ahok: 43,04 %
4. Hidayat-Didik: 11,77 %
5. Faisal-Biem: 4,83 %
6. Alex-Nono: 4,37 %
————————————–
Indobarometer
1. Foke-Nara: 33,8 %
2. Hendardji-Riza: 2,6 %
3. Jokowi-Ahok: 42,2 %
4. Hidayat-Didik: 11.5 %
5. Faisal-Biem: 5,1 %
6. Alex-Nono: 4,7 %
PNS Jadi Tukang Pasang Baliho ESP
Dalam posisi sedang berkuasa segala sesuatu bisa dilakukan dengan mudah dan murah. Telunjuk masih “lancip” untuk memerintah dan mulut masih “tajam” untuk menyuruh. Selagi itu masih berlaku maka kesempatan itupun tak akan disia-siakan lagi.
Hal seperti itu seperti yang sedang terjadi pada Walikota Palembang Eddy Santana Putra. Dengan jabatannya saat ini Eddy Santana bisa memanfaatkan anak buahnya beberapa orang PNS pemko Palembang bekerja keras untuk memasang ratusan baliho “kampanye” Eddy Santana untuk Pilgub Sumsel mendatang. Bahkan selain para PNS yang jadi tim sukses pemasang baliho, kendaraan yang digunakan sebagai alat angkut pemasangan balihonya pun memakai mobil dinas berplat merah yang tentu saja menggunakan anggaran negara untuk biaya operasionalnya.
Bukti dari adanya kegiatan pemasangan baliho pribadi Eddy Santana oleh PNS pemko berseragam dinas dan menggunakan mobil dinas sebagaimana dijumpai Wartawan saat mereka memasang baliho di sepanjang jalan menuju Gandus. Sekitar 4 orang pria berseragam PNS Kota sibuk memasang baliho, menukar baliho kecil dengan yang lebih besar. Mobil yang digunakan untuk mengangkut puluhan baliho itu adalah mobil dinas plat merah jenis kijang pick up putih.
Kegiatan “ilegal” memasang alat peraga politik pribadi Eddy Santana yang bertuliskan ESP ”Untuk Sumsel yang Lebih Maju dan Sejahtera” dengan memanfaatkan fasilitas negara tidaklah benar, tetapi merupakan satu bentuk penyalahgunaan kekuasaan, sehingga harus segera dihentikan.
Menurut Mulyadi, seorang aktivis LSM di Palembang, kegiatan seperti itu jelas dilarang karena memanfaatkan jabatan dan kekuasaan serta fasilitas negara untuk keperluan pribadi. “Ini jelas menyalahi aturan, ia mau kampanye sosialisasi untuk pencalonan gubernur tapi tak mau mengeluarkan modal sendiri dan malah memanfaatkan kekuasaan jabatan serta fasilitas negara, enak saja “, ujarnya.
Semrawut Baliho
Menjelang Pigub Sumsel dan Pilwako Palembang tahun depan, sejak kini jalan-jalan disepanjang kota Palembang sudah dipenuhi dengan baliho dan gambar-gambar bakal calon. Padahal biasanya pemko Palembang suka bertindak tegas terhadap baliho-baliho yang dianggap merusak keindahan kota. Namun untuk saat ini Pemko Palembang terkesan bertindak kurang adil. Petugas Pol PP yang diturunkan untuk membersihkan jalan dari Baliho hanya tebang pilih saja. Baliho dan gambar yang dicabut hanya gambar-gambar lain saja, sedangkan gambar-gambar Eddy Santana atau Romi Herton yang sangat banyak justru tetap dibiarkan.
“Kalau mau diturunkan seharusnya semuanya, tidak pilih-pilih, ya termasuk gambar Romi dan Eddy Santana juga diturunkan”, Herry seorang anggota Tim sukses bakal calon Gubernur yang mengaku gambar yang ia pasang beberapa hari lalu telah lenyap dicabut petugas Pol PP.
Nah, bagaimana pak?
Warga Sumsel Tunggu Hasil Pilgub DKI
Nasib Alex Noerdin Diundi Hari Ini
Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun ini memang berbeda dan terbilang istimewa bagi warga di selatan pulau Sumatera. Pasalnya Gubernur Sumsel Alex Noerdin mencoba peraduan ikut dalam pemilihan Gubernur ibukota tersebut. Warga Sumsel ingin segera tahu bagaimana minat warga Jakarta kepada Alex Noerdin yang menawarkan mampu membuat perubahan besar di Jakarta hanya dengan waktu 3 tahun saja.
