Apa Kabar Proyek Tanjung Api-Api ?

Alex Noerdin

Gubernur Sumsel Alex Noerdin

Sudah lama sekali warga Sumsel memimpikan terwujudnya Pelabuhan Tanjung Api-api. Konon, jika pelabuhan ini bisa terwujud maka Sumsel akan berkembang sangat pesat. Ekonomi akan maju dan rakyat akan lebih sejahtera. Bahkan dengan menyandang status pelabuhan Samudera, Tanjung Api-api akan membuka Sumsel ke dunia internasional.

Namun mimpi tersebut nampaknya masih akan kembali tinggal mimpi. Satu tahun sudah waktu berlalu, kegiatan pembangunan di proyek pelabuhan tersebut tak ada tanda-tanda kemajuan. Bahkan beberapa infrastruktur penunjang yang telah dibangun pun semakin terbengkalai dan rusak.

Kita masih ingat, “sesumbar” Gubernur baru Alex Noerdin ketika berbicara pertama kali pada pertemuan dengan karyawan pemprop Sumsel menjanjikan jika pelabuhan Tanjung Api-api akan bisa diwujudkan cuma dengan waktu 4 tahun saja. Namun hingga kini sudah satu tahun berlalu ternyata tanda-tanda kemajuan pembangunannya masih belum terlihat.

“Study kelayakan untuk pembangunannya juga hingga kini belum ada. Bahkan beberapa Konsultan yang menangani perencanaan dalam proyek tersebut kini mengundurkan diri. Nah, jadi bagaimana dengan kelanjutannya yang selama ini dianggap enteng itu?”, ujar Sukirman salah seorang pegiat LSM yang cukup konsen dengan pelaksanaan pembangunan pelabuhan tersebut.

Belum lagi dengan dukungan pusat yang nihil, tambahnya. Padahal dana yang diperlukan untuk membangun tidaklah sedikit. Sedangkan minat investor untuk menanamkan modal disana juga sangat minim mengingat prospek bisnis menurut mereka masih diragukan.

“Ah, siapa yang mau membuang uang trilyunan rupiah jika tidak akan menghasilkan untung?, ungkap Sukirman lagi.

Gubernur Alex Noerdin yang mulai gerah dengan munculnya pemberitaan disejumlah media yang meragukan rencana pembangunan pelabuhan Tanjung Api-api mulai angkat bicara, Ia tetap mengaku optimis jika pelabuhan Tanjung Api-api dapat diwujudkan dalam masa pemerintahannya.

“Insya Allah Pelabuhan Tanjung Api-api akan kita Wujudkan”, ujarnya.

Nah, bagaimana dengan pendapat anda?

KRONI GUBERNUR MULAI TERLIBAT DALAM PROYEK

Kekuasaan kerap kali membuat seseorang terlena dan terjebak dalam tindakan menghalalkan segala macam cara. Apalagi jika untuk mendapatkan kekuasaan tersebut sebelumnya harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, maka alasan pengembalian modal menjadi salah satu trik jitu untuk mengeruk keuntungan untuk kepentingan pribadi.

Proyek Besar

Proyek Jalan Talang Keramat yang dikerjakan oleh kroni kekuasaan.

Hal ini memang lumrah dan telah menjadi sesuatu yang biasa terjadi dalam praktek kekuasaan di negeri ini. Bahkan ketika seorang penguasa yang adil dan bijaksanapun bisa saja rusak oleh mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk mencari keuntungan. Mereka para kroni yang bisa berbuat lebih keji dan tak bermoral.

Tanda-tanda kearah sana sudah sangat terlihat terjadi dalam lingkaran kekuasaan di Sumatera Selatan. Gubernur Sumsel H.Alex Noerdin yang selama ini dikenal sebagai sosok yang santun, bijaksana dan berpihak kepada rakyat, kini mulai dirusak citranya oleh mereka para kroni kekuasaan yang banyak bermain untuk mencari keuntungan. Para kroni ini banyak menguasai pengucuran proyek-proyek pembangunan yang identik dengan uang banyak.

Hal ini sebagaimana yang diakui oleh HR seorang Kontraktor yang biasa menjadi rekanan dibeberapa dinas kepada Wartawan saat ditemui di kantor Asosiasi Pengusaha Kontrusi Indonesia (ASPEKINDO) Sumsel, di jalan Amphibi Sekip Ujung palembang.

Menurut HR, kroni-kroni Gubernur telah membabat habis semua proyek di setiap dinas dan instansi pemerintah di Sumsel. Mereka adalah anak-anak, ipar, saudara dan keluarga Gubernur serta mereka yang mengatasnamakan Tim Sukses ketika Pilgub lalu. Mereka mengkapling proyek-proyek untuk keuntungan pribadi mereka.

“Bahkan kami pun terpaksa harus mengemis dulu kepada mereka jika ingin memperoleh paket pekerjaan. Kalau tidak, maka jangan harap bisa dapat”, ujar kontraktor senior tersebut.

HR menambahkan, seluruh paket proyek PU dibelakangnya ada nama anak-anak dan adik ipar Gubernur. Padahal disana terdapat proyek-proyek dengan nilai rupiah yang sangat besar. Sedangkan di dinas-dinas lain selalu saja ada nama kroni kekuasaan dibalik pengucuran sebuah proyek. Ada dari keluarga, Tim Sukses, pengurus partai berkuasa, hingga organisasi kemasyarakatan yang dekat dengan kekuasaan.

“Bahkan anak gubernur yang perempuan pun banyak ikut bermain dalam berbagai kegiatan yang didanai uang negara”, ujarnya.

Hampir setiap even acara diserahkan kepada Even Organizer (EO) sebagai penyelenggara dan anak gubernur inilah yang menjadi EO nya,” tambah HR lagi.

Jika hal seperti ini terus terjadi ditahun baerikutnya dikhawatirkan citra Gubernur Alex Noerdin akan tercoreng. Padahal selama Alex Noerdin menjadi Bupati Muba dulu, keterlibatan Kroni dalam pengucuran proyek nyaris tidak ada.

“Saya yakin kalau pak Alex Noerdin orangnya bagus. Ia tidak mungkin mau melibatkan kroni dalam kekuasaannya. Tapi ini nampaknya murni inisiatif para kroni yang kerap menjual nama Gubernur untuk mendapatkan keinginannya”, tambahnya. Oleh karena itu demi menjaga nama baiknya seharusnya Gubernur segera memberikan tindakan tegas dan antisifasi agar orang-orang yang ada disekitarnya tidak itut-ikutan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

Nah ggimana pak, semoga ini menjadi masukan yang berharga.

