Munculnya Banyak Aliran Sesat Karena Kesalahan Ulama


aden.jpg ulama.jpg

Beberapa tahun terakhir ini Indonesia banyak disibukkan dengan masalah munculnya aliran-aliran sesat. Aliran sesat yang menggerogoti eksistensi agama Islam di Indonesia ini satu persatu muncul, menghimpun massa dan kemudian ditumpas dengan cara memenjarakan pemimpinnya.

Timbul pertanyaan dalam benak kita, efetifkah upaya-upaya ini? Bukankah ini menyangkut keyakinan rohani yang tidak bisa diberantas dengan cara memenjarakan jasmani? Apakah ini nantinya tak akan muncul dan berkembang lagi ? Siapakah yang salah dan harus bertanggung jawab atas kejadian-kejadian ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu tak mudah untuk dijawab. Tetapi sebaiknya kita melihat lebih jauh ke dalam internal Islam sendiri, khususnya keberadaan Islam di Indonesia.

Agama Islam adalah agama mayoritas rakyat Indonesia. Sebagai negara berpenduduk sangat besar, angka mayoritas Islam di Indonesia telah menempatkan negara ini sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Namun ternyata dengan predikat tersebut tidak serta merta menjadikan Indonesia sebagai negara Islam atau berasaskan Islam. Indonesia tetap Indonesia.

Hanya saja, Islam di Indonesia memang berbeda dengan Islam di negara-negara lain. Bahkan dibanding dengan negara asal Islam, Arab, Islam di Indonesia sangat berbeda. Terutama menyangkut penerapan ajaran Islam dalam hubungan sesama manusia, bukan dalam kontek akidah.

Ketika masyarakat Indonesia mulai membuang unsur-unsur feodal seperti adanya kelas-kelas dan tingkatan dalam masyarakat, justru saat ini di Indonesia malah muncul tingkatan-tingkatan menurut kadar ilmu keislamannya. Mulai dari masyarakat bawah yang awam, tingkat menengah yang lumayan mengerti ilmu agama seperti Haji/Hajjah, tingkat Ustadz/ustadzah, Tingkat kiyai/ulama, dan Tingkat Ulama Besar. Padahal di negara-negara timur-tengah sendiri tingkatan-tingkatan tersebut tidak ada.

Karena adanya tingkatan ini menyebabkan adanya rentang birokrasi yang harus dilewati ketika seseorang ingin mengkaji Islam secara lebih mendalam. Seorang Ustadz akan terbiasa diperlakukan secara khusus ketika ia tampil memberikan ceramah. Seorang Ulama juga akan mendapat penghormatan yang lebih dari siapapun dalam masyarakat. Apalagi bila ia seorang Ulama Besar, semuanya pasti lebih.

Akibatnya para ustadz dan para Ulama menjadi pihak yang sangat jauh. Bahkan tak jarang ada ustadz atau ulama yang minta dilayani. Ia tak mau datang jika massa yang hadir cuma segelintir orang. Ia tak mau hadir jika tak dijemput. Ia tak senang jika duduk dibarisan belakang. Ia marah jika tak disapa Ustadz. Dan lain-lain.

Akibatnya banyak masyarakat yang ingin memperdalam agama Islam tak tahu harus kemana bertanya. Ustadz dan Ulama tidak suka datang melainkan mintanya didatangi. Untuk mendatangi juga bukan sesuatu yang mudah, perlu kesabaran ekstra, sama halnya kita akan menghadap seorang pejabat, susah bukan main.

Karena kondisi demikian menyebabkan tali komunikasi masyarakat awam dengan pemimpin agamanya semakin jauh untuk dijangkau.

Ketika ada seseorang yang sengaja datang secara sukarela. Ia menawarkan apa yang selama ini dinantikan. Ia dianggap bisa dijadikan tempat bertanya tentang agama. Ia juga yang banyak menjanjikan. Maka seorang yang awam akan dengan mudah terpengaruh dan terbawa arus pusarannya.

Inilah yang menyebabkan aliran-aliran sesat yang muncul mendapat pengikut yang terus bertambah semakin banyak.

Penyebar aliran-aliran sesat ini mampu menjelma sebagai pelayan, pengayom dan pelepas dahaga tentang agama yang selama ini dicari. Dan satu persatu umat mendekat, bergabung sebagai jemaah yang tanpa ia tahu dansadar jika ia juga ikut sesat.

Jadi pihak yang bertanggung jawab munculnya aliran sesat yang bisa berkembang dalam masyarakat seperti akhir-akhir ini adalah para Ulama dan orang-orang yang mengerti tentang Islam. Para Ulama telah menjadi kelompok yang ekslusif, minta dilayani dan tidak peka terhadap kehendak Ummat.

Ulama kita telah salah strategi dan menyimpang dari apa yang telah dilakukan para ulama di jaman dahulu. Para Wali dan Ulama kita dahulu selalu menjadi pengayom, ia sangat dekat dengan Ummat, ia tak pernah minta dilayani, ia tak suka difasilitasi, ia sangat membaur, ia bersahaja, ia bicara konsisten, tak bukan kutu loncat.

Ulama sekarang umumnya orang yang gila penghormatan. Minta disambangi terus. Senang mendapat fasilitas gratis. Bicara suka tidak konsekwen, dan lebih berpihak kepada yang kuat berkuasa dan banyak uang. Ulama kita hanya suka mengajari orang yang mau diajari saja, sedangkan yang belum mendapat hidayah malah dijauhi.

Inilah kenyataannya sekarang, walau memang masih ada satu dua ulama yang benar-benar baik dalam menjalankan amanahnya. Tapi ini pada umumnya dan yang dirasakan oleh masyarakat kita sekarang.

Jadi selama para Ulama masih mengeklusifkan diri seperti saat ini, aliran-aliran sesat akan terus bermunculan. Yang sudah ditumpas akan kembali hidup, berkembang semakin banyak dan negara sama-sekali tidak akan mampu menghentikannya. Penjara tak bisa memadamkan semangat mereka. Ini karena menyangkut keyakinan, bukan jasmaniah.

Nah… Dimanakah para ulama itu kini? Kembalilah kepada kit’ah. Jadilah ulamanya ummat. Tak perlu mengerahkan santri untuk merusak. Tapi datangilah ummat, tanyakan apa yang ia butuhkan. Tunjukkan jalan yang benar.

About these ads

4 Tanggapan

  1. alhamdulillah, ana setuju dg pendapat antum

  2. kita cari pemimpin BARU dengan BUKTI yg sudah ada selama ini….!!!
    BEROBAT GRATIS….?NYATA UTK RAKYAT…!!!
    SEKOLAH GRATIS….?MEMBUAT WARGA KITA PINTER…!!!LEMAK KAN KALO…..
    terbukti dalam karya, 5tahun GRATIS SEKOLAH!!!
    Siapo pencetusnyo….?! ALEX NOERDIN BE,,,

    COBLOS YAAA…..

    SUMSEL PASTI MAKMURRRR….

  3. SARIMUDA MANTAP !!

  4. sufimuda lebih mantap, :-) coba kunjungi :

    http://sufimuda.wordpress.com/

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 749 pengikut lainnya.