Hari ini acara pemilihan Gubernur tersebut sedang berlangsung. Warga Jakarta cukup antusias melaksanakan hak pilihnya mendatangi tempat-tempat pemungutan suara di lingkungannya masing-masing. Hingga pukul 13 WIB siang ini belum ada satu lembaga pun yang berani mengumumkan hasil perhitungan cepatnya (quick qount), siapakah pasangan calon yang menggungguli pemilihan putaran pertama ini masih belum diketahui.
Rasa keingintahuan terhadap siapa yang akan menang dalam Pilgub DKI putaran pertama nampaknya dirasakan oleh sebagian besar warga Sumatera Selatan. Terlebih mereka ingin tahu apakah Alex Noerdin bisa menang dan maju ke putaran kedua, atau ia mesti segera angkat koper pulang kampung ke Palembang.
Bagi warga Sumsel sendiri, kemenangan Alex Noerdin ini tidaklah akan memberikan pengaruh apa-apa. Namun mereka hanya merasa kebanggaan saja jika ada Wong Sumsel bisa terpilih menjadi Gubernur di Ibukota negara. Jika saja Alex Noerdin kalah paling-paling hanya ada kerugian karena tak sedikit duit dari daerah ini yang mesti habis dipakai modal pemilihan.
Selain itu jika Alex sampai mesti finish hanya sampai di putaran pertama ini berarti Alex Noerdin benar-benar merasakan jika dirinya juga bisa mengalami kekalahan. Ini bisa menjadi kekalahan keduanya setelah anak kesayangannya Dody Reza Alex juga kalah pada Pilbup Kabupaten Musi Banyuasin tahun lalu.
Bagi Alex, perjalanannya “mengadu nasib” ke Jakarta kalah atau menang tidaklah akan menjadi sia-sia. Jika ia menang berarti langkah politiknya mulus untuk tampil menjadi pemimpin nasional. Sebagai kader Golkar ia akan dihadapkan tugas mensukseskan Aburizal Bakrie pada pemilihan Presiden yang akan datang. Ia harus mampu mengeruk suara warga Jakarta untuk kemenangan Ical.
Tapi jika Alex kalah, kendati ia masih bisa kembali ke Palembang meneruskan sisa jabatan Gubernur Sumsel yang masih dipegangnya, Alex dipastikan tidak akan berminat lagi ikut Pilgub Sumsel 2013 mendatang. Ia akan lebih berkonsentrasi mendukung Aburizal pada Pilpres mendatang. Jika saja Aburizal terpilih maka sejumlah jabatan tinggi di pemerintahan akan dia duduki. Sedangkan jika Aburizal gagal jadi Presiden, maka salah satu jatah jabatan menteri bagi Partai Golkar akan menjadi hak Alex.
Kini hasil pemilihan Gubernur itu masih terus ditunggu-tunggu. Apakah Alex Noerdin mampu memikat hati warga jakarta dengan janji-janjinya yang dianggap sebagian orang mustahil.
Kita tunggu saja hasilnya sore ini.
JANGAN PERMAINKAN SEKOLAH NEGERI
RSBI UPAYA MENGAKALI UANG WALI MURID SAJA
Ketika di Jakarta saat ini Gubernur Alex Noerdin dengan bangganya mengatakan jika saat ini di daerahnya semua biaya pendidikan hingga jenjang SMA Gratis, alias tidak ada pungutan apapun, ternyata berbeda dengan kenyataanya. Yang disebut gratis hanya sebatas disekolah-sekolah negeri pinggiran dengan kualitas rendah, dan itupun cuma SPP saja yang gratis, sedangkan yang lainnya tetap bayar. Ya sama saja.
Parahnya lagi kini di kota Palembang, ibukota Sumsel, sekolah-sekolah negeri yang cukup baik dan bermutu satu persatu disulap menjadi sekolah “ekstra mahal” dengan alasan sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan Sekolah Bertaraf Internasional. Kini yang tersisa hanya sekolah-sekolah negeri pinggiran yang masih menerapkan pendidikan gratisan, dan jumlahnya tidak sebanyak dulu lagi.