SETAHUN SUDAH ALEX NOERDIN MEMIMPIN SUMSEL

Setahun sudah H.Alex Noerdin memimpin Sumatera Selatan. Namun entah sudah berapa banyak yang sudah ia perbuat untuk kepentingan rakyatnya.
Beberapa janji yang ia jadikan alat kampanyenya dulu yaitu Sekolah gratis an Berobat Gratis memang sudah ia luncurkan. Ia memang mampu mewujudkan janjinya itu.

Namun dalam pelaksanaannya dilapangan kerapkali ditemui permasalahan yang cukup rumit, sehingga apa yang dikatakan gratis kenyataannya baru sebatas wacana saja.
Pada penerimaan siswa baru tahun ajaran 2009/2010 ini sangat jelas berbagai macam pungutan masih saja terjadi, bahkan jumlahnya jauh lebih dahsyat dari tahun-tahun sebelumnya. Sekolah-sekolah berupaya mensiasati program sekolah gratis dengan memungut uang tidak resmi dengan dalih uang suka rela atau bantuan orang tua melalui komite sekolah.
Untuk masuk ke sekolah negeri, yang katanya gratis, ternyata tak sedikit orang tua yang mesti mengeluarkan uang hingga jutaan rupiah. Dengan dalih uang bangku, pihak sekolah dengan semena-mena menetapkan harga bagi siswa yang masuk dengan jalur belakang.
Sedangkan bagi siswa yang murni lulus dalam tes pun tak luput dari pungutan-pungutan yang jumlahnya tak kalah banyak. Namun orang tua murid sama sekali tak bisa berkutik, mereka takut anaknya yang sudah masuk jadi tersingkir akibat banyak protes dari orang tuanya.
Terjadinya pungli ini hampir 100 persen terjadi disekolah-sekolah negeri mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SLTA. Padahal kita sering melihat banyak sekali spanduk yang dipasang digedung sekolah yang menyatakan jika sekolah tersebut memberlakukan sekolah gratis.
Selain pungutan-pungutan liar, orang tua siswa juga dibebankan pada biaya pembelian buku-buku pelajaran sekolah yang harganya hingga ratusan ribu rupiah. Padahal pihak Depdiknas sudah bersusah payah membeli izin penerbitan yang sengaja khusus disiapkan bagi sekolah gratis melalui program BSE. Sayang buku ini justru tidak dijadikan pegangan utama anaki sekolah, melainkan hanya jadi buku pendamping yang sesekali dipakai jika dibutuhkan.
Di Kota Palembang yang menjadi ibukota Sumsel program sekolah gratis nyaris benar-benar macet. Penyebab utamanya adalah pihak sekolah, yakni Kepala Sekolah dan Guru-guru, belum rela membiarkan anak-anak didiknya terlepas dari pungutan. Bahkan sekolah-sekolah disini berlomba-lomba meningkatkan status sekolahnya menjadi Sekolah Standar Nasional dan Sekolah Berstandar Internasional yang menjadi pengecualian sekolah gratis. Alhasil dari 26 SMA yang ada di Palembang, hanya ada 7 sekolah saja yang dinyatakan harus gratis. 19 sekolah lainnya diperbolehkan memungut iuran kepada siswa.
Salah satu sekolah yang kondisinya agak memprihatinkan adalah SMA 20 Gandus. Sekolah ini terletak cukup jauh dari kota dan termasuk sekolah yang wajib memberlakukan sekolah gratis. Dalam penerimaan siswa baru kemarin, sekolah ini dijadikan batu loncatan bagi para siswa yang tidak diterima di sekolah negeri lainnya. Mereka biasanya hanya bertahan 1 smester saja di sekolah ini, selanjutnya mereka akan kembali pindah ke sekolah pilihannya yang lebih baik dan lebih dekat.
Untuk bisa diterima di SMA 20 pun tak cuma-cuma, terutama bagi siswa “buangan” sekolah lain. Bisa diatas 2 hingga 5 juta lebih uang yang harus dikeluarkan orang tua. Namun itu tak dianggap soal bagi orang tua yang mampu. Tapi bagaimana dengan yang tidak mampu? Inilah yang menjadi persoalan. Ternyata pendidikan gratis tak mampu memberikan kemudahan bagi keluarga miskin untuk sekolah. Orang yang mampu jelas memiliki kesempatan yang lebih baik.
Dibidang pelayanan kesehatan dengan program berobat gratis pun nasibnya tak jauh berbeda dengan sekolah gratis. Pungutan masih saja terjadi. Dan tak jarang kisah orang miskin yang ditolak rumah sakit terdengar setiap hari. Alasan rumah sakit tak mampu lagi menampung, biasa dijadikan obat yang tepat bagi pihak rumah sakit untuk menolak pasien gratisan.
Bagi warga di daerah berobat gratis lebih rumit lagi. Puskesmas yang ada umumnya sekedar memberi pelayanan alakadarnya. Para petugas medis dan dokter nampak kurang serius ketika dihadapkan dengan pasien dari keluarga miskin. Mahalnya harga obat juga menjadi alasan mereka untuk tetap memungut pasien.
Nah, jika begini bagaimana dengan program Alex yang sesungguhnya? jawabannya karena jajaran Alex dibawahnya tidak memiliki visi dan keinginan yang sama dengan Gubernur. Para kepala Sekolah dan guru masih tak rela anak didiknya digratiskan. Para dokter dan para medis masih belum mau mengurusi orang miskin yang sakin dan tak mau bayar. (Taswin/Kirman)

Pasca Ditinggalkan Alex Noerdin – Eddy Yusuf ; MUBA DITANGAN FAHRI, OKU DIKAKI YULIUS

Nasib dua kabupaten pasca ditinggalkan Bupatinya yang terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Sumsel, yaitu kabupaten Musi Banyuasin (Muba) dan kabupaten Ogan Komering Ulu kini ibarat merana, kesepian. Nyaris tak terdengar lagi gebrakan-gebrakan baru serta terobosan jitu dalam mensejahterakan rakyatnya yang dilakukan Bupati penerusnya. Dua kabupaten itu kini senyap, tak ada perbedaan apa-apa dengan kabupaten lainnya.

