Proyek Fly Over (jembatan layang) di Simpang Polda merupakan satu-satunya program besar Gubernur Syahrial Oesman yang kini masih tersisa dari sekian banyak program pembangunan yang dijalankannya. Proyek-proyek besar lainnya justru banyak terbentur dan lebih berpeluang akan menjadi PR bagi Gubernur baru periode selanjutnya.
Proyek Tanjung Api-api yang menghabiskan uang besar namun masih jauh dari selesai, gemanya diyakini tak akan lagi mampu dijual untuk menarik simpati massa pemilih, karena manfaat secara nyata dari proyek tersebut masih belum bisa dirasakan rakyat, selain hanya menguras uang rakyat dan telah merusak lingkungan kawasan hutan Mangrove di pantai timur Sumsel.
Proyek Jembatan Musi 3 yang digagas Syahrial juga mendapat benturan dari masyarakat yang tidak bersedia kompromi menyangkut lokasi jembatan. Warga kampung Almunawar dengan gigih menolak megaproyek tersebut, sehingga proyek jembatan Musi 3 kini tak jelas lagi bagaimana kelanjutannya.
Kini harapan tinggal pada proyek Fly Over simpang Polda. Jika Proyek tersebut bisa kelar sebelum pelaksanaan Pilkada Sumsel, maka akan menjadi proyek Prestisius Syahrial Oesman yang diyakini akan semakin menambah pundi-pundi suara bagi Syahrial pada Pilkada mendatang.
Kemarin siang (Kamis, 27/3) Gubernur Sumsel, Ir.Syahrial Oesman bersama rombongan mengajak wartawan untuk meninjau proyek Jalan Layang Simpang Polda yang hingga saat ini pekerjaan baru memasuki tahap pengecoran. Syahrial optimis proyek tersebut akan bisa selesai 100 persen pada bulan Agustus 2008, 2 bulan sebelum habisnya masa jabatan Gubernur periode pertamanya. Padahal dalam kontrak, akhir pekerjaannya adalah bulan Desember.
Kendati sesuai kontraknya proyek tersebut akan selesai bulan Desember tapi sebagian besar warga kota ini nampaknya sudah tidak sabar lagi menanti. Kemacetan akibat ditutupnya ruas jalan di sekitar proyek menjadi pemandangan yang biasa terlibat setiap saat.
Masyarakat menilai jika lambatnya pekerjaan Fly Over lebih disebabkan karena pihak kontraktor yang bekerja kurang profesional. Tapi ada juga warga yang menganggap keterlambatan lebih disebabkan karena ketidakmampuan penanggung jawab proyek yaitu Kepala Satuan Non Vertikal Tertentu (SNVT). Aidil Fiqri, yang belum punya pengalaman menangani proyek jembatan layang.
DIarsipkan di bawah: Berita Aktual, Peristiwa | Ditandai: daeha, indonesia, Nasional, news, Pilkada, politics, Sumatera, sumsel

SELAMAT BEKERJA SEMOGA TEPAT WAKTU……..
MARI KITA JAGA KOMITMENNYA…TEPAT WAKTU…OKE.
Dalam suatu kebijakan pastilah ada pro dan kontra. Untuk memajukan suatu daerah, pasti ada beberapa hal yang dirugikan, itulah muncul ganti rugi. Namanya saja ganti rugi, pastilah rugi. Kalau ganti untung pastilah untung. Tapi untuk kemajuan daerah kita, sebagai warga yang baik, tentunya kita juga bisa berbesar hati untuk bisa menerima. Fly Over banyak menerima cemoohan dari banyak orang, tapi saya percaya, Pak Gub pasti akan memberikan yang terbaik untuk kita semua. Saat ini kita masih melihat prosesnya, pastilah sangat tidak mengenakkan, tapi kalau kita sudah lihat hasilnya nanti, pasti kita akan bilang, Alhambulillah. Masih ingat waktu ada prodram Bus Way di Jakarta, betapa macetnya saat itu, dan tidak sedikit warga yang mencemooh dan mencaci., Tapi setelah Bus Way jadi, tidak sedikit juga warga yang mengakui kegunaannya. Untuk itu kita harus lebih bisa menerima, dan membantu, bukannya menjadi pihak provokator. Pembangunan apapun yang diusulkan didaerah kita, pastinya sudah denga pemikiran yang matang dari berbagai pihak. Saya dukung Pembangunan itu, walaupun dalam hati saya juga agak kesal kalau lewat Simpang Polda karena macet. Semoga pembangunan Fly Over itu bisa berjalan dengan lancar. Dan Tepat Waktu.
Pak SO, tetap terus maju.
PEMBANGUNAN YANG ABADI ADALAH PROGRAM YANG DAPAT TERWUJUD…………….
ply over harus kita pandang dari sisi positifnya………jangan selalu pada sisi negatifnya…..kita dukung dan kita doakan bersama semoga pembangunannya dapat selesai dengan selamat dan tepat waktu. Amin.