Untuk masuk ke sekolah berstatus RSBI para orang tua mesti berlomba mengumpulkan koneksi dan menyiapkan uang berjuta-juta agar mulus. Selain itu iuran perbulan yang harus dikeluarkan sangat mahal.
Karena sekolah-sekolah ini menjadi favorite, tarif untuk bisa masuk lewat jalan belakang kini jadi membumbung tinggi. Namun hal itu tak jadi masalah bagi orang tua yang kaya, namun bagi mereka yang berasal dari keluarga miskin cuma bisa mengurut dada saja.
Contohnya di sekolah SMA 1 Palembang yang mulai tahun ini menyandang status RSBI ini. Tahun ini tiba-tiba semuanya jadi berubah. Mulai dari sistem penerimaan murid baru, proses permainan uang hingga nilai tarif belakang yang berlaku.
Bagi siswa yang benar-benar mampu dalam prestasi, selain biaya resmi iuran bulanan dan sejumlah kewajiban resmi yang ditentukan, tak banyak lagi biaya lain yang mesti dikeluarkan. Namun bagi siswa yang tidak mampu bersaing dalam tes sehingga ia dinyatakan tidak lulus, terpaksa harus berani ikut permainan untuk tetap bisa memaksa masuk dan diterima. Permainan dimaksud adalah kekuatan koneksi, hubungan dekat dengan Kepala Sekolah, Kepala Dinas dan Penguasa lainnya, serta kesiapan uang dalam jumlah banyak sebagai modal untuk pelicinnya.
Keberadaan pihak-pihak yang benar-benar ikut dalam permainan ini jelas nyata karena ada banyak siswa yang tiba-tiba muncul saat acara Orientasi Siswa, sedangkan pada tahapan-tahapan test sebelumnya belum pernah ada.
“Saya tahu pak anak-anak yang waktu tes tidak tercantum namun tiba-tiba ia ikut dalam acara Orientasi kemarin”, ujar beberapa orang tua yang mengaku tahu dari anaknya yang juga telah masuk ke sekolah tersebut.
Jadi tes yang sangat ketat dengan beberapa tahapan yang harus dilalui itu hanya berlaku bagi siswa mayoritas, sedangkan beberapa siswa dari keluarga kaya walau nilai raportnya tidak masuk standar dan tidak lulus dalam test tertulis tetap saja bisa masuk melalui jalur belakang. Masuknya langsung saat orientasi, tambahnya lagi
Upaya menciptakan pendidikan mahal oleh sekolah-sekolah negeri, terutama yang ada di Palembang, apapun alasannya tetap saja tidak bisa diterima. Sebab setiap sekolah negeri semua biaya operasional, gaji-gaji guru kepala sekolah dan karyawan sudah semuanya ditanggung negara. Artinya mereka tinggal melaksanakan tugasnya dengan baik, bagaimana menciptakan pendidikan yang bermutu tinggi.
“Sekolah negeri apapun alasannya, tidak boleh lagi “mengemis” dana dari masyarakat. Jangan ada dalih jika mutu pendidikan ingin baik tentu harus pakai duit, justru tugas mereka memberikan pendidikan yang berkualitas. Jika mereka tidak mampu memberikan hasil kerja yang maksimal berarti mereka tidak mampu bekerja.”, ujar M.Mansyur seorang guru di sebuah sekolah swasta memberikan pendapatnya tentang sekolah negeri yang mahal.
Jika sekolah swasta mahal itu sangat wajar, tambahnya. “Karena seluruh biaya sekolah, gaji guru dan yang lainnya ditanggung orang tua murid”, ungkapnya. Gaji guru tidak ditanggung pemerintah.
Mansyur mengaku setuju jika istilah RSBI segera ditinjau lagi efektivitasnya. Bahkan ia minta dihapuskan saja, biarkan pendidikan kembali ke konsep pendidikan murah namun berkualitas. “Jangan jadi alasan untuk mengakali untuk memungut uang serta memberikan peluang bagi pihak sekolah melakukan KKN pada setiap kegiatan awal tahun ajaran”, tambahnya.