Tak nampak pembangunan bersekala besar yang digagas. Tak ada terobosan baru yang jitu. Semua hanya sekedar menjalankan tugas sehari-hari seperti biasa saja.
Bahkan saking karena santainya, penerimaan daerah pasca ditinggalkan Bupati lama, kini jumlahnya merosot tajam. Usaha keras untuk menggaet dana pusat ke daerah ini nyaris tak nampak lagi.
Inilah kondisi sesungguhnya kabupaten Muba ditangan Bupati Fahri Azhari dan kabupaten OKU ditangan Bupati Yulius Nawawi, dua mantan Wakil Bupati yang mendapat durian runtuh menjadi Bupati.

Muba di Tangan Fahri
Kabupaten Muba saat ini tak terdengar lagi gemanya. Dulu dimasa Alex Noerdin, kabupaten ini demikian menonjol. Pembangunan berbagai fasilitas luar biasa semarak. Terobosan bagi kesejahteraan rakyat banyak lahir dari kabupaten ini. Sekolah gratis, berobat gratis menjadi acuan tingkat nasional.
Upaya menggaet investor juga dilakukan Alex habis-habisan. Besarnya Sumber daya alam yang dimiliki dimanfaatkan dengan sempurna. Maka jadilah kabupaten itu dengan penghasilan terbesar dengan nilai APBD yang sangat fantastis. Nama Sekayu, ibukota Muba, jadi terkenal di tingkat nasional. Para pejabat dan tokoh nasional berbondong-bondong ke kota itu untuk menyaksikan sendiri kemajuan daerah yang dimasa orde baru sebagai kabupaten tertinggal itu.
Segala fasilitas dibangun dengan megah. Fasilitas olah raga bertaraf internasional banyak berdiri disana. Guru, pelatih dan instruktur luar, baik asing maupun nasional sengaja didatangkan untuk mendidik putera daerahnya. Berbagai macam pernghargaan dan prestasi mampu diraih dengan gemilang. Kabupaten Muba menjadi kebanggaan di tangan Alex Noerdin.
Namun semenjak ditinggal Alex Noerdin, Muba ibarat kehilangan sukmanya. Sepi dan tidak lagi menonjol dari yang lain. Semua biasa-biasa saja. Nama Sekayu kini jarang lagi disebut. Para pejabat pusat tak antusias lagi berdatangan kesana. Pembangunan yang ada hanya sekedar melanjutkan dari yang sudah ada.
Kini kabupaten Muba telah ada di tangan Fahri Azhari. Sebagai penerus estafet kepemimpinan di Muba, Fahri nampaknya saat ini masih sedang sibuk meramu program-program jitu untuk membangun daerahnya. Di tangan Fahri-lah nasib kabupaten ini dalam sisa waktu 3 tahun lagi.
Fahri mesti piawai memainkan tangannya agar kabupaten ini bisa tetap maju dan terdepan. Muba justru harus jauh lebih maju dibandingkan masa Alex Noerdin dahulu. Fahri harus mampu membuktikan bahwa dirinya bukanlah sekedar Pengikut dibelakang Alex Noerdin saja, melainkan iapun setara dengannya.
Terlebih jika Fahri punya niat untuk bisa memperpanjang jabatannya kembali di periode berikutnya. Jika ia hanya mampu jadi sekedar penerus Alex belaka, maka akan sangat sulit baginya untuk bisa terpilih lagi. Namun ia harus mampu menunjukkan bahwa dirinya lebih baik atau setidaknya sama dengan kemampuan Alex Noerdin.

Kabupaten OKU di Kaki Yulius Nawawi
Hal yang tak berbeda dengan Muba juga terjadi di kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Pasca ditinggalkan Bupati Eddy Yusuf yang hijrah menjadi Wagub Sumsel, kabupaten ini seperti kehilangan semangat. Suasana hiruk pikuk pembangunan tidak nampak lagi. Yang ada hanya rutinitas biasa saja.
Di masa kepemimpinan singkat Bupati Eddy Yusuf dulu, kabupaten OKU ibarat pembalap yang melesat jauh didepan. Pembangunan bermunculan dimana-mana. Mulai dari fasilitas sosial, pendidikan, kesehatan, sarana umum, olah raga hingga fasilitas keagamaan ia dirikan dengan megah. Dalam masa 2 tahun anggaran saja kabupaten ini telah disulap menjadi kabupaten yang maju dan terdepan. Padahal sumber keuangan daerah ini jauh lebih rendah dibanding Muba atau Muara Enim. Namun pembangunannya luar biasa semarak.
Kedekatan Eddy Yusuf dengan warga OKU nyaris tak berbatas. Ia tak segan untuk berkumpul bersama mereka tanpa membedakan status sosial. Eddy Yusuf banyak mendapatkan inspirasi membangun daerah justru dari suasana-suasana seperti itu. Ia jadi benar-benar mengetahui permasalahan yang dirasakan rakyatnya. Ia juga tidak terbiasa menerima laporan stafnya yang Asal Bapak Senang. Ia suka terjun langsung untuk melihat kondisi rakyatnya yang sesungguhnya.
Kini kabupaten OKU jauh berbeda. Tak banyak lagi geliat pembangunan disini. Kedekatan Bupati Yulius Nawawi dengan warga OKU pun sangat kurang. Ia nampak tidak terbiasa lagi berbaur dengan masyarakat kelas bawah sebagaimana yang selalu dilakukan Bupati pendahulunya.
Kondisi di lingkungan Pemkab OKU juga sangat jauh berbeda. Kantor besar itu nampak sepi karena banyak PNS yang suka kucing-kucingan dengan Bupatinya. Jika Bupati Yulius Nawawi ada di kantor, karyawan Pemdanya masih bertahan untuk tetap berada di kantor. Tetapi manakala Yulius keluar kantor, maka PNS bawahannya cepat-cepat sibuk dengan urusan pribadinya di luaran. Akibatnya kantor itu sering kosong tak berpenghuni.
Aktivitas pembangunan juga tak nampak semarak lagi. Beberapa proyek besar yang masih berjalan hanyalah program Bupati Eddy Yusuf yang belum kelar. Sedangkan proyek besar yang murni hasil pemikiran Yulius, belum kelihatan sama-sekali.
Justru yang kerap jadi pembicaraan para karyawan dan masyarakat di OKU adalah munculnya beberapa nama kroni Yulius Nawawi yang banyak merongrong proyek-proyek disana. Mereka adalah Anak, ponakan dan keluarga Yulius Nawawi yang mendadak jadi kontraktor ngetop. Beberapa perusahaan baru dibuat untuk mengeruk proyek-proyek disana.
Yulius Nawawi sendiri masih tampak santai dan menikmati kursi empuknya. Ia belum memerankan kakinya untuk membuat terobosan-terobosan jitu untuk menciptakan gol-gol baru yang bermutu bagi rakyatnya. Ibarat pemain bola, Yulius Nawawi kini telah berdiri tegak dan menguasai bola sepenuhnya. Saat ini bola kabupaten OKU itu telah ada di kaki Yulius Nawawi. Mau ia tendang kemana, atau mau menciptakan gol berapa, terserah dirinya.
Sisa waktu 2 tahun lagi adalah waktu yang cukup bagi Yulius untuk membuktikan jika dirinya juga Bupati yang tepat memimpin OKU. Yulius harus menunjukkan kemampuan dirinya agar warga OKU meyakini jika dirinya lebih baik dari Bupati-Bupati sebelumnya. Namun jika ia tetap tenang menikmati jabatannya tanpa membuat terobosan baru, maka jangan harap ia akan dicintai rakyatnya. Jika demikian, bersiaplah untuk tidak coba-coba ikut pencalonan Bupati pada tahun 2010 mendatang. Karena rakyat tak akan rela memilih pemimpin yang salah untuk kedua kalinya.
Selamat berjuang.

