Tahun 2008 lalu sukses benar-benar diraih Sriwijaya FC dengan menyabet double winner, menjadi juara Liga Super dan juara Liga Indoesia sekaligus. Di musim berikutnya Sriwijaya FC masih mampu memperoleh satu tropi juara Liga Indonesia, sedangkan satu tropi lainnya harus lepas jadi milik Persipura. Setelah itu, Sriwijaya FC jadi paceklik juara pada setiap musim kompetisi. Tahun lalu saja Sriwijaya FC tak mampu masuk 5 besar, namun hanya puas menjadi team penggembira saja.
Disebut-sebut buruknya penampilan Sriwijaya FC dalam setiap laga tak lepas dari kemampuan manajemennya dalam mengelola sepakbola serta kurang cerdik memilih pelatih dan pemain. Akibatnya walaupun belanja pemain dan pelatih harus menghabiskan uang yang sangat banyak, hasilnya tetap saja tak memberi kontribusi berarti bagi team Palembang ini.
“Saya prediksi jika Sriwijaya FC tidak akan mampu merebut satu tropi juara apapun dengan kondisi seperti saat ini. Manajemennya kurang mahir mengelola dan selalu salah dalam membeli pemain”, ujar Irwan Abdullah, seorang veteran sepakbola di Palembang yang mengaku prihatin dengan “klub wong kito” tersebut. Jika ingin maju dan jadi juara lagi seharusnya serahkan saja urusan Sriwijaya Fc ini kepada orang-orang yang benar-benar ahli dibidangnya dan ia memiliki “sukatan” memimpin, tambahnya.
Kalau Dody yang memegang, wah, ia akan sulit dapat juara, walau ia banyak uang tetap saja berat meraih juara, karena ia kurang “hoki” dibidang sepakbola, ujar Irwan menambahkan.
Percaya atau tidak dengan ucapan mantan pemain sepakbola tadi yang jelas saat ini Sriwijaya FC tak maju-maju, kendati uang banyak telah dihamburkan.