HERMAN DERU BISA TERGANJAL
TERKAIT KASUS ASUSILA DAN DILAPORKAN KE KOMNAS HAM
Upaya Herman Deru, Bupati OKU Timur untuk mendapatkan dukungan bagi pencalonan dirinya pada Pilgub Sumsel 2013 mendatang memang sangat gencar. Selain memasang ribuan gambar dirinya di seantero Sumsel, Herman Deru juga aktif menghadiri kegiatan-kegiatan yang mengumpulkan massa dalam jumlah besar di berbagai tempat. Walau hingga saat ini ia belum memutuskan jalur mana yang akan ia tempuh untuk mendukung langkah politiknya, apa lewat parpol atau jalur independen, Herman Deru nampak enjoy berkeliling Sumsel membawa nama Ormas Nasdem yang dia Pimpin. Dalam berbagai polling nama Herman Deru juga cukup populer, setara dengan Wagub Eddy Yusuf, Walikota Palembang Eddy Santana dan Bupati OKI Ishak Mekki.
Namun dibalik mulusnya rencana Herman Deru tersebut, ada satu hal yang bisa saja mengganjal karier politiknya jika tidak dituntaskan dengan baik. Ganjalan tersebut berasal dari adanya dugaan kasus asusila yang dituduhkan pada dirinya dan kini kasusnya telah sampai ke Komnas HAM di Jakarta.
Pihak yang melaporkan Herman Deru adalah Anisa Piatul binti Hamdani (30) yang mengaku pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada keluarga Herman Deru pada tahun 2004 lalu.
Dalam laporannya disebutkan bahwapada tahun 2004 lalu mereka didatangi seorang kenalan bernama Mail yang mengaku ditugaskan Herman Deru untuk mencari pembantu. Waktu itu Herman baru masih mencalonkan diri menjadi Bupati OKU Timur.
Baru sepuluh hari bekerja, Herman Deru memaksa Anisa berhubungan intim selama beberapa kali. Namun, baru 15 hari bekerja Anisa minta berhenti dan hanya diberikan uang saku sebesar Rp. 20 ribu.
Beberapa bulan kemudian, Anisa temyata hamil. Korban dan keluarga menghubungi Herman untuk meminta pertanggungjawaban namun hanya diberikan uang Rp. 50 ribu yang dimasukkan dalam dua amplop terpisah masing-masing Rp25 ribu. Anak benih Herman Deru itu diberi nama Agung Firmansyah.
Karena hingga kini tidak mendapat respon yang baik dari Herman Deru, maka keluarga korban sepakat untuk mengadu ke Komnas HAM.
Korban, Anisa saat datang ke kantor Komnas HAM di Jl Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat, ditemani ayahnya Hamdani, adiknya Ima Toleta, dan pengacaranya, Gobuan Harahap, dari LSM Nusantara Corruption Watch (NCW) untuk meminta pertanggungjawaban Bupati OKU Timur tersebut.
Hingga saat ini tindak lanjut laporan tersebut belum jelas sudah sampai dimana. “Kami sakit hati karena bukan uang yang kami harapkan, tetapi tanggung jawab dan pengakuan atas Agung Firmansyah,” keluh Ita adik Anisa.
Sementara itu Hamdani, ayah Anisa mengatakan, “Salama ini kami bingung dan tidak tahu harus mengadu ke mana hingga akhirnya datang ke Komnas HAM. Kami mohon agar penegak hukum dan aparat yang berwenang bisa memberikan solusi terbaik antuk menyelesaikan masalah tersebut,” katanya.
Jika saja masalah ini terus menggelinding, bukan tidak mungkin akan mengganjal perjalanan karier Herman Deru menuju Pilgub Sumsel mendatang.
BINI MUDA EDDY SANTANA MULAI TAMPIL
Setelah benar-benar resmi bercerai dengan isteri tuanya Srimaya Hariyanti, Walikota Palembang Eddy Santana Putera semakin mantap menapaki karier politiknya. Pasalnya kini bini muda sang walikota yang bernama Eva Ajeng bisa lebih leluasa untuk sepenuhnya tampil mendampingi dalam setiap kegiatannya. Bahkan Eva Ajeng yang semakin akrab dipanggil Bunda Eva ini kini semakin aktif melalui Yayasan Bunda Eva yang didirikannya melakukan kegiatan-kegiatan yang sangat mendukung langkah suaminya yang berencana akan mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur Sumsel mendatang dari PDI Perjuangan. Eva tidak canggung-canggung lagi tampil di depan publik dan bersikap acuh saja terhadap berbagai omongan miring tentang dirinya yang dianggap merebut suami orang.