SELAMAT DATANG HERRY AMALINDO !

Sumatera Selatan adalah propinsi yang memiliki ruas jalan yang sangat panjang dan vital, selain itu banyak juga jembatan yang telah berusia tua. Perlu keseriusan untuk menangani permasalahan ini agar tidak terus berlarut.

Dinas PU Bina marga Sumsel adalah instansi yang bertanggung jawab dalam mengelola pembangunan dan pemeliharaan ruas-ruas jalanndan jembatan disini. Namun selama ini kinerja lembaga tersebut masih belum optimal. Disana-sini masih banyak kita temukan jalan yang rusak dan berlubang. Kasus jembatan ambruk juga kerap kita dengar dalam beberapa tahun terakhir.
Pengangkatan Herry Amalindo menjadi Kepala Dinas PU Bina Marga Sumsel merupakan angin segar atas besarnya harapan adanya perbaikan kinerja PU Bina Marga Sumsel sehingga pembangunan, pemeliharaan dan perawatan ruas jalan yang ada di Sumsel benar-benar maksimal. Tak ada lagi kondisi jalan yang parah dan sulit dilalui kendaraan. Tak perlu terjadi lagi diskriminasi pembangunan jalan yang mengakibatkan adanya jalan yang sama sekali tak tersentuh perbaikan.
Proyek-proyek pembangunan jalan yang selama ini hanya dijadikan ladang untuk mengeruk keuntungan pribadi, diharapkan tidak terjadi lagi.
Herry Amalindo memang sosok yang sangat tepat untuk menduduki jabatan yang strategis tersebut. Ia punya pengalaman bagus selama menjabat Kepala Dinas PU Bina Marga Muba di Sekayu. Kinerjanya yang serba cepat menjadikan ia sebagai pejabat yang diandalkan Gubernur Alex Noerdin untuk mengurusi masalah jalan dan jembatan di sumsel yang selama ini tidak pernah tuntas.
Ada satu hal yang sangat disayangkan terjadi dan menimpa Kepala Dinas yang terbilang masih muda ini. Di hari pelantikannya, yang mestinya menjadi hari istimewa dalam hidupnya, ternyata ia mesti menerima perlakuan pahit dan menyakitkan. Ia dipukul oleh seorang stafnya tanpa tahu pasti apa alasannya.
Seharusnya, hari pelantikan adalah yang berkesan dan menyenangkan bagi seorang pegawai negeri. Dengan pelantikan berarti kenaikan pangkat dan jabatan yang sekaligus juga kenaikan penghasilan. Yang lebih membanggakan lagi, karena pelantikan identik dengan kepercayaan dari atasan terhadap kinerja seorang PNS, maka pelantikan biasanya menjadi peristiwa yang luar biasa. Ucapan selamat dan jabat tangan mengalir dari keluarga, sahabat dan para kolega.
Namun hal itu tak dirasakan sepenuhnya oleh Ir.Hery Amalindo, mantan Kepala Dinas PU Musibanyuasin yang diboyong Gubernur Alex Noerdin dari Sekayu ke pemprop Sumsel untuk mengisi jabatan Kepala Dinas PU Bina Marga Sumsel menggantikan Ir.Eddy Hermanto. Padahal Eddy Hermanto pun baru beberapa bulan menggantikan Dharna Dahlan yang menghabiskan “hidupnya” di Dinas yang paling “basah” ini menjadi “Mesin Pencari Uang” Syahrial Oesman.
Justru peristiwa pahit yang menyakitkan yang diterima Hery Amalindo sebagai ucapan Selamat Datang di Pemprop Sumsel terutama di Bina Marga Propinsi. Ucapan selamat dimaksud bukanlah kiriman karangan bunga atau kartu ucapan selamat, melainkan sebuah pukulan telak dan keras diwajah Hery dari seorang PNS yang bakal menjadi “anak buahnya” di PU Bina Marga Sumsel.
Tak urung, pukulan Ir.Sulkani,MSC, staf Dinas PU Bina Marga tersebut, membuat bibir Kepala Dinas baru itu sedikit pecah berdarah. Hery pun sempat terjengkang ke dinding ketika pukulan satu kali itu mendarat.
Pemukulan yang terjadi seusai keduanya menghadap Wagub Sumsel itu merupakan peristiwa yang tak mungkin terlupakan dalam ingatan Kepala Dinas itu. Hery pun memilih memenjarakan Sulkani ke Polda Sumsel karena merasa belum puas terhadap tindakan Sulkani, walaupun usai pemukulan itu Sulkani pun sempat beberapa kali kena pukulan keras Rudi, ajudan Hery Amalindo yang saat itu ikut bersama bosnya.
Kini Hery telah mencabut tuntutannya dan memilih berdamai. Ini diduga tak lepas dari peran Alex Noerdin yang meminta agar masalah itu tak perlu diperpanjang lagi dan segera diselesaikan secara baik-naik.
Permasalahan pemukulan yang terjadi di ruang staf Wagub ini sebenarnya tak ada hubungan sama sekali dengan Wagub. Keduanya sama-sama PNS di Bina Marga Sumsel yang baru usai menghadap. Hanya kejadiannya saja yang kebetulan terjadi disitu.
Sedangkan pemicu terjadinya kasus tersebut adalah hanya sekedar kesalahpahaman saja.
Hery Amalindo maupun Sulkani adalah sama-sama PNS yang dimasa menjelang Pilkada keduanya sama-sama ikut berjuang memenangkan Alex Noerdin menjadi Gubernur Sumsel. Walaupun berada di Sekayu, Hery adalah salah satu Tokoh Utama dibalik kemenangan Alex Noerdin. Ia bertanggungjawab untuk wilayah kota Palembang.
Sedangkan Sulkani juga termasuk seorang PNS Dinas PU Bina Marga Sumsel yang memilih “melawan arus” mendukung Alex Noerdin dalam Pilkada.
Tak mudah bagi Sulkani memilih sikap tersebut. Resiko tak dapat jabatan pun ia telan sendiri sebagai seorang pembangkang terhadap atasan yang berbeda pilihan politik.
Dinas PU Bina Marga Sumsel di masa Gubernur Syahrial Oesman dijadikan barisan kekuatan pendukung utama untuk kemenangan SOHE. Sama seperti dinas-dinas lainnya waktu itu, semua pejabat dan pegawainya satu kata mendukung dan berjuang untuk memenangkan SOHE. Sedangkan bagi yang berani menentang harus siap untuk tak dapat Job alias bangku panjang.
Di Dinas PU Bina Marga saat itu, orang yang berani menentang arus tidaklah banyak, cuma sekitar 3 orang saja, dan salah satunya adalah Sulkani. Ia memilih bergabung dengan tim Alex Noerdin berjuang semampu dia.
Ketika Alex Noerdin – Eddy Yusuf terpilih dan dinyatakan sebagai pemenang Pilkada, jasa Sulkani digunakan Eddy Yusuf, Wagub terpilih, sebagai orang penghubung antara Eddy Yusuf dengan Alex Noerdin. Selain itu, sebagai PNS yang bekerja di lingkungan pemprop Sumsel, Sulkani tahu betul siapa saja PNS yang sama-sama ikut berjuang untuk Alex dan siapa yang berpihak ke lawan. Sulkani juga banyak memberi masukan tentang kondisi pemprop Sumsel yang telah lama ditinggalkan Alex Noerdin dan Eddy Yusuf.
Kapasitas Sulkani sendiri masih tergolong PNS biasa. Ia termasuk pejabat Eselon III, dan sebelumnya ia pernah menjabat Kabag disana.
Sedangkan Hery Amalindo sendiri walaupun masih tergolong muda, ia termasuk pejabat Eselon II yang sudah tepat menempati jabatan Kepala Dinas. Jadi isu yang menyebutkan pemukulan itu karena rebutan jabatan tidaklah benar, sebab bagaimanapun Sulkani tidak pernah berfikir ke jabatan itu. Sulkani jelas sangat setuju jika yang jadi Kepala Dinasnya adalah Herry Amalindo.
Menurut Sulkani, ia sudah lama kenal Herry Amalindo. bahkan saat berangkat haji beberapa tahun lalu ia sempat tinggal dalam satu kamar pemondokan di Arab Saudi. Sedangkan masalah usia, Sulkani jelas lebih tua dibanding Herry.
Di lingkungan Dinas PU Bina Marga sumsel, nama Sulkani sudah sangat dikenal. Bahkan dikalangan wartawan yang suka meliput di Bina marga, Sulkani dikenal sebagai orang yang supel, loyal dan mudah bergaul dengan siapa saja. Maka ketika ada informasi ia ditahan Polda karena dugaan pemukulan terhadap Kepala Dinasnya, banyak pihak yang kurang percaya.
Harapan Sulkani dengan kemenangan Alex adalah semoga orang-orang yang dulu ikut berjuang mendukung Alex dapat memperoleh tempat yang tepat. Ia ingin 3 orang PNS di Bina Marga yang sama-sama berjuang bisa diajak-ajak. Namun ketika pelantikan Kepala Dinas dan Eselon III, justru tak satupun pihaknya yang masuk, melainkan orang-orang lama yang notabene adalah “orang-orang berlumur dosa” karena mereka murni pendukung SOHE. Karena itulah Sulkani menanyakannya kepada Herry Amalindo.
Sayang, sikap emosional tak bisa dikendalikan Sulkani saat menerima ucapan Herry yang agak arogan, sehingga pemukulan itu terjadi.

Selamat Datang
Terlepas dari kasus pemukulan itu, kejadian ini menjadi cermin yang sesungguhnya tentang Dinas PU Bina Marga Sumsel yang akan menjadi tantangan bagi Herry Amalindo dalam memimpin kedepan.
Dinas PU Bina Marga selama ini dijadikan Gubernur sebagai dapur Gubernur Syahrial Oesman. Proyek-proyek pembangunan yang dikelola disana nilainya sampai ratusan milyar rupiah dan menghasilkan keuntungan besar bagi Gubernur. Dinas PU Bina Marga dikenal sebagai dinas yang paling “basah”.
Karena banyaknya uang disana maka berbagai pihakpun banyak yang coba-coba ikut “bermain”. Preman-preman Palembang telah menjadikan dinas ini sebagai sumber penghasilan tetap mereka. Proyek-proyek dikucurkan selalu tidak terlepas dari keberadaan preman dibelakangnya. Mereka memang telah lama “dipelihara” disana untuk “mengamankan” proyek-proyek yang umumnya bermasalah.
Tekad Alex Noerdin membersihkan lingkungan kerjanya dari preman memang sudah tak bisa ditawar-tawar lagi, dan Dinas PU Bina Marga adalah salah satu yang jadi sasarannya.
Herry Amalindo yang ditugaskan mengurus Dinas tersebut jelas harus memiliki keberanian extra untuk mengatasi masalah tersebut.
Herry Amalindo memang masih terbilang “buta” dengan lingkungannya yang baru ini. Riwayat karir PNS nya, Herry tidak pernah bertugas di Dinas PU Bina Marga Sumsel. Ia murni di Musi Banyuasin. Oleh karena itu ia tidak banyak mengetahui siapa saja orang yang tepat untuk diajak bergabung di dalam timnya. Ia juga tidak mengerti persoalan apa saja yang terjadi dilingkungan ini.
Menurut informasi seorang sumber, penempatan pejabat eselon III pada jabatan strategis di Bina Marga tidak lepas dari peran Darwin, mantan Kepala UPTD Sekayu. Dialah yang diduga memberikan banyak masukan kepada Herry tentang kondisi Bina Marga.
Masih menurut sumber, Darwin sendiri adalah murni pendukung SOHE, sama dengan pejabat sekelas dia lainnya di Bina Marga sumsel.
Cuma di masa Gubernur Mahyudin, ia dimutasi menjadi Kepala UPTD PU di Sekayu. Disanalah ia melakukan pendekatan ke Alex Noerdin.
“Tapi itu baru sekitar 3 bulan sebelum Pilkada”, ujar sumber yang tak bersedia disebut namanya.
Kendati merapat ke Alex Noerdin, sesungguhnya masih tetap pendukung SOHE.
“Ia itu dua kaki, siapa yang menang pasti ikut”, ujar sumber yang mengaku sangat tahu hal itu.
Ketika Alex menang ia langsung terang-terangan mendukung dan menyatakan bahwa ia adalah pendukung Alex yang berjuang dan pernah terbuang ke Sekayu karena perjuangannya.
“Dialah yang memberi masukan pada Hery Amalindo dan Alex Noerdin tentang Dinas PU Bina Marga Sumsel”, tambah sumber tadi.
Ada juga isu yang berkembang jika penempatan para pejabat di lingkungan Dinas PU Bina Marga ini tak lepas dari adanya “politik uang”. Sebuah jabatan, katanya, ada standar harga rupiah yang harus dipenuhi, agar bisa duduk.