Pernikahan antara Eddy Santana dengan Eva Ajeng memang bukan baru kemarin terjadi, namun itu sudah terjadi cukup lama. Saat itu Eddy masih resmi sebagai suami Srimaya Haryanti. Dari pernikahan diam-diam inilah Eddy Santana mendapatkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Muhammad Zavy yang kini telah berusia 4 tahun.
Selama menjadi isteri muda yang “disembunyikan” Eva Ajeng sama sekali tidak pernah berani tampil apalagi sampai mengklaim diri sebagai isteri yang sah. Keberadaan Eva sebagai isteri muda cuma diketahui olah orang-orang terdekat Walikota saja. Eva Ajeng hanya bisa berharap keajaiban datang agar ia bisa benar-benar diakui sebagai isteri yang sahnya Walikota oleh masyarakat.
Penantian Eva akhirnya datang juga, Eddy Santana resmi menceraikan Srimaya dan memilih dirinya sebagai isteri yang sah untuk ditampilkan di depan publik dan berhak menyandang status sebagai Isteri Walikota Palembang.
Karena cukup lama menanti Eva Ajeng tidak mau menyia-nyiakan kesempatan bagi dirinya untuk tampil. Berbagai kegiatan ia buat dengan membawa nama Yayasan Bunda Eva yang ia dirikan. Dalam setiap acara kunjungan Walikota, Eva juga selalu berada disampingnya. Bahkan saat kondisinya sedang hamil tua saja ia tetap aktif dalam kegiatannya.
Kebahagian pasangan ini kini telah bertambah lagi setelah lahirnya seorang bayi perempuan pada tanggal 28 Juni 2012 lalu. Bayi itu mereka beri nama Vennesya Aurora Santana Putri.
Terlepas pro dan kontra kehadiran Eva Ajeng sebagai isteri muda dalam kehidupan Walikota Eddy santana, yang jelas secara perlahan keberadaan Eva Ajeng semakin diterima oleh warga Palembang. Buktinya warga selalu antusias hadir dalam setiap acara yang diadakannya.
Entah itu betul-betul antusias karena acaranya, atau hanya sekedar ingin tahu wanita mana yang telah bisa merebut hati sang Walikota ini.
EDDY YUSUF LEBIH DIUNGGULKAN
Suhu Politik Memanas Jelang Pilgub Sumsel 2013
Kendati pemilihan Gubernur Sumatera Selatan baru akan dilaksanakan pada akhir tahun 2013 mendatang, suhu politik di daerah ini terus meningkat. Hal ini disebabkan maneuver-manuver politik para tokoh yang disebut-sebut sebagai bakal calon Gubernur sudah semakin tajam. Masyarakat Sumsel akan kembali disibukkan dengan euphoria demokrasi yang terkadang berjalan menyimpang dari rel yang semestinya.
Beberapa nama yang disebut-sebut telah menyatakan siap untuk tampil dalam Pilgub tahun depan tersebut merupakan wajah-wajah lama yang berasal dari daerah kabupaten dan kota di Sumatera Selatan. Umumnya mereka adalah para Bupati dan Walikota yang pada tahun 2013 mendatang akan habis masa jabatannya dan sudah tidak bisa memperpanjang jabatan lagi karena sudah dua periode ia menjabat. Satu-satunya peluang untuk tetap bisa berkuasa adalah ikut serta dalam kegiatan Pilgub, jika berhasil berarti belum akan pension jadi pejabat.
Walikota Palembang, Edy Santanma Putera yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Selatan sudah lebih dulu mendeklarasikan diri sebagai Bakal Calon Gubernur Sumsel yang akan ikut dalam Pilgub tahun depan dari PDI Perjuangan. Ia memang sangat dikenal di Kota Palembang, namun sangat lemah di daerah kabupaten dan kota lainnya di Sumsel. Bagi warga daerah, nama Eddy Santana tidak banyak dikenal dan kurang popular.
Demikian juga Bupati Ogan Komering Ilir (OKI), Ir.H.Ishak Mekki yang bakal mencalonkan diri dari Partai Demokrat Sumsel yang dipimpinnya, masih terbilang baru sebatas sebagai tokoh lokal yang sangat dikenal di daerah OKI, namun belum popular di daerah lainnya. Ishak Mekki baru mulai disebut sebagai Bakal Calon setelah gambarnya banyak terpampang di hampir setiap persimpangan jalan yang ada di wilayah Sumatera Selatan.