Pengamanan Berlebihan
Semenjak resmi menjabat Kepala Dinas PU Bina Marga Sumsel, Herry Amalindo langsung bekerja dan menggelar rapat internal dengan seluruh kasubdin dan pimpro. Nampaknya Herry tidak mau santai-santai mengemban amanah yang dipercayakan Gubernur kepadanya.
Pengalaman mendapat pemukulan saat usai pelantikan lalu menyebabkan ia bersikap hati-hati dan protektif. Untuk pengamanan kantornya ia menempatkan 3 orang pengawal yang berlatar belakang militer. Padahal hal ini tidak dibenarkan aturan. Militer tidak diperbolehkan lagi dilibatkan dalam pengamanan pribadi warga sipil.
Untuk bertemu dengan Kepala Dinas saat ini, tamu akan berurusan dulu dengan ketiga pengawal tersebut yang akan menanyakan apa keperluannya. Jika sekedar silaturahmi, jangan harap bisa masuk. tapi entah jika ternyata kontraktor yang akan bersilaturahmi.
Kini Herry Amalindo telah dilantik dan semestinya semua pihak mendukung sepenuhnya. Kemampuan Herry dibidang ini tidak perlu diragukan lagi. Ia memang sangat tepat memimpin instansi ini. Ruas jalan Sumsel yang sangat banyak memerlukan perhatian ekstra keras, dan Herry memiliki keahlian itu.
Namun, Bina Marga Sumsel tetap saja berbeda dengan Dinas PU Muba. Masalah yang dihadapi pun jelas beda dan lebih komplek. Buktinya, baru disinilah Herry mengalami peristiwa yang sangat menyakitkan itu: Pemukulan!
Herry disamping harus mampu menunjukan kemampuan profesionalnya, ia juga dituntut untuk lebih bersikap arif dan bijaksana. Bekerja bersama orang-orang yang pernah menjadi “musuh” memang agak sulit dan kurang nyaman. Namun itulah kenyataan yang harus ia taklukan.
Herry pasti bisa ! Selamat!

Dermaga Gasing Jadi Tempat Bongkar Muat kayu Illegal

Kayu Ilegal sedang dimuat ke dalam truk di dermaga gasing

Kayu Ilegal sedang dimuat ke dalam truk di dermaga gasing

Adanya akses jalan menuju pelabuhan tanjung api-api, kendati belum seluruhnya rampung, namun kini keberadaannya telah dimanfaatkan masyarakat. Selain masyarakat sekitar yang terbantu dengan keberadaan infrastruktur jalan tersebut, ternyata juga membangkitkan kegairahan bagi dunia usaha. Sayang pemanfaatan sarana jalan tersebut tidak dibarengi dengan rasa tanggung jawab untuk merawatnya. Akibatnya tak sedikit kondisi badan jalan yang kembali rusak akibat beban kendaraan dan tonase muatan yang berlebihan.

Keberadaan Dermaga Gasing juga ikut memperparah kondisi jalan yang dibangun hingga ratusan milyar tersebut. Setiap hari puluhan truk bermuatan ratusan kayu hasil olahan masuk melalui pelabuhan yang dikelola Dinas Perhubungan Kabupaten Banyuasin ini. Akibatnya kondisi terminal dan jalan akses menuju dermaga menjadi rusak.
Yang lebih memprihatinkan lagi, kayu-kayu yang datang dengan kapal-kapal kayu ini diduga berasal dari kawasan ilegal loging. Kapal tersebut bersandar di dermaga lalu membongkar muatannya untuk dipindah ke truk-truk yang telah antri.

Selama ini memang distribusi kayu ilegal dari Sumsel menuju Jakarta hanya bisa dilaksanakan melalui jalur laut. Apalagi umumnya keberadaan pabrik-pabrik kayu (sawmil) yang mengolah kayu hasil penebangan liar ini berada di daerah perairan. Dengan adanya Dermaga Gasing serta akses jalan yang dekat menyebabkan para pengusaha kayu ilegal ini berani memilih jalur darat.

Untuk bisa memanfaatkan fasilitas dermaga bagi kegiatan bongkar muat kayu-kayu olahan hasil penebangan liar sebenarnya bukan hasil proses yang mudah. Apalagi dermaga gasing cukup dekat dengan kota Palembang sehingga tak bisa luput dari pengawasan aparat. Namun karena loby yang kuat dan konsfirasi dengan aparat tersebut akhirnya para cukong kayu itu bisa dengan leluasa memanfaatkan fasilitas negara untuk keuntungan pribadi

Keberadaan oknum aparat dari TNI dan Polri menjadi indikasi kuat jika kegiatan ilegal ini dibekingi mereka. “Dalam satu hari tak kurang dari 180 kubik kayu olahan ilegal yang diangkut truk dari dermaga gasing ini”, ujar Ibrahim seorang aktivis LSM yang hampir satu bulan ini terus memantau kegiatan ilegal yang telah menjadi pendukung kerusakan hutan di propinsi ini.

Menurut sumber, pengusaha yang membabat hutan di Sumsel dan seenaknya memanfaatkan dermaga gasing ini diantaranya bernama Kanang, Paulus Ten, dan seorang pengusaha keturunan China lainnya. Mereka memang para ‘pemain’ lama yang malang melintang dalam bisnis kayu ilegal di Sumsel.

Hasil pemantauan wartawan di lokasi, sabtu (21/2) ada dua kapal pengangkut kayu sedang melakukan aktivitas bongkar muat. Para buruh angkut sedang sibuk memindahkan muatan ke dalam truk yang terparkir di terminal barang.

Ketika wartawan mencoba mengambil foto aktivitas bongkar muat, seseorang yang diduga oknum aparat yang jadi bekingnya berusaha melarang dengan kasar.

Seorang yang mengaku bernama Jum menjelaskan jika kayu tersebut milik kanang yang baru bongkar. Sedangkan satu kapal lainnya yang telah kosong muatan adalah milik Paulus yang telah bongkar beberapa jam yang lalu.

Gubernur Sumsel : “Rumah Sakit Membludak, Jangan Resah !”

Alex Noerdin dan Eddy Yusuf saat diwawancarai wartawan.

Alex Noerdin dan Eddy Yusuf saat diwawancarai wartawan.

Program berobat gratis yang telah dicanangkan sejak 27 januari 2009 lalu ternyata mendapat respon yang luar biasa dari masyarakat sumsel. Hal tersebut sebagaimana terlihat dari berjubelnya warga yang hendak berobat di puskesmas-puskesmas dan rumah sakit di seluruh propinsi ini. Bahkan kamar tempat menampung pasien berobat gratis selalu penuh tidak mampu menampung lagi.

menanggapi hal tersebut Gubernur Sumsel H.Alex Noerdin tidak tinggal diam, ia langsung mengumpulkan staf-stafnya yang langsung berhubungan dengan pelaksanaan program berobat gratis tersebut. Dinas kesehatan sumsel sebagai penanggung jawab teknis dimotivasi agar jangan merasa gerah dan capek karena program tersebut adalah program kebanggaan nasional yang menjadi contoh di Indonesia.

“Berjubelnya rumah sakit dan puskesmas membuktikan bahwa selama ini banyak rakyat yang sakit tapi tidak mampu berobat, bukan tidak mau berobat karena mereka tidak punya uang”, ungkap Gubernur menegaskan saat memberikan pengarahan kepada jajaran Dinas Kesehatan Sumsel yang sengaja dikumpulkan di Auditorium Pemprop Sumsel,  rabu (11/02) lalu.

Alex Noerdin sangat yakin jika program berobat gratis akan berhasil, hal ini disebabkan program itu telah direncanakan secara matang dan pengalaman selama 6 tahun diterapkan di Muba. Walau Alex mengakui di tahun pertama ini akan banyak kendala yang mesti dihadapi.

“Misalnya ada bupati atau walikota yang masih setengah-setengah dalam mendukung program ini”, ungkap Alex.

Di daerah perbatasan dengan Lampung, jambi dan Bengkulu, kita mendengar banyak warga luar yang mau masuk ke sumsel atau banyak warga luar berniat membuat KTP Sumsel karena ingin memperoleh fasilitas berobat gratis. “Itu kita anggap biasa saja, yang penting kita tetap maju terus dan jangan terpengaruh oleh rintangan apapun”, tambah Gubernur.

Yang harus dilakukan, lanjut Gubernur, turunkan tim sekarang juga untuk memantau pelaksanaan program berobat gratis hingga ke pelosok-pelosok terpencil di 15 kabupaten kota. “Tidak perlu menunggu waktu 3 bulan’, ujar Gubernur lagi.

Alex Noerdin mengingatkan, saat ini dinas Kesehatan sedang diuji, selama ini kita biasa bekerja dengan paradigma lama. namun sekarang kita bekerja dituntut dengan tantangan yang harus berhasil.

“Semua semata-mata untuk rakyat, niatkan lilahitaala saja, Insya Allah akan mendapat pahala”, tambah Alex lagi.

Dengan pelaksanaan berobat gratis, kini Sumsel akan segera menjadi propinsi terdepan di indonesia. bahkan propinsi-propinsi lain saat ini banyak bertanya bagaimana caranya ingin menerapkan program ini di daerahnya.

“Kita juga akan segera bangun fasilitas-fasilitas baru dinas kesehatan, puskesmas-puskesmas hingga rumah sakit bertaraf internasional yang sengaja disediakan gratis bagi masyarakat yang tidak mampu”, tabah gubernur tersebut.

4 Pejabat bangku panjang

Hari ini 4 orang pejabat eselon II di lingkungan pemprop Sumsel mendapat jatah meja panjang alias diganti. masing masing Johan Syafri mantan kepala Dinas Koperasi, Hendriadi mantan kepala Dinas Kehutanan, Samuel Chatib mantan Kepala Dinas Perkebunan dan Azwar Oemar mantan Staf Ahli Gubernur.

Sedangkan pejabat yang mendapat jabatan baru adalah Abdul Shobur mantan Asisten I menjadi Kepala Dinas Koperasi UKM, Ir. Sigit Wibowo menjadi Kepala Dinas Kehutanan, Ir. Singgih Himawan Kepala Dinas Perkebunan, Mukti Sulaiman menjadi Asisten I Bidang pemerintahan dan H>Duta Imar Nasution menjadi Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi dan Keuangan.

KSPSI Tuntut Pemberlakuan Upah Minimum Sektoral

Para buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) menuntut kepada pemerintah sumatera selatan untuk memberlakukan kenaikan Upah Minimum Sektoral sesuai UU no.13 Tahun 2008 yang nilainya minimum 5 persen dari nilai Upah Minimum propinsi (UMP). Besarnya kenaikan UMP Sumsel saat ini mencapai 11 persen. Jadi jika Upah Minimum Sektoral diberlakukan maka upah yang akan diterima buruh di sumsel akan naik sedikitnya 16 persen.

Hal ini sebagaimana disampaikan Ketua DPD-KSPSI Sumsel, Edy Tulangow, saat melakukan silaturahmi dengan Wakil gubernur Sumsel, H.Eddy yusuf di ruang kerja Wagub, rabu (11/02) lalu.

Menurut Edy Tulangow, sejak dulu setiap tahunnya upah minimum sektoral selalu ditetapkan berbarengan dengan penetapan UMP, namun pada tahun 2009 ini pemerintah propinsi tidak menetapkan besarnya kenaikan upah minimun sektoral, hanya UMP saja. Padahal berdasarkan UU, besaran kenaikan upah minimum sektoral sedikitnya 5 persen diatas UMP.

Penetapan besarnya upah ditentukan berdasarkan kesepakatan antara buruh dan perusahaan dengan mengacu pada putusan gubernur. Namun karena gubernur tidak memutuskan besaran minimum upah sektoral tersebut maka hingga saat ini perusahaan-perusahaan tidak mau mengeluarkan upah yang menjadi hak buruh.