Adalagi bakal calon yang sudah sangat agresif melakukan sosialisasi dan pengumpulan dukungan. Ia adalah Herman Deru, Bupati Ogan Komering Ulu Timur (OKU Timur) yang saat ini menjabat Ketua Nasdem Sumatera Selatan.
Belum banyak yang tahu partai apa yang bakal dijadikan Herman Deru sebagai kendaraan politiknya untuk maju dalam Pilgub 2013 mendatang. Dipastikan ia tidak akan kebagian lagi dukungan dari partai besar, karena hampir semua partai besar telah mengelus bakal calonnya masing-masing. Bisa saja Herman Deru maju dengan label Calon Independen.
Peluang Eddy Yusuf
Satu-satunya nama bakal calon yang saat ini banyak disebut dan lebih diunggulkan untuk Pilgub tahun depan adalah Eddy Yusuf, yang saat ini masih menjabat Wakil Gubernur Sumsel mendampingi Alex Noerdin.
Sebagai Wakil Gubernur yang saat ini masih memimpin seluruh wilayah Sumsel, nama Eddy Yusuf jelas bukanlah nama yang asing. Eddy Yusuf dikenal sebagai pemimpin yang memiliki banyak pendukung dan merata di setiap kabupaten dan kota di provinsi ini. Eddy Yusuf memang berbeda dengan nama-nama lain yang disebut sebagai bakal calon Gubernur, ia justru tidak terlihat ambisi dan lebih membiarkan suasana politik di daerahnya mengalir bagai air di Sungai Musi saja.
“Masyarakat kita perlu diberikan keteladanan yang baik bagaimana seharusnya bersikap dan berbuat menghadapi agenda-agenda politik seperti Pilgub ini. Kita harus tetap senantiasa menjaga agar suasana masyarakat tetap tenang, tentram dan kondusif. Janganlah kegiatan Pilgub menjadi arena untuk memecah belah persaudaraan”, ungkap Eddy Yusuf dalam salah satu kesempatan kepada Wartawan beberapa waktu lalu.
Tingkat populraitas Eddy Yusuf memang jauh mengungguli nama-nama bakal calon Gubernur lainnya. Bahkan kendati sudah lebih dari 3 tahun berpasangan dengan Gubernur Alex Noerdin memimpin Sumsel, citra Eddy Yusuf justru tetap tegak sebagai pribadi yang terpisah dan berkarakter sendiri. Eddy Yusuf sama sekali tidak terbawa arus politik Alex Noerdin yang spekulatif dan berlebihan. Justru Eddy Yusuf selalu tenang dan tidak terjebak dalam permainan kotor kekuasaan. Eddy Yusuf memilih hidup tenang, nyaman tidak mau berurusan dengan yang namanya KKN.
Namun belum banyak yang tahu pasti partai apa yang akan digunakan Eddy Yusuf sebagai alat politiknya untuk Pilgub nanti. Diduga Partai Golkar yang saat ini di pegang Alex Noerdin akan memberikan restu bagi Wakil Gubernur ini. Apalagi jika saja Alex Noerdin yang kini sedang ikut dalam Pilgub DKI Jakarta mampu unggul, dipastikan jalan yang sangat terbuka dan mulus bagal didapatkan Eddy Yusuf untuk memenangkan Pilgub Sumsel 2013 mendatang.
Sebagai Wakil Gubernur Sumsel yang saat ini memegang mandat Gubernur selama Alex Noerdin cuti, Eddy Yusuf tetap mengingatkan kepada semua pihak yang akan turut serta meramaikan Pilgub Sumsel mendatang hendaklah senantiasa mengedepankan kepentingan rakyat banyak, tidak memecah belah persaudaraan warga Sumsel dan berpolitik secara santun dan beretika.
“Siapapun memiliki kesempatan yang sama, namun marilah kita tetap menjaga suasana kondusif, tenang dan tenteram bagi warga Sumsel bekerja melaksanakan aktivitasnya sehari-hari. Suasana politik tidak perlu mengganggu rutinitas warga, yang biasa ke kebun tetaplah ke kebun, yang pedagang tetaplah berdagang dengan tenang, yang karyawan tetaplah bekerja dengan baik”, tambah Wagub yang dikenal dengan julukan Sang Visioner tersebut. ASS

















Komentar Terakhir