Selain itu pihak KSPSI juga mengusulkan kepada gubernur agar menambah tenaga pengawas yang saat ini jumlahnya sangat sedikit, sedangkan luas wilayah cakupan yang harus diawasi sangat luas.

Wakil gubernur Eddy Yusuf menanggapi positif tuntutan KSPSI tentang Upah Minimum Sektoral tersebut, ia berjanji akan membahas terlebih dahulu hal-hal dimaksud. Selain itu wagub juga mengharapkan agar pihak KSPSI sebagai wadah para buruh dapat bersabar dan menahan diri, tidak mudah terpancing untuk melakukan aksi-aksi demo yang bisa membuat suasana kurang kondusif.

Sedangkan mengenai usulan penambahan tenaga pengawas, Wagub juga menganggap hal itu memang tepat. Jumlah tenaga pengawas harus ditambah, dan gubernur sudah membuat SK pengangkatan tersebut dan kini sepenuhnya diurus oleh Dinas Koperasi dan Tenaga kerja.

Yang  paling penting sebenarnya bukanlah banyak tidaknya tenaga pengawas, melainkan tenaga pengawas yang dibutuhkan adalah orang yang mengerti betul tugas pengawas serta bisa bersikap tegas.

“Pengawas sebenarnya tidak perlu banyak, tapi mesti paham dan berani mengambil keputusan tegas bagi yang melanggar”, ungkap Wagub menegaskan.

Wagub juga mengingatkan, saat ini mengurusi orang yang sudah bekerja saja sangat pusing, apalagi mengurusi orang yang belum bekerja, pengangguran. Saat ini korban-korban PHK yang sangat banyak akan menjadi persoalan baru yang harus diantisipasi sebelumnya. Oleh karena itu KSPSI sebagai organisasi buruh dapat memediatori antara tenaga kerja dengan pemerintah.

Yang sedang menjadi perhatian pemerintah saat ini salah satunya berupaya mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran.

“Perusahaan harus kondusif dan tetap berupaya untuk tetap hidup dan tidak ada PHK. Buruh juga harus bisa memahami permasalahan perusahaan, jangan terus menuntut hak-haknya semata”, ungkap Wagub.

MAN 3 Palembang Akan Ikut Lomba Sekolah Sehat Tingkat Nasional

Prestasi dibidang pendidikan ternyata tidak hanya menjadi milik sekolah-sekolah umum atau sekolah swasta saja. Madrasah pun kini mulai menunjukkan prestasinya untuk bersaing menjadi sekolah yang berprestasi. Madrasah Aliyah Negeri 3 (MAN 3) Palembang telah berhasil membuktikan hal itu. Berbagai prestasi telah berhasil diraihnya hingga tingkat nasional.

MAN 3 Palembang Audensi

MAN 3 Palembang Audensi

Setelah terpilih menjadi Juara harapan II sekolah berprestasi tingkat nasional tahun 2008 lalu, kini MAN 3 Palembang sedang bersiap menghadapi lomba Sekolah Sehat Tingkat Nasional sebagai satu-satunya sekolah SLTA yang mewakili Sumsel. Untuk itu saat ini segala upaya sedang dilakukan agar pada lomba tersebut MAN 3 mampu membuktikan jika sekolah yang terletak di kelurahan Lorok pakjo palembang ini adalah sekolah terbaik dan tersehat di Indonesia.

Hal ini yang dilaporkan Kepala Sekolah MAN 3 Palembang, Zainuri, saat melakukan audensi dengan Wakil Gubernur Sumsel Eddy Yusuf, Selasa (10/2) lalu. Turut mendampingi audensi tersebut Kepala kanwil Depag Sumsel, Drs.Mal’an Abdullah, Syarnubi Syam Ketua Pusat pengembangan Madrasah Sumsel dan beberapa pengurus Komite dan Guru MAN 3 Palembang.

Menurut Kepsek, MAN 3 saat ini juga memiliki kelas dengan sistem bilungual yang menerapkan 2 bahasa dalam kegiatan belajar mengajar sehari hari, masing-masing bahasa inggris dan bahasa Arab. Di MAN 3 juga terdapat program kelas Akselerasi atau percepatan yang memungkinkan siswanya dapat menyelesaikan pendidikan di MAN 3 dalam 2 tahun saja.

“Tenaga pengajar juga dibantu oleh beberapa tenaga asing yang berasal dari Amerika, Korea dan Mesir”, ujar Zainuri.

Gubernur Sumsel, Eddy Yusuf, menilai bahwa MAN 3 Palembang merupakan contoh sekolah madrasah berprestasi yang pantas ditiru sekolah-sekolah lainnya. Sedangkan dalam rangka menghadapi Lomba Sekolah sehat tingkat nasional yang akan berlangsung pada bulan maret mendatang, Wagub meminta semua pihak mau bersama-sama mendukungnya sehingga MAN 3 bisa berhasil sebagai pemenangnya.

“Tidak bisa tidak, jika sudah ikut ya harus jadi juara, untuk itu kita semua harus keroyokan membantu MAN 3 mempersiapkan segala fasilitas yang dibutuhkan agar bisa menang”, ungkap Wagub kepada rombongan.

Masalah fasilitas asrama yang dinilai masih kurang, Wagub menyarankan agar pihak sekolah mengajukan usulan dengan rekomendasi Kanwil Depag untuk pembangunannya. “Coba koordinasikan dengan Dinas pendidikan, Dinas PU Cipta Karya, Dinas Kesehatan dan pihak-pihak lainnya agar sama-sama mendukung MAN 3 agar menang”, tambah Wagub.

“Hanya, yang menjadi kunci maju tidak suatu sekolah sepenuhnya ada ditangan kepala sekolah”, ujar Wagub menegaskan. Sekarang silahkan kepala sekolah lebih proaktif berkordinasi dengan pihak-pihak terkait.

Penggemar Bonsai Kumpul di Palembang

Wagub meninjau pameran bonsai

Wagub meninjau pameran bonsai

Ajang bergengsi bagi para penggemar tanaman bonsai di Indonesia kemarin secara resmi digelar di palembang dalam acara Festival Bonsai Nasional yang bertajuk Clean, Green dan Blue. Pameran dibuka wakil Gubernur Sumsel, H.Eddy Yusuf bertempat di Palembang Trade Center (PTC) Palembang.

Wagub bersama Wawako

Wagub bersama Wawako

Wah, maaf lagi nggak mood nulis ! Jadi beritanya nggak diterusin dulu….